13 Bakti

2.2K 192 0
                                        

-Karena hati paling tahu kepada siapa dia telah takluk-

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

-Karena hati paling tahu kepada siapa dia telah takluk-

Kegiatan bakti sosial dipusatkan di puskesmas desa, letaknya tidak begitu jauh dari balai desa, bisa dibilang puskesmasnya tepat dibelakang balai desa, tidak begitu jauh kan? Ngesot juga nyampe, kalau kata Fariz

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Kegiatan bakti sosial dipusatkan di puskesmas desa, letaknya tidak begitu jauh dari balai desa, bisa dibilang puskesmasnya tepat dibelakang balai desa, tidak begitu jauh kan? Ngesot juga nyampe, kalau kata Fariz. 

Jujur saja melihat keaadan sekitar, sebenarnya desa ini perlu banyak berbenah khususnya masalah kesehatan dan kebersihan, garis bawahi yang terakhir, kebersihan! Lihat saja semak belukar yang berada tepat di sekeliling puskesmas, sampah-sampah yang tertumpuk dibaliknya, belum lagi gentong batu milik warga yang biasa digunakan untuk menampung air persediaan minum masih ditemukan jentik-jentik. Lingkungannya tidak terlalu sehat, cukup memprihatinkan.

"Jadi rencananya kita adain pengobatan gratis dulu hari ini?" Salah satu perwakilan dokter yang ikut bakti sosial berbicara tepat di sampingku, sedang aku yang masih sibuk menilai kondisi sekitar, kini menatapnya sambil mengangguk.

"Besoknya kita penyuluhan ke sekolah, bagi-bagi sembako, besoknya lagi kerja bakti lalu malamnya malam keakraban." Mereka tampak mengangguk-angguk, sebenarnya semua agenda selama di desa ini sudah aku sosialisasikan sebelum keberangkatan, jadi aku hanya mengingatkan garis besarnya saja, dan mereka sudah seharusnya paham apa saja tugas mereka selama di sini.

"Yang daftar banyak, Imah?"

"Pasien yang ke dokter gigi nih banyak yang minta perawatan kalau yang dokter umum palingan cek kesehatan sama kontrol aja," sahut Fatimah yang sibuk membolak-balikan lembaran kertas, mungkin berisi pendaftaran peserta pengobatan gratis. Aku melihat Shafa meringis sesaat melihat daftar pasien yang harus ditanganinya hari ini, masalahnya dokter gigi di tim kami hanya Shafa sendiri, dia pasti kewalahan.

"Insya Allah aku bisa bantu, cuman mungkin aku perlu bantuan nyiapin alat-alat steril." 

"Ya udah ntar aku bantu-bantu deh." Kebetulan sekali tugasku tidak begitu berat sebenarnya, jadi mungkin aku bisa membantu wanita itu.  

***

"Ini tinggal diaduk melipat gitu kan, Shaf?" Aku menoleh sedikit ke sampingku, di mana tempat Shafa duduk. Wanita itu mengangguk sambil masih melakukan perawatan ke gigi seorang bacah perempuan di hadapannya, aku tidak terlalu mengerti apa yang dilakukannya. Tolong dimaklumi, ini bukan ranahku, bahkan mengaduk GIC saja baru diajari setengah jam yang lalu.

Menjemput Tulang RusukCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang