Althaf sedang sangat bingung mencari tulang rusuknya, alias penyempurna iman, kalau kata lumrahnya, jodoh.
Apalagi teman-teman sebaya sudah mulai naik pelaminan. Mama dan keluarga juga sudah mendesak dengan pertanyaan, "Kapan nikah?"
Dikira nyari j...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
-Namanya jatuh hati, gak tahu pada siapa dan kapan tiba-tiba jatuh aja-
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tidak seperti biasanya aku pulang sangat larut hari ini tanpa izin dengan orang rumah. Sedari tadi ponselku tak berhenti berdering, semua panggilan dari Mama, tapi perasaanku sedang tidak baik saat ini, jadi aku hanya mengiriminya pesan agar tidak mengkhawatirkan aku. Lembar terakhir rekam medis di meja kerjaku menjadi pertanda kalau aku sudah harus pulang, tidak ada lagi alasan untuk bertahan di sini. Malam yang sepi terasa dingin menusuk tulang. Tapi aku malah merasa sakit karena terus terbayang bunyi patah dari hati yang belum sempat menyatakan perasaan.
Saat membuka pintu pagar rumah, aku melihat tirai gorden yang tersingkap. Pasti mama menungguiku pulang, padahal aku sudah bilang agar Mama tidak perlu bergadang menungguiku, malam terlalu dingin dan sunyi untuk wanita seusia mama, bukannya lebih baik istirahat? Dengan perlahan aku memarkirkan kendaraanku agar tidak terlalu berisik, para tetangga pasti sudah tertidur lelap. Bisa-bisa aku akan ditegor besok paginya..
"Assalamu'alaikum," ucapku sambil membuka pintu, benar saja mama menjawab salam sambil sibuk membawa barang bawaanku, aku merasa tidak enak sudah merepotkan.
"Mama kenapa belum tidur?"
"Orang tua mana yang gak khawatir anaknya pulang larut gini, udah makan?" Aku mengangguk.
"Nih minum dulu, habis itu mandi ya, Mama lagi hangetin air." Mama meletakkan segelas teh hangat di meja makan, aku hanya memerhatikan kesibukannya dalam diam. Orang yang sangat baik pun dapat terluka bila ketulusannya diabaikan tapi seorang orang tua tidak akan pernah terluka demi anaknya. Lihatlah perlakuanku seharian ini yang tak mengabarinya sama sekali pasti menyebalkan, tapi masih mengurusku tengah malam begini.
"Makasih ya, Ma" Mama menatapku lekat, aku seharusnya tidak lupa seberapa kuat feeling seorang ibu, mama pasti merasakan kecewaku, sedihku dan rapuhku. Mama menatapku hangat lalu mengusap pundakku.
"Jangan terlalu memaksakan diri ya, Nak." Aku kira Mama akan bertanya apa yang terjadi padaku, tapi mama hanya diam, aku cukup lega, sikap mama ini malah membuatku terharu. Sungguh aku sangat sayang Mama. Maafkan Althaf yang belum bisa menyempurnakan kebahagiaan Mama.
***
Setelah menutup shalat malam dengan doa, pandanganku tertuju pada jendela yang terbuka. Malam tampak gelap dan sunyi, hanya suara serangga malam dan detak jarum jam yang mengisi hening. Seperti perasaanku yang kosong dan hampa, sepertinya langit mengetahuinya. Rasanya belum lama perasaan ini mekar lagi tapi sudah harus kandas tak berharap. Andai saja yang menjadi pesaing adalah orang lain, masalahnya yang harus dihadapi adalah sahabat sendiri, orang yang berarti bagiku. Aku memilih mundur dan melepas perasaan ini walau jujur saja berat, sangat berat. Masalahnya perasaanku pada Shafa bukan kembang api yang hanya meledak sekali dua kali lalu hilang di telan gelap malam, ini perasaan yang cukup dalam.
"Benar kata Mama kamu, kamu hobi banget nangkring di pinggir jendela." Aku melihat Papaku yang berdiri di muka pintu. Kenapa Papa belum tidur? Bukannya jarang-jarang beliau bisa beristirahat di rumah?
"Papa boleh masuk?" Aku hanya mengangguk, apa hakku melarang, lah rumah ini punya papa.
"Rasanya sudah lama sekali Papa ga masuk kamar kamu ya? Dulu waktu kamu masih sekolah sering ke sini bangunin kamu sama adik kamu buat solat shubuh ke masjid, sekarang udah bisa bangun sendiri." Dulu juga rasanya rambut Papa masih tampak hitam, kini sudah mulai memutih. Waktu berputar itu seperti aliran sungai yang terus mengalir tanpa peduli untuk singgah terus berputar sampai samudera.
"Nanti kalau kamu sudah menikah, kamar ini bakal kosong," sahut papa sambil terkekeh.
"Papa dulu gimana bisa nikah sama Mama?" Papa menatapku heran lalu kemudian tertawa kecil.
"Kamu sudah masuk fase penasaran dengan hal semacam itu ya?" Aku hanya menggaruk tengkukku yang tak gatal, aku merasa canggung.
"Dulu Papa dan Mama tidak terlalu dekat, hanya sebatas kenal saat kuliah, kebetulan dulu kami satu SMA, bahkan punya pasangan masing-masing saat itu."
"Wah beneran?" Papa mengangguk lalu mata papa tampak menerawang, mungkin mengingat-ingat lebih jauh kepingan masa lampaunya.
"Tapi kami tidak begitu beruntung dalam hubungan, pacar papa ternyata lebih mencintai sahabat papa, dan pacar mamamu malah menikahi wanita lain, singkatnya kami sama-sama terpuruk karena cinta saat itu." Aku melihat gurat sedih di wajah tua papa, mungkin itu salah satu kenangan pahit baginya.
"Lalu gimana Papa malah bisa sama Mama?" Papa tiba-tiba tersenyum.
"Melihat umur papa yang sudah cukup untuk menikah tapi masih jomblo, nenekmu menjodohkan papa dengan mama kamu yang rupanya mahasiswi nenekmu dan kebetulannya lagi mama kamu teman satu organisasi papa di kampus dan pernah satu SMA" Papa tampak antusias menceritakannya.
"Apa yang membuat papa akhirnya mencintai mama?" Papa memandang cincin pernikahan yang melingkari jari tengahnya.
"Selama dengan pacarnya mamamu tidak pernah mengungkapkan rasa cinta dengan lisannya, mungkin itu yang menjadi alasan kenapa pacar mamamu dulu memilih menikahi wanita lain, tapi sebenarnya mamamu punya alasan mengapa tidak pernah mengungkapkan perasaannya."
Alasan? Apa alasannya?
"Mamamu punya prinsip hanya suaminya yang akan mendengar kata cinta dari bibirnya, dan hari itu, papa menjadi orang pertama yang mendengar ungkapan indah itu, saat itu juga papa jatuh cinta pada mamamu." Aku melihat papa tampak salah tingkah, papa benar-benar mencintai mama.
"Kamu sendiri?" Aku sempat terdiam cukup lama hanya untuk menjawab pertanyaan balik ini saat hatiku tidak baik-baik saja.
"Althaf jatuh hati sama wanita yang tidak pernah Althaf sangka."
"Namanya jatuh hati, gak tahu pada siapa dan kapan tiba-tiba jatuh aja, lalu apa masalahnya."
"Dia dijodohkan Pa, sama orang yang aku kenal baik," ucapku, aku rasa suaraku bergetar saat mengatakan ini.
"Lalu kamu kecewa?" Aku mengangguk, benar, aku memang kecewa, tepatnya lebih kecewa dengan diriku sendiri, kecewa dengan apa saja yang telah aku perbuat, mungkin setelah ini hubunganku dengan Zaidan atau Shafa akan canggung. Aku memang naif, aku bisa menceramahi Sheren tapi tidak bisa mengaplikasikannya pada diri sendiri.
"Ya namanya hidup ga semulus jalan tol, bahkan jalan tol kadang ada lubangnya, ada kerikilnya, ga halus-halus banget juga, kamu hanya perlu berusaha, berdoa dan serahkan semuanya pada Allah, yakinlah apapun yang terjadi itulah yang terbaik." Papa menepuk pundakku.
Ya yang papa bilang benar, benar sekali. Tapi tetap saja sakit, kecewa itu tetap terasa. Rasanya wajar, aku hanya manusia biasa yang masih perlu belajar banyak pasal sabar dan ikhlas. Mungkin Shafa memang bukan yang terbaik, dia bukan untuk seorang lelaki biasa bernama Althaf.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.