Althaf sedang sangat bingung mencari tulang rusuknya, alias penyempurna iman, kalau kata lumrahnya, jodoh.
Apalagi teman-teman sebaya sudah mulai naik pelaminan. Mama dan keluarga juga sudah mendesak dengan pertanyaan, "Kapan nikah?"
Dikira nyari j...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
-Jangan mengusik hal tidak pernah dibagi luas oleh seorang yang pendiam, dia benci ada orang lain yang masuk terlalu jauh di kehidupannya-
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sudah seharian ini antara aku dan Nayla tercipta kecanggungan. Banyak karyawan yang heran dengan sikap kami, biasanya kami akan saling sapa dan berbicara panjang lebar, tidak seperti dua hari belakangan ini. Bahkan saat melihatku, Nayla pasti akan memutar arah.
"Kamu nolak Nayla ya, Thaf?" Hari ini seharusnya Nayla yang menjadi temanku shift malam ini. Tapi tiba-tiba saja, wanita itu meminta digantikan. Wanita itu benar-benar menghindariku.
"Aku belum siap."
"Belum siap apa gak mau sama Nayla?" Bang Ikhsan memutar kursinya menatapku penuh.
"Bukan gak suka-"
"Tapi gak cinta," potong Bang Ikhsan, "aku udah nebak."
"Ingat lho Thaf, jangan ada penyesalan, laki-laki harus bisa megang ucapannya." Aku mengangguk. Aku tidak akan menyalahkan siapa pun dengan apa pun yang terjadi nanti. Yang aku tahu aku hanya mengikuti keinginan hatiku.
"Aku berharap dia menemukan yang lebih baik."
"Kalian harus cepat baikan, gak enak tahu suasana kerja kaya gini." Aku mengangguk lagi, aku akan membiarkan Nayla tiga hari, paling lama setiap muslim mendiamkan satu sama lain tiga hari selebihnya sudah berdosa. Nayla mungkin perlu waktu, sampai semuanya kembali walau tidak akan benar-benar kembali seperti semula, aku... sudah menyakitinya.
"Tapi kamu siap-siap ya Thaf, masalahnya kamu udah nolak keponakan kepala rumah sakit lho, abis ini karir kamu kayanya ga akan semulus semula." Aku tidak terlalu peduli soal itu, pekerjaan atau rezeki sudah ada yang mengatur. Mau bagaimana pun seseorang merecoki tetap saja aku akan mendapatkan rezeki yang sudah ditetapkan Sang Kuasa.
"Pengalaman pribadi ya Bang? Abang pernah ga jadi nikahin anaknya mantan kepala dinas kesehatan," ujarku menggoda masa lalu Bang Ikhsan.
"Sok playboy sih, untung sekarang udah ketemu pawang buayanya." Bang Ikhsan saat itu juga melempariku snelinya. Aku harus lagi-lagi ikutan menanggung malu perbuatan yang tidak kulakukan, karena Bang Ikhsan kami mendapat delikan suster karena ribut malam-malam.