Althaf sedang sangat bingung mencari tulang rusuknya, alias penyempurna iman, kalau kata lumrahnya, jodoh.
Apalagi teman-teman sebaya sudah mulai naik pelaminan. Mama dan keluarga juga sudah mendesak dengan pertanyaan, "Kapan nikah?"
Dikira nyari j...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
-Belum tentu yang kedua kalinya juga cinta, mungkin itu hanya bagian dari euforia reuni-
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Salah satu kafe yang baru buka lima bulan lalu dipilih untuk acara reuni kali ini. Hari ini kafe itu hanya khusus melayani reuni SMA Ganesha, dua angkatan sekaligus. Untung saja kafe ini terdapat tiga lantai dan ada taman yang luas di halaman belakang. Makanan juga sudah tersaji di sudut-sudut kafe, jadi kami hanya tinggal makan, dan ini semua free. Mungkin kita perlu berterima kasih pada Deon yang kini sudah menjadi pengusaha sukses dengan beberapa kafe dan restoran yang menjamur dimana-mana. Tidak salah dulu dia tidak pernah bolos setiap pelajaran peminatan Ekonomi, tapi selalu bolos setiap pelajaran Kimia.
"Udah jangan dilihatin terus Sheren-nya." Aku menepuk pundak Zaidan yang hanya duduk diam terpaku pada satu titik, kumpulan pasukannya Sheren.
"Apaan sih, Thaf? Mau balas dendam?" Aku hanya terkekeh lalu mengambil pastel di piring Zaidan.
"Ini gak ada isi mayo atau telur, kan?" tanyaku memastikan. Semenjak kejadian saat SMA dulu aku selalu memastikan betul apa yang akan aku makan. Reaksi alergi itu gak bisa dianggap biasa, salah-salah bisa fatal akibatnya.
"Udah makan aja, aman kok itu." Aku membolak-balik pastel itu, menekan-nekannya sedikit sebelum masuk ke mulutku.
"Enak ya."
"Ya iyalah enak, makan punya orang!"
"Ga ikhlas nih?"
"Bacot ah!" Aku menepuk pundak Zaidan lalu memerhatikan raut wajahnya yang suram.
"Ngegas amat, Bang." Dia menghembuskan napasnya berat.
"Kamu benar-benar belum bisa move up?" Zaidan mengangkat kedua ujung alisnya. Kenapa move up? Bukannya move on?
"Bergerak itu bukan ke samping tapi ke atas, alihkan hati ke Yang Kuasa."
"Mendengus mulu," sahutku saat melihatnya menghembus napas berat lagi sambil mengaduk es jeruknya.
Aku tahu perasaan Zaidan, menjadi dia memang serba salah. Kisahnya dengan Sheren memang cukup rumit. Mereka saling menintai tapi mereka tidak berjodoh. Zaidan yang belum memiliki kepercayaan diri untuk melangkah ke tahap lebih serius harus berlapang dada mundur saat Sheren memilih menerima lamaran orang lain.