EMPAT

4.8K 281 15
                                    

Danang menghirup udara di sekelilingnya. Udara yang menurutnya begitu sejuk, karena memang ia dan Kayva kini berada di dataran tinggi. Suasana yang menurutnya sudah lama sekali tidak ia rasakan, semenjak Kayva menikah, juga semenjak ia di sibukkan dengan tanggungjawabnya di batalyon.

"Udah lama nggak refreshing. Ternyata rasanya enak, badan dan pikiran jadi bener-bener fresh." ujar Danang, sambil merentangkan kedua tangannya.

Kayva mendekati Danang yang berdiri di tepian bukit. Sambil bersidekap, ia menatap kakak sepupunya itu. "Ada yang mau mas omongin sama aku?"

Danang menatap Kayva seketika, kemudian tersenyum. "Kamu pasti udah nebak lah, dek, apa yang mau mas omongin sama kamu."

Kayva mengerutkan keningnya. "Mas udah nemuin cewek yang bikin mas nyaman?"

Danang mengangkat bahunya, lalu kembali menatap pemandangan di sekitarnya, objek wisata Candi Gedung Songo.

"Mas?" desak Kayva, karena Danang tak kunjung menjawab pertanyaannya.

Danang menatap Kayva lembut. "Mas juga nggak tahu, apa mas udah nyaman atau belum sama dia. Yang mas tahu, kalau ada dia, mas ngerasa seneng aja."

"Itu aja?" Danang mengangguk. "Belum tentu cinta, mas. Bisa jadi karena mas ngerasa cocok aja sama dia, bukan berarti cinta."

"Emang cinta sama cocok itu beda?" Danang mengerutkan keningnya.

"Ya beda!" sergah Kayva seketika. "Cocok itu belum tentu cinta. Kalau cinta, udah pasti cocok."

"Sama aja, dek." bantah Danang.

"Beda, mas."

"Apa yang bikin beda?"

Kayva menghela nafas. "Cocok itu, misalnya gini, mas udah ngerasa cocok sama seseorang, ngerasa nyambung kalau ngobrol sama dia, tapi mas cuma nganggep dia sebatas temen, saudara, atau yang kayak gitu lah. Itu namanya cocok tapi nggak cinta."

"Kalau cinta?"

"Cinta itu udah pasti cocok, mas. Mau itu cocok dari segi kelebihan, atau cocok dari segi kekurangan. Dalam artian, cocok karena kita nggak mau ngerubah apapun kehendak kita, nggak mau maksain dia buat jadi apa yang kita mau, itu cocok dari segi kekurangan. Ya dengan kata lain, nerima apa adanya. Begitu juga dari segi kelebihannya."

"Kamu, kayak udah pernah aja jatuh cinta, dek." cibir Danang sambil terkekeh.

"Ya aku kan emang udah jatuh cinta, mas. Sama Mas Dimas, suami aku, kalau mas lupa." Kayva memutar bolanya matanya. Merasa kesal karena Danang menggodanya.

Danang terkekeh. "Tapi definisi cinta itu sebenernya apa? Mas semakin nggak ngerti, dek."

Kayva kembali menghela nafas. "Gini aja deh. Intinya, apa yang mas rasain waktu ada dia di deket mas?"

"Ya seneng aja. Ngelihatin wajahnya, setiap tingkahnya, mas seneng aja. Baru sebatas itu, dek." jelas Danang.

"Terus, kalau misalnya dia nggak ada? Apa yang mas rasain?" Kayva menatap Danang. Mencoba mengorek kembali segala informasi yang bisa menyimpulkan kalau Danang memang sedang jatuh cinta.

"Ya biasa aja. Nggak ada lagi." Danang menatap Kayva. "Atau sebenernya mas cuma nggak sadar aja ya, dek, kalau sebenernya mas ngerasa ada yang kurang kalau dia nggak ada?"

"Ya mana aku tahu, mas. Kan mas yang ngerasain. Makanya aku nanya, kan, sama mas." balas Kayva ketus. "Emangnya dia siapa sih? Hebat banget sampai bisa buat mas jatuh cinta."

"Mas juga baru kenal sama dia."

"Ha?" Kayva menatap Danang tak percaya. "Baru kenal dan mas udah ngerasa kalau mas jatuh cinta sama dia?" Kayva menggelengkan kepalanya. "Hebat banget berarti itu ceweknya. Rekor dalam hidup mas lho ini."

Beautiful People #2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang