“We were made for each other, out here forever, I know we were.”
—Avril Lavigne, When You’re Gone—
-
Sifra Lee
Aku tidak tahu kemana Jungkook pergi. Dia mengatakan akan memberitahuku nanti, setelah dia kembali kemari—kerumahnya. Jujur, aku malas melakukan apapun sekarang. Saat ini, aku hanya menemani anak-anaknya menonton kartun kesukaan mereka, yaitu Spongebob Squarepants.
Aku khawatir tentang Jungkook.
Aku khawatir jika dia mendatangi lokasi shooting lagi, atau mungkin dia kembali menemui Aera—tapi, oh, ayolah, Sifra, berpikir positif. Jungkook tidak akan menyakitimu lagi. Dia sudah berjanji untuk selamanya berada disisimu.
Namun, yang namanya wanita, menjalin hubungan dengan laki-laki seperti Jungkook—yang begitu tampan, tinggi, pintar, dan banyak wanita yang menyukainya—tentu ada perasaan khawatir yang melebihi apapun. Pasalnya, setiap kemanapun Jungkook pergi, dia akan diikuti oleh seluruh penggemarnya.
Aku ingin menghubunginya, tapi aku tidak ingin dianggap mengekangnya. Jungkook bebas pergi kemanapun, dengan siapapun, bahkan jika dia mau. Statusku disini hanya sebagai kekasihnya, bukan istrinya.
“Jungwoo, kemana Papamu, ya?” Tanyaku pada anak bayi berusia sembilan bulan dalam pangkuanku ini. “Noona khawatir pada Papa kalian. Apakah Noona berlebihan?”
Sebenarnya percuma saja sih. Aku mencoba menghibur diriku sendiri dengan bercengkrama dengan triplets. Kekhawatiranku pada Jungkook terus bertambah karena semakin aku memikirkannya, semakin aku susah untuk mengenyahkannya dari benakku.
Ponselku bergetar. Dengan sigap, aku mengambilnya—karena kupikir itu adalah Jungkook. Tapi nyatanya, bukan. Pupus sudah harapanku.
Namun—eh, tunggu sebentar. Jimin memberiku pesan?
Lil Chim Chim:
Sifra, bisakah kita bertemu? Untuk sebentar saja. Ada yang ingin kubicarakan denganmu. Ini penting.
Bertemu dengannya? Untuk apa lagi? Apa yang mau dikatakannya? Jujur, sampai sekarang kurasa aku belum siap untuk menemui Jimin. Dikarenakan permasalahan yang terjadi terakhir kali. Jimin berencana menikahi Seolhyun, tapi aku tidak tahu kapan.
Aku masih tidak percaya bahwa Jimin seperti itu. Bisa-bisanya dia menyakitiku begitu. Kenapa? Kukira, hubungan persahabatanku dengan Jimin akan membaik secara perlahan dan bisa kembali seperti diawal. Tapi nyatanya, dengan dia yang sudah merencanakan pernikahan lebih dulu dengan Seolhyun tanpa memberitahu apapun padaku—ah, entahlah!
Kalian harus mengerti betapa sakitnya berada di posisiku. Sewaktu itu, Jungkook masih labil dengan perasaannya yang belum tetap. Dia masih bimbang memilih antara diriku atau Aera. Sedangkan Jimin—dia menginginkan aku untuk menunggunya sampai dia berhasil mencintaiku. Tapi nyatanya, hal itu memang mustahil. Sampai kapanpun, perasaan Jimin hanya akan ada untuk Park Seolhyun saja.
Lalu ada pihak lainnya yang terlibat. Yaitu Kim Taehyung. Aku bahkan tidak tahu bagaimana cara mengatakan pada Taehyung bahwa segalanya yang pernah terjadi diantara kita berdua itu sudah berakhir. Aku memilih Jungkook. Dan aku berharap bahwa Taehyung bisa menerima itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
BABYSITTER
FanfictionMenjadi babysitter bukanlah hal yang mudah. Terlebih lagi menjadi babysitter untuk tiga bayi kembar milik pria tampan seperti Jeon Jungkook. It was all fun, until one of them started to fall in love. STARTED: June 24th, 2019. FINISHED: September 26t...
