Althaf sedang sangat bingung mencari tulang rusuknya, alias penyempurna iman, kalau kata lumrahnya, jodoh.
Apalagi teman-teman sebaya sudah mulai naik pelaminan. Mama dan keluarga juga sudah mendesak dengan pertanyaan, "Kapan nikah?"
Dikira nyari j...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
-Dalam perjalanan hidupmu, sahabat adalah kepingan terindah-
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Katanya waktu paling ampuh untuk dekat pada sang Pencipta adalah sepertiga malam terakhir. Dan kini saat semua terlelap tidur, hanya suara jangkrik yang terdengar dalam sunyi, aku meletakkan kening ke bumi, bersujud menghadap sang Khaliq. Setelah salam dan berzikir, aku mengadu, kucurahkan segala gelisah dan risau. Termasuk yang belakangan ini terus menghantuiku.
Pasal jodoh.
Aku hanya berharap semoga wanita yang kelak di sisiku adalah yang terbaik Allah amanahkan untukku. Aku tidak meminta si dia harus cantik bagai ratu, harus kaya bergelimang harta, pintar dan mempesona, walau bila diberikan yang seperti itu, aku juga tidak akan menolak.
Lah ya iyalah siapa yang ga mau cantik, pinter, kaya lagi!
Hanya saja, keinginan kecil di sudut hatiku, cukup bagiku diamanahkan wanita yang kala menatap wajahnya saja dapat hilang gundah hati ini, mendengar perkataannya menenteramkan jiwa, hidup bersamanya semakin mendekatkanku pada istana surga. Sesimpel itu sebenarnya.
Jikalau ia jauh maka dekatkanlah, jikalau jalan untuk memilikinya begitu sukar mudahkanlah.
"Bang, belum tidur?" Aku melihat Ali yang berdiri di ambang pintu, sesekali dia menguap tanda masih mengantuk, lihat saja matanya yang merah dan rambut acak-acakan.
"Abang yang harusnya nanya, udah tahu bangun jam segini kenapa kamu ga tahajud? Tahajud sana, dulu aja belum keterima SBMPTN tahajudnya kuat sekarang udah keterima males-malesan."
Bocah itu langsung nyengir, dan buru-buru kembali ke belakang untuk berwudu. Aku menggelengkan kepalaku, manusia itu ya belum dapat saja usahanya poll-pollan, kalau sudah dapat tiba-tiba lupa, semoga Allah menjauhkan kita dari sifat seperti itu.
***
"Dok Althaf!" Aku yang baru keluar dari area parkir khusus karyawan rumah sakit menoleh ke belakang, melihat Nayla yang baru keluar dari mobil jazz merahnya. Ia tampak buru-buru mengambil tas tangan hitamnya yang kudengar-dengar harganya selangit. Setelah alarm mobilnya berbunyi tanda mobil sudah terkunci, wanita itu berlari kecil menghampiriku yang masih menungguinya di pelantaran rumah sakit.