Althaf sedang sangat bingung mencari tulang rusuknya, alias penyempurna iman, kalau kata lumrahnya, jodoh.
Apalagi teman-teman sebaya sudah mulai naik pelaminan. Mama dan keluarga juga sudah mendesak dengan pertanyaan, "Kapan nikah?"
Dikira nyari j...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
-Apa seseorang yang kupintakan untuk di dekatkan padaku selama ini sebenarnya tidak pernah jauh dariku?-
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hari ini aku sengaja melayangkan surat izin demi menyambangi rumah Cantika pagi buta. Cantika memang pintar, memanfaatkan pasukan mantan anak-anak MIPA 3 untuk membantunya dalam persiapan pernikahan yang tinggal menghitung hari, kurang lebih lima hari lagi, bukan waktu yang lama juga. Sejak jauh-jauh hari dia sudah mem-plotting tugas tiap orang, semua ditodong untuk membantu persiapan pernikahan dengan dalih ajang sambil reunian.
Hari ini aku memilih mengendarai motorku jaman dulu, jaman belum pusing mikirin jodoh, paling mentok mabuk integral, trigonometri dan kawan sepermainannya. Rasanya sudah lama tidak mengendarai motor yang sudah menemaniku sejak masih pakai putih abu-abu itu. Sejak kuliah tingkat tiga, motor ini akhirnya pensiun dan aku jadi lebih sering mengendari mobil punya papa.
"Baru datang, Thaf?" Aku yang baru melepas helm sudah disambut oleh Sheren yang sedang menenteng dua plastik hitam besar. Tidak lama setelah itu datang lagi seseorang dengan sepeda motor yang diparkirkan tepat di samping motorku.
"Baru sampai juga, Dan?" Kali ini aku yang bertanya, Sheren tidak mungkin mau beramah tamah menanyakan Zaidan. Bahkan sekarang hawa di sekitarku sudah terasa berbeda, sedikit canggung, ah tepatnya canggung sekali.
"Itu apaan, Sher?" Sheren menyodorkan dua plastik besar ke hadapanku.
"Tolong buangin dong ke tempat sampah ujung komplek." Aku melirik Zaidan yang masih lengkap dengan helm dan kunci motor yang masih tersangkut di tempatnya.
"Nah mending minta tolong Zaidan aja tuh, aku udah lepas helm ini, udah mager."
"Yaelah timbang make helm lagi aja mager!" Bukan masalah mager, tapi kaya udah nanggung gitu loh, kalau ada yang masih lengkap helm dan kuncinya, alias siap pergi lagi, ngapain harus aku?
Sorry Sher, aku emang se-mager itu.
"Ya udah Sher, aku aja yang buangin." Sheren hanya diam sambil memerhatikan Zaidan dan dua plastik yang dipegangnya secara bergantian. Aduh sumpah deh aku gerah melihat mereka yang jadi begini. Padahal di zaman dulu mereka belum sempat jadian, gimana kalau dulu sempat jadian dan sekarang pisah, bisa-bisa ga bakal pernah tegur sapa kali ya?