“Perhaps the reason this night looks so beautiful is not because of these stars or lights, but us.”
—BTS, Mikrokosmos—
-
Sifra Lee
Hari ini, aku sama sekali tidak berniat untuk pergi ke kampus. Tapi, aku harus. Karena tugasku memang harus dikumpulkan sekarang. Aku tidak mau mengulang mata pelajaran dan menjadi mahasiswa abadi, jadi aku memaksakan diri ini untuk melangkahkan kakiku menginjakkan kampus.
Jimin tidak mengantarku untuk hari ini, dikarenakan dia harus menjemput Seolhyun dan mengantar gadis itu ke Daegu—kerumah orang tuanya. Orang tua Seolhyun memang sangat dekat dengan Jimin. Aku tahu sedekat apa mereka. Jadi, wajar saja jika Seolhyun meminta Jimin untuk mengantarnya. Meski sebenarnya aku masih bingung mengapa Seolhyun harus meminta tolong pada Jimin? Padahal kan mereka sudah berpisah.
Dua jam kulewati, memaksakan mataku untuk terbuka lebar dan memperhatikan dosen didepan kelas, dan juga telingaku untuk mendengarkan segala ocehannya yang terasa seperti angin berlalu. Aku benar-benar tidak niat kuliah untuk hari ini, jadi wajar saja jika aku bermalas-malasan. Ditambah dengan bayangan Jungkook serta triplets mulai memenuhi pikiranku. Duh, mengapa sih, dia harus terus muncul didalam pikiranku? Aku mulai pusing.
Setelah selesai kelas, aku malas sekali untuk pulang. Jadi aku pergi ke rooftop, berniat untuk menenangkan diri dan menjauhi kerumunan masa para mahasiswa yang berlalu-lalang dikoridor, dikantin—dimana-mana. Aku sebelumnya tidak pernah ke rooftop. Ini kali pertama. Ketika kubuka pintunya, hal pertama yang kudapatkan adalah sejuknya angin menerpa wajahku. Disini sepi. Tidak ada orang sama sekali. Untung saja.
Aku berdecak sebal. Entah apa yang kulakukan, tapi aku ingin sekali menghentikan ini semua. Aku ingin berhenti memikirkan Jungkook dan anak-anaknya. Namun, berkali-kali aku mencoba, nihil hasilnya. Jungkook seperti tidak ingin pergi dari pikiranku. Menghantuiku setiap hari, setiap waktu, setiap jam, setiap menit, setiap detik—kapanpun dan dimanapun.
“I hate you!” Aku berteriak sekencang-kencangnya. Tidak ada orang disini, jadi tidak apa-apa, kan? Aku kemari bukan berniat untuk bunuh diri. Hanya ingin melampiaskan kekesalanku saja. “Berhenti dan enyahlah dari pikiranku, kau bajingan sialan!”
Setelah berteriak dengan kencang, aku merasa lega dan akhirnya aku bisa menarik napas sedalam-dalamnya, lalu kukeluarkan secara perlahan-lahan. Tubuhku mulai rileks. Angin berlalu dan menerpa wajahku. Sejuk sekali.
“Terkadang, cara terbaik untuk meluapkan amarah adalah dengan berteriak sekencang-kencangnya layaknya hanya kau satu-satunya manusia yang hidup di Bumi ini, bukan begitu?” Aku terkejut ketika mendengar suara berat yang terdengar tidak familiar bagiku. Aku menoleh dan mataku bertemu dengan mata seseorang. Laki-laki. Tinggi dan tampan. Ia pun memberikan senyuman kepadaku. “Hai, namaku Kim Taehyung.”
Aku mengerutkan kening ketika ia menjulurkan tangannya padaku, bermaksud mengajakku berkenalan. Aku dengan ragu menerima jabatan tangannya dan menjawab, “oh, oke, hai juga.”
“Jadi, kau tidak akan memberitahu namamu?”
“Untuk apa?”
“Aku sudah memberitahu namaku. Kau juga harus melakukan itu. Jika tidak, maka aku tidak akan melepaskan tanganmu.” Ujarnya. Aku hanya terkekeh pelan saja. “Aku serius, lho. Tidak akan kulepaskan. Sampai dunia kiamat sekali pun.”
KAMU SEDANG MEMBACA
BABYSITTER
Fiksi PenggemarMenjadi babysitter bukanlah hal yang mudah. Terlebih lagi menjadi babysitter untuk tiga bayi kembar milik pria tampan seperti Jeon Jungkook. It was all fun, until one of them started to fall in love. STARTED: June 24th, 2019. FINISHED: September 26t...
