16: Fall in Love

5.9K 486 42
                                        

“When we’re apart, you know we’ll be broken.”
—BTS, Hold Me Tight—

-

Sifra Lee

“Jadi, bagaimana?”

“Apanya yang bagaimana?” Tanyaku, menoleh pada sumber suara. Jimin berada disampingku dengan mata dan tangannya yang terlalu fokus pada ponselnya. “Keputusanku sudah kubuat dan aku tidak berniat untuk mengubahnya lagi. Aku, Sifra Lee, berjanji untuk tidak akan pernah lagi mendatangi rumah Jeon Jungkook di Busan dan merawat Jeon Triplets.”

Jimin menoleh sekilas, namun pandangannya kembali pada ponselnya lagi. Aku pada akhirnya diam dan menunggunya untuk selesai bermain terlebih dahulu. Karena akan percuma saja jika aku berbicara panjang lebar disaat Jimin tengah bermain video games. Ia tidak akan fokus untuk mendengarkan kalimatku.

Jadi, aku hanya diam dan menunggunya.

Setengah jam kemudian, Jimin menyelesaikan permainannya dengan berteriak. “Yes, I fucking won!” Kegembiraan menyertai dirinya dan terpampang jelas diwajahnya. Apa bagusnya, sih? Menang dalam video games saja senangnya sampai seperti itu? “Oke, lanjutkan. Tadi sampai di mana pembicaraan kita?”

“Ya, kau bertanya apa keputusanku dan aku bilang bahwa aku tidak akan pernah lagi datang ke sana. Aku tidak mau bekerja sebagai pengasuh anak lagi untuk Jungkook.”

“Kau yakin?”

“Iya,”

Jimin menggeleng. “Jawabanmu terdengar kurang meyakinkan. Sifra, aku tahu jelas bahwa kau masih ingin kembali ke sana. Aku sebenarnya sampai sekarang ini juga belum tahu apa yang menjadi alasan kalian bertengkar dan saling menjauh dari satu sama lain seperti ini. But I know for sure that you still want to go there. You cared about his sons. Aku tahu kau menyayangi anak-anaknya.”

Tentu. Aku sangat menyayangi triplets—lebih dari apa pun di dunia ini.

Jimin pun menggenggam tanganku dengan erat, “jangan pikirkan ego kalian masing-masing. Oke, kau dan Jungkook memang bertengkar. Ya, aku paham. Tapi, yang akan terlantar adalah anak-anaknya.”

“Tapi—”

“Kembali ke Busan. Bekerja lagi dan asuh anak-anaknya, Sifra. Jika kau tidak mau melakukan itu untuk dirimu atau untuk Jungkook, lakukan untukku dan untuk anak-anaknya. Mereka butuh kau. Mereka butuh kasih sayang dari seorang Ibu.”

Aku membasahi bibir, “iya, Jim, aku tahu. Tapi aku bukan Ibu mereka. Bahkan Ibu kandung mereka saja meninggalkan Jungkook dan anak-anaknya. Jadi, jika aku ingin berhenti dan tidak mau kembali lagi kesana, maka tidak ada masalah dengan itu.”

“Sifra . . .” panggil Jimin dengan kedua manik indahnya menatapku dengan dalam. Ya ampun, aku lemah! “Bisa kau bayangkan sesibuk apa atasanmu itu dengan pekerjaannya. Bahkan saat kau masih bekerja di sana, kau tahu dia selalu pulang larut malam. Siapa yang akan menjaga anak-anaknya? Siapa yang akan mengurus mereka?”

Aku bahkan tidak berpikir sampai sejauh itu. Aku tahu yang menjadi penyebab pertengkaranku dengan Jungkook dikarenakan adanya sedikit kesalahpahaman diantara kami pada malam itu.

Kami berdua memiliki egoisme yang tinggi. Dia egois. Aku lebih egois. Seharusnya tidak boleh seperti itu. Kami berdua adalah dua orang dewasa yang usianya cukup matang. Tapi pemikiran kami masih seperti anak umur lima tahun. Hanya karena sedikit salah paham, kami menjauhi satu sama lain. Atau bisa kukatakan bahwa aku yang menjauhi Jungkook dan anak-anaknya.

BABYSITTERTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang