Althaf sedang sangat bingung mencari tulang rusuknya, alias penyempurna iman, kalau kata lumrahnya, jodoh.
Apalagi teman-teman sebaya sudah mulai naik pelaminan. Mama dan keluarga juga sudah mendesak dengan pertanyaan, "Kapan nikah?"
Dikira nyari j...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
-Kamu itu seperti hujan, menyenangkan, menyejukkan tapi tidak mudah digenggam-
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Perjalanan perasaanku rasanya sudah panjang sekali diawali dengan musim penghujan, saat itu aku kembali bertemu Shafa. Lalu musim berganti, kemarau menemani hatiku yang terlanjur patah sebelum tersampaikan. Dan sekarang sudah mulai masuk ke musim penghujan lagi. Saat ini saja sudah ketiga kalinya hujan mengguyur bumi. Padahal sebelum subuh, dan sekitar jam sepuluh pagi tadi sudah hujan deras.
"Apa kabar, Bro?" tanya Zaidan yang duduk menemaniku di pelantaran tepi taman belakang rumah sakit. Mengingat aku yang hampir tujuh hari dalam seminggu tidak pernah absen bertemu dengannya, sudah pasti pertanyaannya bukan tentang kabarku sendiri, tapi kabar nasib percintaanku.
"Seperti yang kalian tahu." Empat silabel berjuta makna.
Ya ga salah kan? Tentang aku dan Shafa yang bagaimana sudut pandang kalian melihatnya. Kami hanya saling diam walau kami sama-sama tahu. Orang lain mungkin bisa menyangka kami baik-baik saja, sebagian lain mungkin menganggap kami bermasalah.
Aku sadari tatapan Zaidan yang menggeleng tak percaya. Mungkin gregetan dengan sikap pengecutku. Aku pastikan aku bukan pengecut, tanpa dia tahu aku sudah melalui langkah besar. Sekarang aku hanya perlu waktu menjemputku ke saat yang tepat.
"Jadi kan, ngumpul bareng ntar sore?" Aku mengangguk, mengiyakan rencana hangout bersama Zaidan, dan Cantika.
"Ikutlah lagi perlu hiburan nih," ucapku seraya tertawa.
***
Aku melipat bibir ke dalam lalu memaksa senyum kecut, saat tahu aku lagi yang jadi orang pertama datang di acara kumpul-kumpul ini.
Ya aku lagi!
Sebelumnya waktu kumpul dengan Fariz, Zaidan dan Sheren, aku juga yang paling awal datang, sekarang pun sama saja. Kalau Zaidan tadi masih ada urusan, nah Cantika yang kemana sekarang? Bukannya mereka sudah pergi duluan tadi? Sepertinya hanya aku yang masih pakai jam kulit sedangkan yang lain jam karet. Ngaret banget!
Aku memilih meja persegi panjang dengan 2 sofa panjang yang berhadapan, tepat bersisian dengan jendela. Tempat favorit dimana pun itu, harus dekat-dekat dengan pemandangan luar. Mata ini sudah terlalu lelah terpaku layar kaca, pemandangan luar bangunan bisa cukup membantu, hitung-hitung refreshing.