Extra Part : Memilikimu

7.7K 299 21
                                    

"Sayang, nanti abii harus ke kantor. Ngurus beberapa berkas dari Danki yang abii tinggal waktu abii cuti kemaren. Kamu nggak apa-apa kalau misalnya belanja keperluan dapur sendiri?" tanya Danang, sambil menyeruput kopi yang baru saja Lidya sajikan di meja makan rumah dinas yang baru sehari mereka tempati. "Soalnya abii belum tahu, pulangnya jam berapa."

Danang dan Lidya sudah pindah ke rumah dinas sejak kemaren. Ada beberapa perabotan yang sudah terisi. Misalnya di dapur, tempat mereka berada sekarang, sudah ada set meja makan, lemari pendingin, kompor dan peralatan memasak yang pada umumnya berada di dapur. Sedangkan di ruang tengah, sudah ada lemari untuk meletakan televisi, namun mereka memang belum sempat membeli televisi karena keterbatasan waktu yang mereka miliki. Juga di ruang tamu, ada set sofa dan meja sederhana, dan lemari hias, tempat mereka meletakkan beberapa bingkai foto pernikahan mereka yang sudah mereka cetak.

"Nggak apa-apa, bii. Toh nanti ada Mas Ivan sama Mas Alif juga yang mau nemenin kok. Katanya mereka juga mau beli sesuatu gitu." jawab Lidya, sambil menyuguhkan sepiring nasi goreng ikan asin di hadapan Danang.

"Makasih, sayang." Danang menarik piring di hadapannya sambil tersenyum ke arah Lidya. "Jadi, Mas Ivan sama Mas Alif nanti mau ke sini buat jemput kamu?" tanyanya, setelah menelan makanan dalam mulutnya.

Lidya mengangguk sambil memperhatikan Danang yang lahap memakan menu sederhana buatannya. "Iya katanya, bii. Nggak tahu gimana nanti. Apa aku yang ke depan, atau nanti Mas Alif sama Mas Ivan yang masuk ke sini. Coba nanti aku tanya sama Mas Faiq aja. Soalnya tadi Mas Faiq yang bilang gitu."

Danang mengangguk mengerti. "Nanti kalau misalnya udah mau berangkat, kamu kabarin abii ya?"

Lidya mengangguk pelan. "Iya, bii."

"Kamu nggak sarapan, sayang?" tanya Danang, saat ia melihat Lidya hanya duduk di sampingnya dengan secangkir teh hangat di hadapannya.

Lidya menggelengkan kepalanya pelan. "Belum laper, bii. Abii aja sarapan dulu. Nanti aku abis beres-beres rumah."

Danang menggelengkan kepalanya setelah menelan makanan dalam mulutnya. "Nggak boleh gitu, sayang. Nanti kalau kamu sakit gimana? Abii nggak mau kamu nyelesaiin pekerjaan rumah tapi perut kamu kosong."

"Tapi, bii.."

Danang menggelengkan kepalanya, lalu mengulurkan sendok berisi nasi dan lauk ke arah Lidya. "Ayo buka mulutnya. Aaa.."

"Bii.." Lidya masih berusaha menolak.

"Buka mulutnya, sayang. Ayo."

Lidya pada akhirnya menerima suapan dari Danang itu.

Mereka pun menghabiskan menu sarapan itu dengan makan sepiring berdua.

"Sini biar aku cuci sekalian, bii." pinta Lidya, sambil mengulurkan tangannya meminta piring bekas mereka sarapan.

Danang justru menjauhkan piring itu dari jangkauan Lidya. "Nanti dulu."

Lidya mengerutkan keningnya. "Kenapa, bii?"

"Berdiri coba."

Lidya yang saat itu mengenakan kaos dan celana rumahan, kini menuruti permintaan Danang dengan patuh.

Danang bangkit berdiri, kemudian memeluk Lidya erat. "Rasanya nggak pengen ninggalin kamu kerja, sayang. Pengen berdua aja gitu. Walaupun cuma sekedar pelukan kayak gini."

Lidya terkekeh dalam pelukan Danang. "Ya terus kalau misalnya abii nggak kerja, kita gimana bisa makan, bii? Abii ada-ada aja."

"Ya gimana. Ini kan hari pertama abii kerja setelah kita nikah. Rasanya kayak ada yang ketinggalan kalau abii berangkat kerja."

Beautiful People #2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang