Althaf sedang sangat bingung mencari tulang rusuknya, alias penyempurna iman, kalau kata lumrahnya, jodoh.
Apalagi teman-teman sebaya sudah mulai naik pelaminan. Mama dan keluarga juga sudah mendesak dengan pertanyaan, "Kapan nikah?"
Dikira nyari j...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
-Maaf aku pengecut, karena aku terlalu takut sakit hati-
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Rasanya baru kemarin aku sering mengeluh karena hujan, namun lihat lah sekarang, betapa teriknya matahari, padahal masih jam sepuluh pagi. Dedaunan pohon ketapang mulai menghitam, bahkan beberapa sudah gugur. Rasanya belum lama aku dan Shafa bertemu lagi, waktu itu rasanya perasaan ini biasa saja, selayaknya teman lama yang kembali bertemu namun sekarang semua berubah ada perasaan lain yang harus dipertanggungjawabkan.
"Thaf, nih hasil evaluasi laporan kemarin." Spontan aku menoleh ke sebelah kiriku, sudah ada Zaidan yang menyodorkan amplop coklat dengan cap khas Rumah Sakit Pratama.
"Ck, ngagetin aja ah, dateng tuh pake notif dong." Setelah amplop itu berpindah ke tanganku, kini kedua tangan Zaidan yang bebas beralih bersedekap.
"Lagi period ya? Perasaan ngegas mulu dari kemarin."
Iya ya?
Kalau dipikir-pikir benar juga, belakangan ini sikapku sepertinya memburuk. Tidak jarang aku menjawab ketus ucapan teman-temanku, bahkan anak-anak koas sudah mengganti predikat dokter tergalak yang awalnya dipegang Dokter Alfa menjadi milikku. Pikiranku benar-benar sedang penuh dan lelah sekarang, dan parahnya malah berdampak dengan keseharianku.
"Lagian kamu aja Thaf yang dari tadi melamun makanya ga sadar disamperin."
"Maaf, Dan, aku lagi banyak pikiran." Aku mengusap keningku yang tiba-tiba terasa gatal sedang Zaidan berdecak sinis.
"Masih belum ngasi tahu Shafa?" Pertanyaan yang sulit kujawab, karena sudah pasti jawabannya belum. Saat Zaidan mendengar jawaban itu, pasti dia akan berceramah lebih panjang lagi. Kini Zaidan menghela napas, mungkin sudah terlalu kesal.
"Terserah aja deh, Thaf, kamu udah dewasa, tapi satu yang kamu ingat jangan sampai menyesal." Lalu dia pamit sambil menepuk bahuku beberapa kali. Setelah menjauh beberapa langkah pemuda itu berbalik, "Nanti malam ikut kan ke kafe suaminya Cantika?" Aku hanya mengangguk mengiyakan.