SEPULUH

3.6K 235 25
                                    

Danang mengerutkan keningnya, saat ada sebuah pesan masuk ke handphonenya sepagi itu. Saat ia bahkan baru saja selesai melaksanakan sholat subuh.

Lidya
Bangun woy! Jangan tidur terus!
Kebo dasar!

Danang menatap pesan itu tak percaya. Kembali memastikan bahwa yang mengiriminya pesan adalah Lidya.

Udah ganteng gini, masa di katain kebo
Situ sehat?

Sehatlah
Buktinya udah selesai masak

Wah kebetulan nih, mas belum sarapan
Bolehlah ya kirimin ke barak

No! Enak aja
Beli sendiri sana

Lah? Lama kalau harus beli sendiri
Kan harus manasin motor, belum lagi antri ditempat makannya
Mending kamu aja yang anter ke sini
Sekalian ngirim makanan buat Faiq

Ih apaan? Enak aja!
Nggak ada!

Yah
Potek hati abang, dek

"Nang! Ngapain? Isuk-isuk wis mecucu!" Faiq menepuk bahu kanan Danang, sambil melepas peci dari kepalanya. (Pagi-pagi udah manyun!)

Danang tersenyum getir, kemudian meletakkan handphonenya begitu saja di atas meja nakas, tanpa membuka satu pesan yang baru saja masuk. "Adikmu! Pagi-pagi udah baperin orang!"

"Lah?" Faiq menatap Danang yang kini beranjak ke arah lemari pakaiannya, melepas baju koko yang ia pakai, menyisakan kaos singlet putih yang melekat di tubuhnya. "Di baperin kenapa malah cemberut?"

"Ah kamu mah, mana ngerti?" tanya Danang. "Ibaratnya tuh, baru diterbangin, terus di jatuhin. Luka tapi nggak berdarah!"

Faiq yang mendengar celotehan Danang, justru tertawa terbahak mendengar Danang yang kini mendramatisir ekspresi wajahnya.

"Kenapa malah ketawa?" tanya Danang, sambil bersandar di lemari kayu.

"Ya aneh aja!" ledek Faiq, yang kini sudah duduk di atas tempat tidur Danang. "Kamu tuh terlalu mendramatisir tau, nggak? Kayaknya kemaren-kemaren waktu kamu jadi tempat curhat Lidya, kamu nggak gini-gini banget, Nang."

"Ya gimana?" Danang beranjak, kini duduk di samping Faiq. "Kemaren-kemaren kan aku masih takut kalau misalnya kamu setuju dan ngasih restu Lidya sama polisi itu. Jadi, yaa walaupun sakit, aku berusaha buat biasa aja."

"Kalau sekarang?" tanya Faiq.

"Kalau sekarang ya bedalah!" sergah Danang seketika. "Kayaknya tuh kalau sekarang aku justru ragu."

"Ragu kenapa?" sela Faiq. "Katanya mau berjuang?"

"Bukan ragu buat berjuangnya."

Faiq menatap Danang bingung. "Iya, ragu kenapa?"

"Kalau misalnya Abi itu mau diputusin sama Lidya, bisa aja aku maju buat berjuang. Nah kalau misalnya Abi juga mau berjuang buat dapet restu dari kamu, Mas Ivan sama Mas Alif, gimana? Aku punya saingan dong, buat dapetin Lidya?" Danang menumpukan siku di kedua lututnya. "Belum lagi kalau misalnya itu beneran kejadian, aku bakalan kalah telak karena Lidya udah pasti ngedukung Abi buat perjuangin dia, bukan aku."

Beautiful People #2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang