20: Fall

6.1K 467 91
                                        

“I just hope you're lying next to somebody who knows how to love you like me.”
—Charlie Puth ft Selena Gomez, We Don’t Talk Anymore—

-

Sifra Lee

Sore and sticky.

Itu yang kurasakan ketika aku terbangun di pagi hari ini. Perih di bagian bawahku semakin menjadi saat aku menggerakkan kakiku. Aku membuka mata dan hal pertama yang kulihat adalah Jungkook yang tengah tertidur lelap sembari memelukku erat.

Apakah ini mimpi? Jungkook ada di sini! Lalu, tanganku pun bergerak untuk mencapai wajahnya. Kubelai lembut pipinya sembari meyakinkan diri bahwa ini semua bukan mimpi.

Aku mengangguk, “yes, this is not a dream. He’s sleeping here. Right beside me,” gumamku. Aku kembali memandangi wajahnya yang damai dan sangat tampan itu. Oh, Jungkook, mengapa kau begitu sempurna?

Just take a picture. It’ll last longer, you know.” Kalimatnya yang tiba-tiba membuatku terkejut. Jungkook membuka matanya dan ia tersenyum lebar, “aku sangat tampan, ya? Sampai-sampai kau tidak bisa berpaling seperti itu.”

Aku memutar bola mata dan menggeleng. “Tidak, tuh. Dengar ya, menyombongkan diri sendiri itu tidak bagus, Jungkook-ssi.

“Dan membohongi diri sendiri itu tidak bagus, Sayang.” Katanya. “Akui saja. Aku juga sudah tahu, kok. Aku memang tampan.”

“Ya, terserah.” Aku ingin beranjak pergi, tapi Jungkook menahan lenganku. Aku menoleh padanya dan menaikkan alisku, “apa?”

Jungkook tersenyum hingga matanya menghilang. “Please kiss me.” Ujarnya sembari menarik tubuhku mendekat. Tapi dengan cepat, aku menutup mulutku dan menjauhkan diri darinya, sehingga membuatnya bertanya, “ada apa?”

“Aku belum membersihkan gigiku.”

“Aku juga belum.”

“Nanti saja, ya,”

“Sekarang. Kekasihmu ingin sekarang.” Mendengar itu, aku mulai mengingat kejadian semalam di mana Jungkook bertanya padaku apakah aku ingin menjadi kekasihnya. Aku belum memberikan jawaban untuknya semalam. Tapi mengingat ia mengatakan hal ini barusan, aku jadi enggan untuk berkomentar.

Pasalnya, Jungkook tidak pernah memberitahuku soal perasaannya kepadaku. Namun sekarang, kami sudah menjadi sepasang kekasih. Aneh, bukan? Ini bukanlah suatu kebetulan. Yang namanya hubungan, harus di landasi adanya rasa sayang dan saling mencintai.

Apakah aku menyayangi dan mencintai Jungkook? Kurasa—mungkin hal itu benar adanya. Tapi, apakah Jungkook mempunyai rasa yang sama? Apakah ia mencintai dan menyayangiku?

Jawabannya; aku tidak tahu.

Jungkook menatap wajahku. “Kau kenapa?” Tanyanya sedikit khawatir. Mungkin karena ia melihat perubahan ekspresi di wajahku. “Aku salah bicara, ya? Ada apa? Atau, kau tidak mau menciumku? Oke—aku tidak akan memaksa, tapi tolong, jangan marah padaku.”

“Tidak. Aku tidak marah.”

“Lalu, kau kenapa?”

BABYSITTERTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang