TIGA PULUH SATU

3.3K 266 24
                                    

"Maaf, pak. Kenapa bapak ngelihatin saya seperti itu? Ada yang salah kah dengan seragam saya?"

Fahad tersenyum sekilas. "Tidak apa-apa. Hanya, saya heran, kenapa Lidya begitu mudah menolak tawaran perkerjaan dari saya, dan justru lebih memilih menikah dengan tentara seperti anda? Padahal kalau dilihat-lihat, jika dia menerima tawaran pekerjaan dari saya, dia bisa hidup dengan serba kecukupan. Karena anda pasti tahu, gaji di perusahaan properti berapa nominalnya. Sudah pasti jika untuk memenuhi kebutuhan hidup Lidya akan lebih dari cukup. Tapi kenapa Lidya justru menolaknya, dengan alasan dia akan menikah? Dan saya juga baru tahu, jika calon suami Lidya adalah seorang tentara. Yang menurut saya..."

"Menurut bapak apa?" sela Lidya, yang sudah dapat menebak arah pembicaraan Fahad. "Bapak jangan sembarangan ngeremehin tentara ya! Bahkan kalau nggak ada tentara yang jagain negeri ini, bapak nggak akan bisa tidur nyenyak tiap malam!"

Fahad menatap Lidya tidak percaya. Merasa terkejut karena Lidya begitu berani menjawab kalimat yang ia tujukan untuk menyindir Danang.

"Asal bapak tahu ya. Mas Danang tidak pernah memaksakan kehendaknya terhadap saya. Mas Danang bahkan membebaskan saya untuk melakukan banyak hal. Dia bahkan tidak pernah memaksa saya untuk segera menikah, karena Mas Danang tidak mau membebani saya. Mas Danang tidak mau membuat saya terkekang. Mas Danang bahkan meminta saya untuk memikirkan kembali tawaran pekerjaan yang saya tolak. Sebaik itu Mas Danang mikirin kebahagiaan saya." ujar Lidya. Ia kemudian menatap Fahad remeh. "Tapi sekarang saya yakin, keputusan saya untuk menolak tawaran kerja dari bapak dan memilih menikah dengan Mas Danang itu adalah pilihan yang tepat. Mas Danang adalah pilihan yang tepat buat saya, karena Mas Danang selalu memikirkan kebahagiaan saya tanpa menyakiti hati saya." Ia kini menatap Fahad tajam. "Tidak seperti bapak, yang hanya memikirkan kepentingan bapak sendiri, tanpa memperdulikan perasaan orang lain." Lidya kemudian menatap Danang dan Faiq bergantian. "Udah yuk, mas, pergi dari sini. Ada setan di sini."

"Kamu duluan aja, dek. Nanti mas sama Danang nyusul." jawab Faiq.

"Ya udah." Lidya kemudian berjalan meninggalkan Danang dan Faiq bersama dengan Fahad.

"Lucu sih. Katanya dosen. Tapi mulutnya kayak orang yang nggak pernah di sekolahin." ledek Faiq, yang langsung membuat Fahad menatapnya tajam.

"Maksudnya apa ya?" tanya Fahad.

"Saya merasa bersyukur karena Lidya menolak tawaran pekerjaan dari bapak. Kalau misalnya Lidya menerima tawaran itu, saya tidak bisa memastikan apakah dia bahagia atau tidak. Karena saya yakin, jika dia menerima tawaran pekerjaan dari bapak, mungkin secara kebutuhan materi dia akan tercukupi. Tapi saya berani jamin, Lidya pasti tidak akan bahagia. Karena toh kebahagiaan Lidya cuma sama Danang." Faiq menepuk bahu Fahad dua kali, sebelum berlalu meninggalkan Fahad yang masih terlihat mencerna kalimatnya.

Danang berjalan mendekati Fahad. Ia lalu berdiri tepat di hadapan Fahad. "Saya cuma mau kasih tahu ke bapak dosen yang terhormat. Lain kali, kalau bapak mau ngeremehin orang lain, jangan di depan istrinya ya. Sudah pasti istrinya belain suaminya, pak." Ia kemudian tersenyum. "Lidya sudah membuktikan kalau keputusan yang dia ambil memang sudah tepat. Terbukti, kan, bapak bukannya menunjukkan sikap lapang dada karena Lidya menolak tawaran pekerjaan dari bapak, tapi bapak sendiri justru menunjukkan sifat asli bapak seperti apa. Terimakasih, karena saya tidak perlu repot-repot memberitahu Lidya tentang siapa bapak sebenarnya ke Lidya." Ia kemudian berbalik, hendak meninggalkan tempat itu. Namun baru saja dua langkah, Danang kembali berhenti, dan menengok ke arah Fahad kembali. "Satu lagi. Saya tahu kalau bapak menaruh hati ke calon Persit saya. Tapi maaf ya, bapak dosen yang terhormat. Calon Persit saya sebentar lagi akan sah menjadi istri saya. Jadi, saya harap bapak tidak lagi datang ke kehidupan Lidya, untuk urusan apapun. Terimakasih."

Beautiful People #2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang