17 Reuni

1.9K 175 4
                                        

-Mungkin ada beribu bunga di ladang, tapi hanya akan ada 1 yang kupetik dan kubawa pulang-

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

-Mungkin ada beribu bunga di ladang, tapi hanya akan ada 1 yang kupetik dan kubawa pulang-

Lapangan di belakang rumah sakit mulai ramai, tidak di tengah lapangannya tapi mereka kumpul berkelompok-kelompok di pinggir lapangan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Lapangan di belakang rumah sakit mulai ramai, tidak di tengah lapangannya tapi mereka kumpul berkelompok-kelompok di pinggir lapangan. Sedang hanya dua tiga orang yang berseliweran di tengah lapangan—mengecek sound system dan membersihkan lapangan dari sampah dedaunan. Dibanding membantu mereka lebih senang bergibah di pinggir lapangan, itu posisi yang nyaman dan strategis.

"Paling seneng deh kalau udah jam senam." Aku baru menyelipkan handuk kecil di saku belakang celana, lalu ikut duduk di samping dokter Radit yang terlihat berguman, tapi masih terdengar di telingaku. Jangan heran, kami memang sempat berseteru waktu itu, tapi seperti pertengkaran kaum adam pada umumnya tidak butuh waktu bertahun-tahun atau sampai melewati dua kali lebaran untuk kami saling sapa satu sama lain, kami sudah berbaikan dengan sendirinya. Apalagi setelah kabar aku menolak Nayla menguap, dia malah teramat ramah kepadaku. Aku jadi curiga, kemarahannya saat itu sepertinya, pelampiasan untuk meluapkan kecemburuannya selama ini.

"Kenapa?"

"Alah kamu kan cowok juga, masa ga ngerti?" Kedua alis matanya digerakkan naik turun. 

Oh oke aku mulai paham alur pikirannya. Tolong jangan mengumpat, lelaki memang punya keahlian luar biasa pasal imajinasi, apalagi yang liar-liar. Itu sebabnya sangat wajib, kudu, dan harus bagi lelaki untuk menundukkan pandangan. Tujuannya ya untuk menghindari objek yang bisa memancing imajinasi itu muncul.

"Ntar Nayla marah lho," ujarku pada Radit yang matanya sudah sibuk mengamati para perawat muda dengan kaos training, yang kalau boleh dibilang cukup ketat sebenarnya. 

Mendengar ucapanku Radit menyenggol bahuku dengan lengannya. Kini mata dokter Radit mendelik sinis kepadaku, dia sempat berdecak kesal sambil memerhatikan sekeliling.

"Ga sekalian ngomongya pakai mic yang dipegang dokter Alfa? Biar semua tahu! Lagian tahu dari mana sih?"

"Saya kan cowok, masa gitu aja ga ngerti?" balasku, dokter Radit hanya memutar bola matanya.

"Kalau dipikir rasional ya, dia kan udah cantik, pintar, ramah lagi, kenapa dokter Althaf nolak, padahal dia dulu lho yang nembak." Aku sering juga berpikir begitu, aku bodoh ya nolak Nayla? Tapi kenyataannya tidak ada penyesalan yang aku rasakan setelah menolaknya malah aku merasa lebih lega telah memperjelas batas hubungan kami, setidaknya dia tidak diam-diam berharap padaku lagi, kan? Karena aku tidak bisa memenuhi harapannya.

Menjemput Tulang RusukCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang