“Sometimes, I imagine what it would feel like if I kissed you.”
—DAY6, Chocolate—
-
Sifra Lee
Mengurus anak bukanlah suatu hal yang mudah. Demi Tuhan, aku tidak berpengalaman sama sekali. Namun, karena aku butuh uang untuk membayar kuliahku, jadi aku melakukan pekerjaan ini. Mengurus tiga anak laki-laki milik Jungkook.
Aku menarik napas sembari mencoba untuk bersabar—karena mengurus anak tidak semudah yang kubayangkan. Ketika aku bermain dengan keponakanku, aku tidak selalu diharuskan untuk menggendongnya kapan saja. Tapi sekarang, aku harus menggendong salah satu dari tiga bayi saat mereka menangis, lalu mencoba menenangkannya.
“Jungwoo, anak pintar, Noona mohon, kau tidur lebih dulu, ya? Karena Noona masih harus mengurus Junghyun.” Dikarenakan Jungyeon sudah tidur terlebih dahulu, jadi aku berencana untuk menidurkan Jungwoo yang saat ini tengah bermain dengan botol susunya.
Jungwoo lebih mandiri dari adik-adiknya. Mungkin karena ia yang paling tua di sini, jadi ia jarang menangis dan jarang meminta untuk digendong. Justru Junghyun yang selalu menangis setiap saat—mungkin karena ia yang paling muda dan paling membutuhkan kasih sayang. Ah, tapi sepertinya tidak. Mereka bertiga semuanya membutuhkan kasih sayang yang sama. Hanya saja, Junghyun memang lebih sering menangis.
Sambil menggendong Junghyun, aku mengajak bermain Jungwoo agar ia tidak merasa kesepian. Sekarang sudah pukul delapan lewat lima belas malam. Aku tidak tahu Jungkook akan pulang pukul berapa, karena sesuai perkataannya tadi pagi, kepulangannya tidak bisa dijadwalkan. Bisa saja dia pulang larut malam, atau tidak pulang sama sekali.
“Jungwoo-ya, Papamu itu sebenarnya tampan sekali. Noona mengakui itu. Tapi, jika dilihat-lihat, Papamu itu sedikit . . . um, apa, ya? Dingin? Cara bicaranya juga menunjukkan bahwa dia laki-laki dengan sifat dingin. Your father didn’t talk that much to me,” ujarku pada anak bayi berusia tujuh bulan dihadapanku ini.
Aku mengusap punggung Junghyun, kemudian aku kembali bermain dengan Jungwoo. Lalu, aku kembali berbicara pada Jungwoo—dan aku tidak peduli apakah ia mengerti kalimatku atau tidak. “Jungkook, Papamu itu, aku tidak percaya bahwa dia bisa menghamili seorang wanita dan bahkan sampai mendapat tiga anak kembar sekaligus.” Kataku, “aku jadi berpikir, di mana keberadaan Ibu kalian, ya?”
Setengah jam kemudian, Junghyun dan Jungwoo tidur. Aku melirik jam yang melingkar di tangan kiriku. Dan pada akhirnya, aku pun mengambil tasku dan mengeluarkan sebuah buku yang berjudul The Mother of All Parenting Books. Buku karya Ann Douglas ini mungkin sepertinya bisa membantuku untuk lebih memahami anak-anak, terutama bayi.
Aku membelinya kemarin sore—sebelum memberanikan diri tadi pagi untuk pergi ke Busan dan melamar pekerjaan menjadi pengasuh bayi.
Di halaman-halaman pertama, hanya terdapat kata sambutan, pendapat orang lain tentang buku tersebut, juga daftar isi. Aku membalik halaman-halaman yang ada di buku ini sampai akhirnya aku menemukan halaman bertuliskan Chapter 1: The Truth about Parenting. Dengan teliti, aku membaca semua tulisan yang ada disana.
"No one’s tells you how tough it is to be a parent." —dan aku setuju, sebenarnya. Mengurus anak bukanlah hal yang mudah. Terutama bagi yang belum siap untuk memiliki anak, seperti Jungkook.
KAMU SEDANG MEMBACA
BABYSITTER
FanfictionMenjadi babysitter bukanlah hal yang mudah. Terlebih lagi menjadi babysitter untuk tiga bayi kembar milik pria tampan seperti Jeon Jungkook. It was all fun, until one of them started to fall in love. STARTED: June 24th, 2019. FINISHED: September 26t...
