Althaf sedang sangat bingung mencari tulang rusuknya, alias penyempurna iman, kalau kata lumrahnya, jodoh.
Apalagi teman-teman sebaya sudah mulai naik pelaminan. Mama dan keluarga juga sudah mendesak dengan pertanyaan, "Kapan nikah?"
Dikira nyari j...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
-Orang yang percaya tidak boleh khawatir akan jodohnya. Karena sesuai janji Allah, setiap manusia diciptakan berpasang-pasangan.-
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Aku yang tidak terlalu suka nasi yang dimasak terlalu lembek dan dicampur kuah, pagi ini terpaksa harus menelan makanan sejenis itu, orang-orang menyebutnya sarapan bubur. Ini semua karena keponakanku yang paling besar sedang sakit, dia terus merengek tidak mau makan.
"Milia ayo dong dimakan buburnya, ini Om suapin." Padahal sudah membuatkannya makanan khas orang sakit, bahkan aku turun tangan menyuapi tapi gadis kecil itu tetap menggeleng.
"Om juga makan kok buburnya, enak ini." Aku menyuap sesendok bubur, walau tidak kukunyah sama sekali, buka mulut, masukin, tutup lagi, telan!
"Kamu juga sih Thaf, suka banget ngasi Milia permen, jadi sakit gigi dia. Dia pasti kesakitan ngunyah." Aku memandang gadis kecil yang duduk di sebelahku, dia hanya menyembunyikan wajahnya dibalik lipatan tangan, bubur kan tidak perlu dikunyah, seharusnya dia tidak akan merasa sakit saat makan bubur. Aku rasa dia sama sepertiku, tidak menyukai makanan lembek ini.
"Nanti yang nganterin Milia siapa, Ma?" Aku melihat mama yang sibuk menyeduh teh hangat, lalu mengambil dua gelas untukku dan Milia.
"Mama sama Mia." Aku mengangguk-angguk lalu kembali memberikan atensi penuh ke Milia sambil membujuk Milia untuk makan, walau hanya tiga suap. Gadis itu kekeh menggeleng sambil menutup mulutnya, dia malah menunjuk sambil menatap nanar toples permen di atas kulkas, aku balas menggeleng tegas walau merasa kasihan, tapi kalau dikasih ga baik untuk Milia.
"Bang, pesenan Ali gimana?"
"Ngh... nanti deh, belum ketemu temannya abang." Ali berdecak lalu mengambil beberapa permen di toples.
"Om Ali jangan makanin permen Milia!"
"Eh kan kamu sakit gigi, jadi permennya Milia buat Om Ali aja ya?" Milia tampak merungut, dia mulai merengek.
"Hari ini kan udah mau ke dokter gigi, bentar lagi sembuh kok."
"Pasti nanti sama dokternya ga dibolehin lagi makan permen, udah ya buat Om aja."