DUA PULUH DELAPAN

3.3K 264 10
                                    

"Kenapa kamu pilih tanggal 26? Kenapa nggak tanggal yang lain?"

Lidya menatap Danang sekilas, lalu beranjak menuju kursi teras, dan duduk di sana. "Abii masih inget, kapan pertama kali abii dateng nemuin ayah sama ibu?"

"Ha?" Danang menggaruk kepalanya yang tak gatal. Mencoba mengingat kapan kejadian itu terjadi. "Seinget abii, itu hampir tiga bulan yang lalu. Tapi kalau soal tanggalnya.." Ia masih mencoba mengingat-ingat. Kemudian, seakan teringat sesuatu, ia beranjak duduk di kursi yang tersisa di teras rumah itu. Tepat di samping Lidya duduk, dan hanya terhalang sebuah meja bundar kecil. "Maksud kamu, tanggal 26 itu hari dimana abii ngelamar kamu pertama kali ke ayah sama ibu?"

Lidya yang menundukkan kepalanya, kini mengangguk pelan sambil menyembunyikan raut wajahnya yang memerah.

Danang mengusap wajahnya. "Ya Allah. Kenapa abii bisa lupa ya, dek?"

Mendengar hal itu, Lidya seketika memberengut sebal. "Hal sepenting itu aja lupa. Yang di inget apa coba?"

Danang justru terkekeh mendengar Lidya merajuk. "Yang di inget ya Surat Ar-Rahman lah. Biar abii bisa halalin kamu. Apalagi coba?"

Lidya mengerutkan keningnya menatap Danang. "Katanya udah hafal? Kenapa mau hafalin lagi?"

Danang kini menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. "Kan harus di bagusin lagi bacaannya. Makhrojnya, tartilnya. Biar bagus dan sah bacaannya." Ia kemudian menatap Lidya dengan meletakkan kedua tangannya di atas meja. "Biar kamu juga bangga, sama hafalan dari abii nanti."

Dan seketika setelah mendengar kalimat itu, wajah Lidya memerah karena malu, sudah di goda sedemikian rupa oleh Danang.

"Ciye mukanya merah."

Lidya membelalakkan matanya mendengar godaan Danang itu. Ia menggelengkan kepalanya, karena sudah berhasuk masuk ke perangkap Danang. "Oke. Sekarang aku nggak akan mempan kalau dirayu sama abii. Soalnya aku tahu, kalau abii cuma godain aku, tanpa serius muji aku secara tulus. Titik!" Ia kemudian bersidekap, dan memunggungi Danang.

Danang yang mendengar hal itu pun langsung mengejar agar bisa menatap wajah Lidya. Ia duduk bersimpuh di hadapan Lidya yang masih duduk di atas kursi. "Kamu yakin mau ngambek?"

"Karepku!" sinis Lidya. (Semauku!)

"Oke. Abii juga bisa bertindak semau abii." Danang kemudian bangkit, menatap kerumunan keluarganya juga keluarga Lidya yang kini sedang duduk lesehan di atas rumput di halaman rumah. "Pak, bu, ayah, Bu Zahra, bisa anterin Danang ke rumah Kyai, nggak?"

Seketika semua anggota keluarga pun mengerutkan keningnya. Termasuk Faiq yang baru saja keluar rumah dengan sebuah stopmap di tangannya, dan kini berada di dekat Danang dan Lidya.

"Emang mau ngapain, Nang?" tanya Zaenal, menatap calon menantunya bingung.

"Dek Lidya kayaknya udah nggak sabar pengen denger saya setor hafalan Surat Ar-Rahman. Jadi, mending ijab qobul sekalian. Kan semuanya sudah ada. Sudah memenuhi syarat adanya sebuah pernikahan. Gimana?"

Lidya seketika membelalakkan matanya menatap Danang. Wajahnya sudah merah padam. Antara malu, kikuk, juga marah, tapi ada juga rasa kesal yang menjadi satu.

"HOOO SEMPRUL!" Faiq langsung memukul kepala Danang denfan stopmap yang ada di tangannya.

Dan semua anggota keluarga yang berada di halaman pun tertawa melihat Danang sedang mencoba menghindar dari kejaran Faiq.

"Faiq, Danang, berhenti" seru Zaenal. "Kalian itu tentara, satu batalyon. Kenapa malah main kejar-kejaran sih?"

"Dianya ngeselin, yah." adu Faiq, sambil menunjuk Danang dengan stopmap yang ia pegang.

Beautiful People #2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang