Althaf sedang sangat bingung mencari tulang rusuknya, alias penyempurna iman, kalau kata lumrahnya, jodoh.
Apalagi teman-teman sebaya sudah mulai naik pelaminan. Mama dan keluarga juga sudah mendesak dengan pertanyaan, "Kapan nikah?"
Dikira nyari j...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
-Namanya juga jatuh hati, gak pernah tahu kapan dan pada siapa akan terjadi, tahu-tahu udah jatuh aja-
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Thaf, kenapa muka kamu merah?" Aku melihat Bang Ikhsan yang kini duduk di sampingku sambil membawa sepiring sate dan cake. Aku sebenarnya sudah menduga wajahku memerah karena sedari tadi wajahku terasa panas, apalagi kalau bertemu Shafa.
Mungkin terdengar klise dan gomabalan murahan, tapi semenjak aku menyadari perasaan yang sebenarnya tersembunyi, semua terasa berbeda kalau berurusan dengan Shafa.
"Gimana? Udah ada yang nyantol belum?"
Nyantol? Gantungan kunci kali ah nyantol.
"Sepupu Cantika boleh juga tuh, manis."
"Istri Bang Ikhsan ga marah ya abang suka merhatiin cewek-cewek gini?" Bang Ikhsan berhenti menggigit sate, lalu meletakkan tusuk sate di piringnya. Tangannya beralih menepuk pundakku. Aku sempat melirik tangannya tajam, sepertinya Bang Ikhsan sudah tahu aku sudah cukup fobia dengan tepukannya yang bukan main sakit itu, pada akhirnya dia menarik lagi tangannya.
"Aku ga maksud apa-apa, aku cuman pingin biar kamu cepat melepas masa lajang, kamu itu mudah terhasut, kaya sama Aya kemarin, untung balik waras lagi?" Aku tersenyum melihat Bang Ikhsan yang kini melanjutkan gigitan satenya.
"Iya, iya, saya khilaf kemarin, makasih Bang."
"Lagi pula ini kan balas budi aku atas bantuan kamu waktu karir aku dijepit sama si Lisa." Aku terkekeh salah sendiri dulu suka banget baperin anak gadis orang, untung saja aku bisa jinakin amarah Lisa. Dan lebih beruntungnya lagi playboy satu ini bertemu penjinak yang tepat, ya istrinya sekarang.
Di sudut ruang peseta aku melihat Shafa yang sedang bercengkerama dengan teman-teman yang lain semasa SMA. Penampilannya berbeda sekali saat ini, mungkin karena dia memakai perona wajah berwarna merah muda, eye shadow berwarna coklat dan lipstick yang kemerahan, yang membuatku sadar Shafa memiliki aura kecantikan lain yang membuatku harus berkali-kali beristighfar karena kecanduan menatap wajahnya. Dan lagi, jantungku berdebar hebat, jatuh hati pada Shafa adalah satu hal yang selalu mulutku ingkari tapi kali ini hati ini membuktikan satu hal, mulut dan hati terkadang memang tak satu suara.