“Once I get in, you won’t let go.”
—Chris Brown, Run It!—
-
Sifra Lee
“Oke, kau diterima.”
Saat itu juga, aku tidak menyangka bahwa ternyata alam semesta berada dipihakku. Bahkan aku baru saja menginjakkan kakiku kedalam penthouse termewah di Busan ini sekitar lima menit yang lalu, berbincang mengenai hal ini dan itu—dan kemudian, aku langsung diterima kerja.
Aneh, sebenarnya.
Lelaki muda dan . . . erm, tampan di hadapanku ini menatapku. Aku menatapnya lagi. Tapi dengan tatapan tidak percaya. Pasalnya, ia saja belum membaca profilku, seberapa banyak pengalamanku bekerja—dan ia sudah menyetujuinya, kemudian menerimaku untuk bekerja dengannya.
Aku memberikan senyum canggung sembari mengatakan, “um . . . tapi Anda belum membaca profil saya,” aku bahkan tidak tahu harus memanggilnya apa. Ia terlihat lebih muda daripada aku, sepertinya. “Tuan.” Tambahku lagi, pada akhirnya.
“Profil?” Tanyanya, mengangkat sebuah map coklat di tangannya yang berisi profil lengkap milikku.
Aku mengangguk. “Iya, Tuan.”
“Tidak perlu.” Jawabnya singkat, “aku membutuhkan pengasuh anak secepatnya, dan dalam waktu dua hari, kau sudah tiba di sini. Bagus.”
Karena aku sedang butuh uang. Pikirku.
“Iya, Tuan.”
“Tidak perlu berbicara formal padaku. Jangan panggil aku dengan sebutan itu, karena usiaku masih dua puluh satu tahun. Panggil saja aku Jungkook, oke? Dan, kau bisa mulai bekerja hari ini. Jam sepuluh pagi nanti, aku harus pergi untuk bekerja, dan kau, mengurusi anak-anakku. Catat nomor ponselku dan hubungi aku kalau terjadi sesuatu, atau jika kau membutuhkan sesuatu. I’m one call away.”
Tuh, kan, benar! Usianya masih dua puluh satu tahun dan ia sudah mempunyai anak? Tipikal lelaki bajingan yang suka tidur dengan sembarang wanita, berakibat seperti ini. Masa mudanya terbuang sia-sia. Tidak bisa menikmati waktu berkumpul dengan temannya, diharuskan untuk bekerja demi menafkahi anak-anaknya.
Eh, tunggu. Anak-anaknya? Memangnya ia memiliki berapa anak?
Si Jungkook ini kemudian memberikan nomor ponselnya kepadaku, dan aku langsung menyimpannya. Setelahnya, ia mengajakku kekamar anak-anaknya, sembari ia menjelaskan tentang kriteria semua anaknya. “Anakku ada tiga. Semuanya laki-laki, dan mereka kembar, tapi tidak terlalu sulit untuk membedakan mereka, tenang saja. Yang pertama itu Jungwoo, yang kedua itu Jungyeon, dan yang ketiga adalah Junghyun.”
Aku diam. Ia memiliki tiga anak kembar, dan dengan santainya ia mengatakan bahwa tidak terlalu sulit untuk membedakan mereka bertiga? Yang benar saja! Aku sama sekali belum memiliki pengalaman mengurus anak. Satu saja belum pernah, tapi ini tiga sekaligus.
Saat kami memasuki kamar anaknya, ternyata, mereka bertiga tengah sibuk bermain dengan satu sama lain. Oh, biar kuralat. Satu anaknya sibuk bermain dengan mainannya, namun dua anaknya yang lain sibuk berebut—bahkan menjambak rambut satu sama lain, hingga akhirnya, suara tangisan memenuhi ruangan kamar.
KAMU SEDANG MEMBACA
BABYSITTER
FanfictionMenjadi babysitter bukanlah hal yang mudah. Terlebih lagi menjadi babysitter untuk tiga bayi kembar milik pria tampan seperti Jeon Jungkook. It was all fun, until one of them started to fall in love. STARTED: June 24th, 2019. FINISHED: September 26t...
