“You just want what you can’t have.”
—Billie Eilish, Party Favor—
-
Sifra Lee
“Jungkook—”
Aku ingin memberhentikannya. Aku ingin Jungkook untuk berhenti sekarang juga dan menjauhkan dirinya sebelum aku semakin jatuh kedalam sentuhannya. Ini salah. Ini tidak boleh terjadi. Mengapa aku harus merasakan ini? Aku—meski aku membenci, namun ada saat-saat dimana aku tidak bisa menolak sentuhannya. Jungkook itu mustahil untuk ditolak, karena pesonanya saja mampu membuatku terpikat. Tidak peduli seberapa bencinya aku kepadanya.
Bibirnya menjelajahi leherku. Aku ingin ia berhenti, namun aku juga ingin ia untuk terus melanjutkan apa yang tengah dilakukannya hingga aku puas. Aku ingin Jungkook berhenti. Aku tidak ingin ia berhenti. Dua pemikiran itu bertentangan dalam benakku saat ini. Apa yang harus kulakukan? Ketika tangan kekarnya berada dipinggangku dan ia meremasnya, hal itu membuat aku merintih sedikit.
Aku—aku bahkan tidak tahu apa yang saat ini kupikirkan. Menjauh darinya atau justru meminta dirinya untuk melakukan yang lebih dari ini. Touch me, touch me, touch me, batinku berteriak. Aku ingin pergi dari sini sekarang juga, but I don’t think I can do that when he’s so fucking irresistible like this. Aku tidak bisa menolak sentuhannya, aku juga tidak bisa menolak dirinya dan pesonanya yang dengan kurang ajarnya mampu membuatku terpikat.
Jungkook berbisik, “eat with me.” Pintanya dengan suara yang begitu lirih. “Jangan pulang untuk malam ini, kumohon. Temani aku, ya? Aku tidak mau sendiri disini, Sifra.”
“B-But I have to go home . . .”
“Aku, um, aku akan membayarmu lebih. $200 tambahannya. Untuk malam ini, kumohon, menginap saja, ya? I don’t want to be alone tonight. I want you close to me.” Katanya, kemudian ia mengecup leherku sebelum akhirnya ia memberikan sedikit jarak. “Aku akan menunggumu di meja makan,” lalu, Jungkook pun pergi dan meninggalkanku yang masih tetap berada dalam posisi yang sama. Tidak berkutik sama sekali.
Permintaannya begitu aneh. Mengapa juga dia menginginkanku untuk bermalam disini dan menemaninya? Memangnya ada masalah jika dia sendiri disini? Bukannya dia sudah terbiasa untuk hidup sendiri? Entahlah, aku tidak tahu. Tawarannya cukup menggoda. Ini bukan persoalan uang tambahan yang ditawarkannya padaku, tapi ini tentang perasaanku dan detak jantungku yang semakin kencang setiap berada didekatnya.
Jika Jungkook terus ada didekatku, maka aku yakin, dia bisa mendengar detak jantungku yang beribu-ribu kali lipat lebih kencang dari detak jantung yang normal. Aku menghela napas dan segera menyajikan dalk-kalguksu yang sudah matang. Lalu, aku membawanya ke meja makan. Sesuai ucapannya tadi, ia membuktikannya bahwa ia menungguku di meja makan. Jungkook sudah melepas jas dan kemejanya serta celana panjangnya. Ia hanya memakai bokser hitam dan kaus oblong berwarna putih.
Jungkook tersenyum, “terima kasih sudah mau repot-repot masak untukku pada malam ini. Aku tahu, seharusnya kau sudah pulang karena pasti kau lelah, but I’d pay you for cooking me dinner,” katanya, “and for stay the night here, to keep me company.”
“Dinner?” Aku mengerutkan kening, “memangnya kau belum makan malam?” Gelengan kepala yang diberikannya membuatku kembali mengerutkan keningku lagi. Ia tidak makan malam? Jadi, ia terus bekerja tanpa henti? “Did you have lunch?”
KAMU SEDANG MEMBACA
BABYSITTER
FanfictionMenjadi babysitter bukanlah hal yang mudah. Terlebih lagi menjadi babysitter untuk tiga bayi kembar milik pria tampan seperti Jeon Jungkook. It was all fun, until one of them started to fall in love. STARTED: June 24th, 2019. FINISHED: September 26t...
