23 Terusik

1.6K 147 3
                                        

-Aku siap bertanggung jawab atas perasaan yang sudah lama kupinta pada Yang Maha Pemilik Cinta agar dianugerahi pada hatiku yang telah lama mati

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

-Aku siap bertanggung jawab atas perasaan yang sudah lama kupinta pada Yang Maha Pemilik Cinta agar dianugerahi pada hatiku yang telah lama mati. Maka saat sekarang seseorang itu tepat di hadapanku aku akan siap mengajaknya melangkah ke tahap yang lebih serius.-

Hujan semalam ternyata masih tersisa pagi ini

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Hujan semalam ternyata masih tersisa pagi ini. Suara wiper yang bergerak bolak-balik menyapu jendela mobil beradu dengan sahut-sahutan klakson kendaraan yang memaksa pergerakan yang lebih cepat dari kendaraan yang berada lebih depan. Jalanan yang cukup padat karena banyak pengguna jalan memutuskan menggunakan kendaraan beroda empat untuk menembus hujan.

Dingin hujan dan AC mobil ditambah rintik hujan di depan mata seperti menghipnotis mata agar terlena ke ruang mimpi. Walau tanpa AC sudah terasa dingin, tapi dengan mobil yang tertutup rapat begini di tambah hujan di luar sana tidak mungkin aku mematikan mesin pendingin itu yang ada aku yang bakal repot karena jendela yang berembun.

Walau sekarang ini tidur adalah pilihan yang paling nyaman tapi dengan wajah setengah mengantuk aku paksakan badan ini agar tetap sampai rumah sakit tepat waktu. Banyak rentetan pekerjaan yang harus diselesaikan hari ini. Sebelumnya aku sudah membuat kopi dan membawanya dengan tumblr, kurang baik sebenarnya minum kopi pagi-pagi tapi mau bagaimana lagi? Daripada ngantuk waktu ngadepin pasien, lebih gawat kalau begitu.

Saat sampai di parkiran masih terlihat sepi, mungkin orang-orang akan datang sedikit telat namanya juga lagi hujan, tidak semua orang yang punya mobil untuk menebus hujan, tidak banyak pula orang yang tubuhnya tahan menebus hujan menggunakan mantel hujan berkendara motor.

Aku langsung berjalan menuju ruang rapat, pagi ini katanya ada meeting terlebih dahulu. Ruangan masih tampak lengang saat aku baru membuka pintu, tapi di baris ke tiga sudah ada Bang Ikhsan yang sibuk dengan gadget-nya, aku pun tanpa pikir panjang langsung menghampirinya. Walau menyebalkan, tapi Bang Ikhsan adalah salah satu rekan yang paling akrab denganku.

"Ngapain aja tadi malem? Kuyu banget tu mata."

"Kebablasan nge-game bareng Ali."

"Belum kuliah lagi?"

"Lusa udah berangkat." Bang Ikhsan hanya mengangguk, pagi ini dia sedang dalam suasana kurang baik, buktinya kalem sekali pagi ini biasanya kan kalau lihat aku pasti julidnya banyak sekali.

"Althaf? Di sini masih ada yang kosong?" Aku tersentak dan saat menatap wajah yang memanggilku tiba-tiba wajahku terasa panas, mungkin kalian bisa menebak siapa yang memanggil.

"Eh, apa, Shaf?

"Di sini masih ada yang kosong?" Aku melemparkan pandanganku tanpa sadar ruangan memang sudah penuh sekarang, sedangkan di sampingku masih tersisa dua kursi.

"Kosong kok," ucapku sambil menepuk kursi di sebelahku.

Hati aku juga kosong siap diisi sama kamu.

Baru saja aku mau mempersilakan dia duduk sudah ada orang lain yang tiba-tiba mendaratkan bokongnya di sana.

"Udah Shaf, kalau sama Althaf ga usah izin-izin langsung duduk aja."

"Eh kamu Dan, baru sampai?" Zaidan menoleh ke arahku sambil mengangkat sebelah alisnya lalu mengalihkan tatapannya ke Shafa tanpa mau repot menjawab pertanyaanku, satu lagi temanku yang paling akrab dengan sifat menyebalkannya.

"Udah Shaf duduk sini," ujar Zaidan sambil menepuk kursi di sebelahnya seperti yang aku lakukan sebelumnya. Shafa tampak tersenyum canggung lalu duduk di sebelah Zaidan. Entah mengapa aku merasa keberatan karena harus ada Zaidan di antara aku dan Shafa.

Astaghfirullah

Apa yang sudah aku pikirkan? Harusnya aku berterima kasih dengan Zaidan. Kalau sempat aku duduk berdekatan dengan Shafa bukan tidak mungkin pikiran dan hatiku melayang kemana-mana.

***

Sesaat setelah keluar dari ruang briefing aku langsung menuju kantin karena merasa sedikit kelaparan. Ah aku baru ingat karena terburu-buru aku tidak sarapan pagi ini. Pagi ini aku kesiangan, dan belum sempat sarapan. Andai saja punya istri pasti ada yang bagunin, pasti ada yang buatin sarapan.

"Mbak somay, bungkus ya."

"Saya juga, Mbak," sahut Bang Ikhsan.

Di sudut kantin ada Shafa dan dokter Hanif yang sedang berbincang, semenjak bertugas di sini dan kalau tidak ada Cantika Shafa memang tampak sering terlihat bersama dokter Hanif. Wajar saja sih, mereka satu almamater pastilah akrab. Tapi kenapa ya rasanya sedikit tidak nyaman. Rasanya seperti paru-paru ini diikat tali dengan kencang lalu tenggorokan disumbat biji kedodondong, ini sesak lho.

"Kamu naksir sama Shafa ya, Thaf?" Aku seketika terkejut menatap Bang Ikhsan yang berdiri di sampingku melihat arah yang tadi kulihat, ke arah Shafa.

"Kok rasanya ga seneng ya lihat Shafa sana dokter Hanif, aku denger itu tadi," ujar Bang Ikhsan dengan nada menuduh.

Bodoh, jadi tadi aku menyuarakan isi pikiranku tanpa sadar?

Bang Ikhsan menaik-turunkan alisnya, kilat jahil kini tampak di matanya. Aku tahu aku sudah tertangkap basah sekarang. Apalagi sekarang aku merasa mulutku terkunci rapat untuk menyuarakan penyangkalan. Aku hanya bisa pasrah sekarang.

"Cemburu ya sama Hanif?"

"Bacot, Bang!"

***

Belum selesai meledekku di kantin, Bang Ikhsan mengikut sampai ke ruanganku. Apalagi kalau bukan untuk kepo. Kami sudah seperti geng cewek-cewek yang lagi ghibahin mantan gebetan cewek-cewek itu yang sekarang macarin mantan sahabat si cewek-cewek itu.

Bingung? Mohon maklumi aku lagi laper dan ngantuk ini.

"Jadi sekarang rencana kamu gimana? Mau lamaran kapan?" Aku berdecak ya kali langsung lamaran, jantungan anak orang gak ada angin gak ada hujan langsung lamaran.

"Ya ga nge-gas juga." Ibaratnya main bola ya pemanasan dulu lah masa langsung gocek-gocek, ntar salah urat.

"Terus mau kamu ajak pacaran?" Ya nggak juga sih, aku tidak mau pacaran juga, aku kan inginnya serius.

"Kalau ga salah bukannya kamu maunya serius ya? Kamu suka sama Shafa, punya niat nikah, kan?" Aku melihat ekspresi Bang Ikhsan yang menatapku menyelidik. Aku memang sudah menyadari perasaan lain yang kini tumbuh di hatiku, tapi untuk menikah?

Aku menggelenglan kepala saat sebersit keraguan merasuki pikiranku, tidak!

Aku siap bertanggung jawab atas perasaan yang sudah lama kupinta pada Yang Maha Pemilik Cinta agar dianugerahi pada hatiku yang telah lama mati. Maka saat sekarang seseorang itu tepat di hadapanku aku akan siap mengajaknya melangkah ke tahap yang lebih serius.

 Maka saat sekarang seseorang itu tepat di hadapanku aku akan siap mengajaknya melangkah ke tahap yang lebih serius

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Menjemput Tulang RusukCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang