TIGA PULUH EMPAT

3.4K 247 35
                                    

Lidya tampak memikirkan pertanyaan Danang kali ini. Ia yang tadinya menunduk, kini menatap Danang ragu. "Emang mas nggak apa-apa, kalau misalnya udah nikah nanti aku nggak dandan?"

"Ya enggak apa-apa, dek. Mas maunya kamu cantik buat mas, bukan buat orang lain." Danang menjawabnya lalu tersenyum tulus ke arah Lidya.

"Tapi kan tetep aja, mas. Nanti kalau misalnya aku nggak dandan, orang mikirnya pasti yang enggak-enggak tentang mas." Lidya tetap pada keputusannya.

Danang masih dengan senyumnya. "Dek, kalau misalnya ada yang bilang mas nggak mampu buat menuhin semua kebutuhan kamu, ya biarin aja. Namanya juga orang. Pasti mereka bakal ngomong yang enggak-enggak tentang kita. Mau kita udah berbuat baik, mau kita ada salah, mereka pasti tetep bakal ngomongin kita, karena kita tetep salah di mata mereka yang nggak suka sama kita. Kamu nggak perlu jelasin tentang diri kamu ke orang yang nggak suka sama kamu, karena mereka nggak bakal percaya sama itu. Begitupula sebaliknya. Kamu nggak perlu jelasin gimana diri kamu ke orang yang suka sama kamu, karena mereka nggak butuh itu buat suka sama kamu. Mereka suka sama kamu karena kamu apa adanya."

"Assalamualaikum."

Pintu terbuka, dan muncullah kedua orang tua Danang, dengan membawa sebuah tas bepergian berukuran sedang.

Retno yang berjalan terlebih dahulu, kini mengerutkan keningnya menatap Danang dan Lidya bergantian. "Kalian kenapa? Kok mukanya tegang gitu?" tanyanya, saat Lidya dan Danang bergantian mencium punggung tangannya.

Royan yang baru saja meletakkan tas ke atas sofa, kini ikut menatap Danang dan Lidya, sembari mendekati brankar Danang. "Kalian habis berantem ya?" tudingnya, saat Danang dan Lidya juga mencium punggung tangannya.

"Enggak kok, pak. Cuma debat kecil aja." jawab Danang. "Bapak sama ibu bukannya sama Om Riyan? Terus omnya sekarang dimana?"

"Om kamu nggak jadi ikut. Katanya ada urusan mendadak. Cuma titip salam aja tadi, semoga kamu cepet sembuh." jawab Retno, yang hanya di balas anggukan oleh Danang.

"Kamu nggak usah ngalihin pembicaraan, le. Kamu sama Lidya debat kenapa?" tanya Royan, kembali membahas perihal keganjilan di ruangan itu.

"Nggak ada apa-apa kok, pak. Cuma debat kecil. Dan sekarang juga udah selesai kok masalahnya. Cuma masih agak canggung aja habis debat tadi. Makanya Lidya sama Mas Danang tadi diem-dieman." jelas Lidya, mencoba agar Royan dan Retno tidak memperpanjang masalah itu.

Royan menatap Lidya. "Kamu yakin, nduk? Kamu yakin masalah kalian udah selesai, dan nggak ada lagi kesalahpahaman antara kalian?"

Lidya mengangguk pelan sambil tersenyum. "Enggeh, pak. Sudah selesai kok. Lidya dan Mas Danang juga sudah tidak mau mempermasalahkannya lagi." (Iya)

Royan dan Retno terlihat menghela napas. Kemudian, Retno yang posisinya saat ini duduk di brangkar di dekat Lidya, kini mengusap kepala Lidya pelan. "Kalian seharusnya sudah dipingit. Biar masalah kecil jelang pernikahan itu tidak muncul, dan justru menjadi masalah yang besar."

"Iya, Nang. Bukannya seharusnya emang gitu? Kamu inget nggak waktu Kayva nikah sama Dimas? Kamu sendiri kan yang terus wanti-wanti Kayva sama Dimas, biar mereka enggak usah ketemu selama masa pingitan itu, buat menghindari masalah kecil yang nantinya bisa aja membesar. Kamu ngerti, le?"

"Ngerti, pak. Ini tadi Bang Faiq juga bilang, kalau masa pingitannya Danang sama Dek Lidya nunggu Danang sembuh dulu." Danang melirik Lidya, yang kini terlihat malu-malu. "Katanya Dek Lidya mau ngerawat Danang dulu sampai Danang sembuh, pak, bu."

"Benar begitu, nduk?" tanya Retno, sambil menatap Lidya.

Lidya mengangguk pelan. "Benar, bu. Kalau di izinkan, Lidya mau merawat Mas Danang sampai Mas Danang sembuh. Baru setelah itu kita mulai masa pingitannya. Itupun kalau bapak dan ibu mengizinkan."

Beautiful People #2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang