“From the way you would hold me, to the sweet things you told me, I just can’t find a way to let go of you.”
—Tamia, Officially Missing You—
-
Jeon Jungkook
Setelah berpikir ulang berkali-kali, akhirnya aku memutuskan untuk menemuinya. Meski awalnya aku ragu, tapi aku ingin tahu apa yang dia inginkan kali ini.
Kami duduk berseberangan dari satu sama lain di sebuah kafe yang letaknya jauh dari keramaian kota. Sejenak kami saling hening, hingga pada akhirnya ia memulai percakapan terlebih dahulu, dan hal itu membuatku memfokuskan diriku untuk menatapnya.
“Hey, it’s been awhile.” Katanya.
Aku mengangguk, “ya. Sudah lama kita tidak bertemu, semenjak kepergianmu satu setengah tahun yang lalu.”
“I’m sorry.”
“Tidak perlu. Jika kedatanganmu kemari dan memintaku menemuimu hanya untuk meminta maaf atas kesalahanmu padaku, kau tidak usah repot-repot begini. Aku sudah memaafkanmu.”
“Jungkook—”
“Aera, I’ve given you a chance to try and come back to me. Nomor ponselku masih sama, alamat rumahku juga. Kau tahu di mana keberadaanku, tapi kau tidak berusaha untuk kembali padaku.”
Aera membasahi bibirnya dan ia mengangguk pelan. “Aku tahu bahwa aku yang salah disini, Jungkook. Tapi, kau tidak tahu alasan yang sebenarnya mengapa aku memilih pergi.”
“Karena kau hanya memberikan secarik kertas berisikan surat permintaan maaf darimu. Kau pikir itu cukup? Aera, kau bukan hanya pergi, tapi kau juga meninggalkan anak kita. Atau, mungkin bisa kukatakan sekarang bahwa mereka anakku. Kau tahu apa, hak asuh mereka sudah sepenuhnya jatuh padaku. Aku tidak akan pernah melarangmu bertemu mereka, tapi, aku tidak akan pernah mengizinkanmu untuk mengurus mereka atau membawa mereka tinggal bersamamu. Pintu rumahku akan terbuka lebar kapanpun kau ingin datang berkunjung, tapi tidak lebih dari itu.”
“Iya, aku tahu,” ujarnya. Kemudian, Aera memaksakan senyum tipis untuk muncul diwajahnya. “Jadi, apakah aku boleh bertemu mereka sekarang?”
Aku menggaruk tengkukku. Astaga, sekarang ini, anak-anakku ada dirumah Sifra. Jika Aera datang kesana, yang ada keadaan menjadi runyam. Aku tahu bahwa Sifra sepertinya tidak suka dengan kedatangan Aera.
Dan juga, apabila Aera melihat Sifra, aku yakin ia akan berpikiran macam-macam tentang kami berdua.
Aku berdecak frustrasi, “bagaimana, ya? Memangnya harus saat ini juga? Aera, yang kuekspektasikan darimu sekarang adalah sebuah penjelasan mengenai kepergianmu. Kau meninggalkanku,”
“Tapi kau mengatakan bahwa kau sudah memaafkanku, Jungkook.”
“Yes, I forgive you. But I don’t forget what you did to me and to my children.”
“Tidakkah kau berpikir bahwa sebenarnya kepergianku ini juga salahmu?”
Aku menaikkan alisku, “bagaimana bisa itu salahku? Aku hanya mengatakan kepadamu bahwa aku belum siap untuk menikah. Tapi itu bukan berarti aku lari dari tanggung jawab. Aku akan membiayai semua kebutuhan anak-anakku, dan juga aku akan menafkahimu—jika saja pada saat itu kau tidak pergi.”
KAMU SEDANG MEMBACA
BABYSITTER
FanficMenjadi babysitter bukanlah hal yang mudah. Terlebih lagi menjadi babysitter untuk tiga bayi kembar milik pria tampan seperti Jeon Jungkook. It was all fun, until one of them started to fall in love. STARTED: June 24th, 2019. FINISHED: September 26t...
