33 Bertandang

2.2K 202 13
                                        

-Saya tidak menjamin akan terus membuatnya bahagia tanpa sengaja mungkin dia akan tersakiti, tapi saya akan terus berusaha untuk berada di sisinya, ikut tertawa bersamanya, menghapus setiap air mata, mengulurkan tangan saat dia terjatuh, merangkul...

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

-Saya tidak menjamin akan terus membuatnya bahagia tanpa sengaja mungkin dia akan tersakiti, tapi saya akan terus berusaha untuk berada di sisinya, ikut tertawa bersamanya, menghapus setiap air mata, mengulurkan tangan saat dia terjatuh, merangkulnya saat tertatih, dan menggenggam tangannya agar kuat terus berdiri, saya juga manusia, mungkin maksud hati tak pernah ingin menyakiti, tapi saya terbatas, saya hanya mampu berusaha semaksimal mungkin-

-Saya tidak menjamin akan terus membuatnya bahagia tanpa sengaja mungkin dia akan tersakiti, tapi saya akan terus berusaha untuk berada di sisinya, ikut tertawa bersamanya, menghapus setiap air mata, mengulurkan tangan saat dia terjatuh, merangkul...

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Padahal saat pertemuan sehabis makan-makan tempo hari aku sudah bilang akan datang ke rumahnya. Tapi saat Shafa membuka pintu dan mendapatiku rapi dengan setelan batik berwarna coklat dengan celana kain hitam ditemani sepupuku-Bang Aldi, gadis itu masih saja menunjukkan ekspresi terkejut, sama persis dengan ekpresi yang ditunjukkannya saat aku mengutarakan niatku untuk bertandang ke rumahnya, sebagai satu upaya membuatnya tak lagi ragu padaku.

Dengan sisa-sisa keterkejutan yang mengantung di wajahnya, ia menyuruh kami untuk masuk dan memanggil kedua orang tuanya. Tidak lama aku menunggu orang tuanya keluar, buktinya hanya dalam waktu dua menit mereka sudah di ruang tamu dengan setelan rapi, sepertinya Shafa memang sudah menyampaikan niatku pada orang tuanya.

"Eh Althaf, lama ya ga ketemu," seru ibunya Shafa, sudah kubilang aku akrab dengan ibunya Shafa dari semasa SMA.

"Baik, Tante sama Om gimana kabarnya?" tanyaku kikuk, wajarlah tujuanku datang kali ini bukan hanya bertamu atau ngajak anaknya kerja kelompok seperti yang lalu-lalu, tapi sedang dalam proses menjemput tulang rusuk. Setelah berbasa-basi ngomong panjang lebar sampai kudapan yang disediakan habis setengah barulah ayah Shafa menagih tujuanku yang sebenarnya.

"Ini pertemuan kita untuk kedua kalinya, kali ini apa tujuan kamu?"

Benarkan? Mirip banget dengan Shafa, ayahnya Shafa tuh!

"Om, Tante mungkin sudah bisa menebak apa tujuan Althaf ke sini, saya juga sudah membicarakan secara langsung ke Om, ke Shafa juga, dan sekarang saya ingin mengatakannya secara resmi tepat di depan Shafa dan seluruh keluarga Shafa." Bisa aku lihat Shafa dan keluarganya yang saling berpandangan.

"Saya datang dengan niat karena Allah, ingin melaksanakan sunnah Rasulullah, menyempurnakan sebagian iman saya, saya ingin membantu Om dan Tante menjaga dan membahagiakan Shafa, saya ingin menikah dengan putri yang Om dan Tante sangat jaga dan sayangi selama ini, Shafa."

Menjemput Tulang RusukCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang