Althaf sedang sangat bingung mencari tulang rusuknya, alias penyempurna iman, kalau kata lumrahnya, jodoh.
Apalagi teman-teman sebaya sudah mulai naik pelaminan. Mama dan keluarga juga sudah mendesak dengan pertanyaan, "Kapan nikah?"
Dikira nyari j...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
-Saat waktu telah berlalu, kenangan lah yang tersisa-
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Thaf bisa serius ga sih ngerjain tugasnya?" Aku yang sedari tadi sibuk bercanda dengan Devan teman semejaku. Saat mendengar suara tegas Sheren dan melihat wajah misuh-misuhnya seketika aku menegakkan punggung sembari menatap kembali deretan huruf dan angka pada selembar kertas di hadapanku, mata ini memang menatap fokus, tapi sungguh isi otakku kini kosong, benar-benar kosong, yang aku baca hanya sekadar lewat tanpa sempat tercerna.
"Ck aku bener-bener benci fisika, ngapain juga kelapa jatuh dihitungin, ga jelas banget, sumpah!" gumamku yang langsung dibalas decakan sinis Sheren. Ternyata gadis itu mendengarnya. Lagian mak lampir satu itu ga bisa apa sehari aja damai sama aku, kenapa bawaannya ngajak tubir sih.
"Ya udah, bagian kamu udah selesai kan, Shaf? Bantuin ni anak dugong."
Apa anak dugong? Dasar Mak Lampir!
Pada akhirnya Sheren membantu pekerjaan Devan dan Shafa membantuku. Melihat Sheren membantai Devan benar-benar mengerikan, gak salah Fariz menjulukinya mak lampir, beruntungnya aku karena diajari Shafa yang lembut setidaknya aku harus bersyukur.
"Yang lembut ya, Shaf." Shafa menatapku heran.
"Ngajarinnya yang lembut, aku bener-bener ga ngerti ini, kalau dibentak-bentak malah makin ga mudeng." Shafa hanya tersenyum sambil menggeleng kecil, aku heran sejak hari pertama sekolah entah sudah berapa kali Shafa geleng kepala melihatku, mungkin dia heran kenapa bisa ada manusia sepertiku.
Shafa mulai menjelaskan soal yang sedang kukerjakan, dia tampak serius dan fokus, tidak seperti Sheren dia sangat lembut mengajarkannya, saking lembutnya aku sampai tidak dapat mendengar apa pun yang diucapkannya. Sudah khas sifat Shafa sih, suaranya itu lho, kaya putri keraton. Karena tidak ingin menginterupsi kefokusan gadis itu, akhirnya aku yang berinisiatif mendekatkan diri ke arah gadis itu berharap suaranya terdengar lebih jelas.
"Ternyata kamu bukan anak dugong, tapi capung kebon ya, Thaf." Aku melihat Sheren yang menatapku nyalang, kenapa lagi nih?
"Ngapain kamu deket banget sama Shafa?" Aku melirik Shafa, dan seketika terkejut, benar saja mungkin jarak wajah kami kurang dari sejengkal.