14 Malam Itu

2.2K 200 0
                                        

-Tawamu mengalihkan duniaku-

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

-Tawamu mengalihkan duniaku-

Aku baru sampai dari kota dengan meminjam mobil milik kepala desa, ada beberapa keperluan yang perlu kubeli

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Aku baru sampai dari kota dengan meminjam mobil milik kepala desa, ada beberapa keperluan yang perlu kubeli. Ini sudah pukul sembilan malam dan desa sudah sangat sepi, maklum ba'da isya kebanyakan warga desa memilih beristirahat di rumah masing-masing karena besok pagi-pagi sekali sudah memulai aktivitas harian, ada yang ke kebun, sawah, hutan, pergi sekolah.

Di pertigaan dekat puskesmas aku melihat seorang wanita yang berjalan seorang diri, langkahnya tampak terburu-buru. Lampu jalan yang redup menyinari jalannya. Pertanyaanya siapa yang masih di luar jam segini? Wanita lagi.

Aku membunyikan klakson mencoba menyapa wanita itu, siapa tahu butuh tumpangan. Aku paling tidak tega melihat wanita pulang sendiri apalagi kalau malam sepi ditambah cuaca mendung begini. 

Wanita itu berbalik dan tampak menyipitkan matanya karena lampu sorot mobil yang mengarah kepadanya. Aku cukup terkejut saat nengenali wanita yang berjalan seorang diri itu, sangat kenal malah.

"Loh Shafa? Ngapain malam-malam kelayapan? Ini udah mendung." Aku melirik ke arah langit yang tidak terlihat bintang atau pun bulan, dari tadi petir pun sesekali menyambar. Dari luar dia mendekat ke arah jendela lalu mengangkat sebuah power bank.

"Ketinggalan di puskesmas," ucapnya sambil meringis. Aku berdecak gemas, ngambil besok gak bisa ya?

Aku memberi kode kepadanya untuk masuk, bila biasanya dia senang sekali menolak uluran tangan dan memilih mengerjakan segala hal sendiri kali ini, tanpa banyak pikir wanita itu langsung masuk, dia sepertinya ketakutan.

"Kan bisa diambil besok Shaf, ini udah sepi banget lho." Shafa tampak berjengit mendengar omelanku, ah bicaraku cukup keras tadi, tolong maklumi aku khawatir, bagaimana kalau aku tidak lewat sini tadi dia pasti sudah kehujanan, buktinya baru saja Shafa masuk ke mobil, gerimis mulai turun dan dengan cepat menjadi hujan deras.

"Tadi masih ramai lewat jalan kampung, tapi waktu di pertigaan jalan mau ke rumah ditutup jadi lewat ke jalan sepi ini, lagian tadi juga sama Mbak Larita, tapi di tengah jalan dia di panggil ke rumah Bu Sekdes," Mbak Larita itu salah satu pegawai di puskesmasm selama baksos ini Shafa menginap di rumahnya, "kamu sendiri dari mana?" tanyanya melirik barang di kursi penumpang yang banyak bungkusan plastik.

Menjemput Tulang RusukCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang