Sifra Jeon
Menjalani kehidupan bersama Jungkook dan keempat anak kami bukanlah suatu hal yang mudah. Banyak yang harus kami lalui, mulai dari mengurangi ego masing-masing, memikirkan Jungwoo, Jungyeon, Junghyun dan juga Hanbyul secara bersamaan, hingga pada titik di mana kami harus bersatu dalam sebuah pemikiran untuk masa depan.
Itu sulit. Dalam pernikahan, hal itu begitu sulit. Pasalnya, yang harus kami jaga dan kami rawat bukanlah satu atau dua anak, melainkan empat. Jadi bukan perkara mudah dalam mengurusi keempatnya.
Jungkook memang sudah lama sekali berhenti menjadi bintang porno—tepatnya setelah dia melamarku dan memintaku untuk menjadi istrinya. Saat itu, segala hal yang menjadi kesenangannya telah berakhir. Tidak ada seks bebas lagi untuk dirinya, dan dunia pernikahan telah membatasi Jungkook, bahkan mengekangnya dalam suatu perjanjian sah yang diucapkannya bersama denganku pada hari pernikahan kami. Satu janji, satu tujuan, untuk selamanya.
Dalam empat tahun pernikahan kami, banyak sekali yang harus kami lewati. Suka dan duka bersama dalam mengurus dan membesarkan anak kami berdua.
Jujur, Jungkook merupakan laki-laki yang penuh dengan tanggung jawab. Dia selalu mementingkan keluarganya di atas apapun itu. Jungkook rela bekerja seharian—bahkan hingga lembur tengah malam, melewati sarapan, makan siang, bahkan makan malam—demi menafkahi anak-anaknya dan juga aku, istrinya.
Aku tahu bahwa Jungkook lelah. Maka dari itu, aku berusaha untuk menjadi istri yang baik dengan melayaninya kapanpun.
Malam ini, Jungkook pulang dengan wajah yang letih dan juga lesu. Pekerjaannya sebagai sutradara, bahkan produser film dan lagu telah menyita banyak waktunya untuk bermain bersama anak-anaknya. Bahkan untuk quality time saja, kami harus merencanakannya satu bulan sebelumnya. Sebegitu sibuknya Jungkook.
Aku menghampirinya dan membawakan secangkir teh hangat kepadanya. Lalu, aku membelai rambutnya dan bertanya, "how was your day, hubby?"
"Baik." Jawabnya singkat.
"Want me to give you a back massage?" Jungkook langsung menggeleng. Aku menghela napas. "Baiklah, lantas apa yang kau inginkan?"
Jungkook membasahi bibirnya, lalu ia berkata, "you. In the bed. Naked. Your ass in the air," pintanya. "Sekarang juga!" Terkadang, sisi dominannya selalu muncul. Meski aku suka, tapi aku benci jika Jungkook berlaku seperti ini.
Setiap kali dia pulang kerumah setelah seharian bekerja, yang di cari olehnya adalah seks, seks, dan hanya seks saja. It wasn't a sweet and caring sex, it was rough and it hurt me so damn much every time he thrust his dick inside me. Jungkook seperti orang yang haus seks. Maniak seks. Begitu menyeramkan akhir-akhir ini.
Tapi aku tetap berpikir positif dan mengambil kesimpulan bahwa Jungkook mungkin perlu untuk melepaskan penatnya dari lelah setelah bekerja seharian. Mungkin seks dapat membantu untuk menjernihkan otaknya.
Anak-anak kami sudah tidur semuanya—dikarenakan memang sekarang sudah larut malam, dan Jungkook mengambil kesempatan ini untuk melakukan seks bersamaku. Sebagai istri, tentu aku tidak akan bisa menolaknya. Memuaskan dan memenuhi nafsu suami itu merupakan hal yang paling penting dalam pernikahan.
Dua jam kami saling mencari kepuasan satu sama lain—atau lebih tepatnya, Jungkook yang sibuk mencari kepuasannya sendiri. Jungkook tidak lagi memikirkanku dan orgasmeku. Setelah ia mencapai klimaksnya, maka Jungkook akan berhenti dan segera pergi untuk tidur.
KAMU SEDANG MEMBACA
BABYSITTER
FanfictionMenjadi babysitter bukanlah hal yang mudah. Terlebih lagi menjadi babysitter untuk tiga bayi kembar milik pria tampan seperti Jeon Jungkook. It was all fun, until one of them started to fall in love. STARTED: June 24th, 2019. FINISHED: September 26t...
