DUA PULUH

3.3K 254 21
                                    

Lidya tertegun. Ia masih shock mendengar penuturan Fahad. Ia yang awalnya menyangkal penyataan Aish, bahwa Fahad tertarik padanya, sekarang justru harus mempercayai penyataan itu karena yang bersangkutan sendiri yang mengutarakannya langsung.

"Lidya?"

Lidya tersentak. Ia kembali menatap Fahad yang tengah menatapnya penuh harap. "Ehm jujur, pak. Saya kaget mendengar apa yang bapak sampaikan terhadap saya barusan. Saya sama sekali tidak menyangka kalau Pak Fahad ternyata tertarik terhadap saya. Padahal di luar sana, banyak mahasiswi atau bahkan perempuan yang lebih cantik dan lebih menarik daripada saya. Tapi kenapa Pak Fahad justru tertarik sama saya yang biasa-biasa saja seperti ini?"

Fahad tersenyum. "Justru karena kamu yang bersikap biasa-biasa saja, dan tampil apa adanya itu yang membuat saya tertarik sama kamu. Kamu beda dari yang lain. Katakanlah saya terlalu percaya diri karena mengatakan hal ini. Tapi saya melihat sorot kekaguman yang perempuan lain pancarkan setiap kali berpapasan dengan saya, atau bahkan saat saya mengajar di kelas. Tapi saya tidak menginginkan hal itu."

Lidya mengerutkan keningnya. "Kenapa, pak?"

"Belum sah di mata agama, karena belum mahram."

Jawaban dari Fahad itu membuat Lidya menahan tawanya.

"Kenapa kamu justru tertawa? Ada kalimat saya yang salah?" Fahad menatap Lidya meminta penjelasan.

"Tadi bapak bilang nggak suka dilihat dengan sorot mata kekaguman karena belum mahram, kan?" Fahad mengangguk. "Terus apa kabar sama apa yang bapak lakukan waktu bapak ngelihat saya? Bukannya harusnya sama? Seharusnya bapak bisa mengendalikan perasaan bapak itu karena kita bukan mahram."

"Kamu benar." Fahad menganggukkan kepalanya. "Dan oleh sebab itu, saya berniat menemui wali kamu, untuk mengkhitbah kamu secara langsung, karena saya tidak setuju dengan adanya pacaran."

"Ha?" Lidya menatap Fahad tidak percaya. "Saya bahkan belum jawab pertanyaan bapak lho, soal ngasih kesempatan bapak atau enggak. Kenapa bapak mau nemuin wali saya?"

"Biar saya bisa langsung minta izin ke wali kamu, buat deketin kamu. Bukannya itu lebih baik, daripada harus pacaran tapi tidak berani menemui orang tua pacarnya?"

"Ya emang yang bener kayak gitu. Tapi sebelumnya kan harusnya saya jawab dulu pertanyaan bapak itu. Bukan malah bapak mau nemuin wali saya." Lidya mulai gemas karena sikap Fahad yang menurutnya semena-mena tanpa memikirkan apa jawaban yang akan ia sampaikan.

"Saya memberi kamu waktu satu minggu untuk memikirkan apa yang saya tanyakan ke kamu."

"Tapi, pak, saya..."

Fahad menggelengkan kepalanya. "Saya tunggu jawaban kamu satu minggu lagi. Sekarang kamu bisa keluar."

Lidya membelalakkan matanya. Sama sekali tidak menyangka jika ia tidak di beri waktu untuk menjelaskan bahwa ia sudah di khitbah oleh orang lain dan tidak mungkin memberikan kesempatan untuk Fahad.

***

"Halo, Assalamualaikum, yah."

"Waalaikumsalam, Nang. Kamu masih di Yonif, le?" tanya Zaenal di ujung telepon.

Danang menghela nafas, kemudian mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. "Iya, yah. Danang masih di Yonif. Kalau boleh tahu, ada apa ya, yah, sampe ayah telepon Danang sampe beberapa kali? Maaf tadi Danang masih sama Komandan, jadi nggak bisa angkat telepon dari ayah."

"Ayah denger dari masmu, katanya besok kamu berangkat tugas?"

Danang ragu. Antara menjawab jujur atau...

Beautiful People #2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang