Part 6

3.3K 429 17
                                        

Happy reading.....



"Ashadu'alla illahailallah, wa ashadu'ana Muhammadarrasullullah..."  Patricia melafalkan kedua kalimat syahadat dengan lancar di hadapan Amil. Ismail merasa bahagia, dia berhasil mengajak Patricia untuk memeluk agama Islam tanpa paksaan.

Acara selesai mereka pun keluar dari mesjid.

"Ismail, aku ingin menemui Zidni."

"Untuk apa?"

"Aku ingin mengakui semua kesalahanku padanya. Soal dia memaafkan aku atau tidak, aku pasrah, aku ikhlas karena aku sudah menyakiti mereka." Ismail tersenyum lalu mengangguk.

"Aku akan mengantarmu."

Suasana di rumah Zidni tampak sepi, namun setelah mengucapkan salam beberapa kali, munculah Sulastri, ibunya Zidni. Beliau pun mempersilahkan mereka untuk menemui putrinya yang baru siuman dari pingsannya.

Patricia menatap Zindi yang tampak tergolek lemah.

" Zidni apa aku boleh menemuimu?" Tanya Patricia yang datang bersama Ismail.

"Mbak...."

"Aku hanya ingin meminta maaf aku sudah menjebak Yunus dan..."

"Mbak tolong jangan menyakitiku lagi, mas Yunus sudah menalakku jadi mbak bisa kejar mantan suamiku dan jangan ganggu aku lagi!" Patricia terkejut dengan pernyataan Zidni.

"Bukan soal itu."

"Lalu?"

"Aku meminta maaf karena aku sudah banyak berbuat jahat padamu, mulai dari menjebak Yunus, benda pelet dan..... Akulah yang membawa Alfa ke apartemenmu waktu itu."

"Apa?"

"Maafkan aku Ni..." Isak Patricia penuh penyesalan.

Hati Zidni terasa sakit, kenapa wanita dihadapannya ini begitu membenci Zidni? Tapi untuk apa pula Zidni menanyakan itu karena hal iu hanya akan melukai hatinya. Zidni butuh ketenangan dalam kondisi seperti ini.

Apa lagi nasi sudah menjadi bubur, yang lalu biarlah berlalu mungkin ini sudah di gariskan oleh yang maha kuasa dan zidni harus menjalaninya.

"Aku mohon...." Zidni memeluk Patricia.

"Bertobatlah, karena hanya itu yang bisa mbak lakukan untuk mendapatkan maafku."

Zidni melepaskan pelukannya,  membaringkan tubuhnya lalu tidur membelakangi Patricia.

Ismail pun segera membawa Patricia keluar dari kamar Zidni. Tak apa Zidni bersikap seperti itu, hal yang wajar karena dia juga sangat bersalah. Yang penting sekarang Patricia sudah meminta maaf dan memiliki beban lagi. Dia akan berusaha menata hidupnya kembali meski tanpa Ismail di sisinya lagi.

Jujur saja, Patricia sudah jatuh cinta pada Ismail. Meski dia sudah mencium Ismail dan pria itu tak marah, tetap saja Patricia bisa merasakan jika Ismail tidak memiliki rasa kepadanya. Tapi Patricia akan berusaha membuat lelaki itu jatuh cinta kepadanya meski rasanya akan sulit karena jarak yang akan terbentang di antara mereka.

"Kau sudah siap?" Patricia mengangguk pelan, dia menatap mobilnya yang masih bersih karena sudah di rawat oleh Ismail selama dia di sekap.

"Ismail terima kasih banyak."

"Sama sama Patrica. Jika ada apa apa kamu bisa datang kemari."

"Kau tak punya ponsel?" Ismail menggelengkan kepala dengan wajah yang tidak berminat untuk memiliki benda ajaib berbentuk pipih itu.

"Kita akan kesulitan dalam berkomunikasi."

"Berikan alamat rumahmu, Selasa depan aku akan berkunjung ke rumahmu." Patrica tersenyum dan menuliskan alamatnya lalu memberikannya pads ismail.

"Janji?"

"Insya Allah."

"Ismail?"

"Ya?"

"Assalamualaikum...." Ismail tersenyum mendengar salam dari Patrica.

"Wa'alaikum salam!" Patricia pun masuk ke dalam mobilnya.

Sebenarnya dia berat untuk meninggalkan desa ini, tapi kehidupannya sudah menanti. Dia tak mau membuat orang tuanya cemas dan memberikan masalah kepada Ismail jika dia tetap kukuh di Cipanas.

Patricia akan merubah hidupnya, dia akan menjauhi maksiat dan mulai memperdalam agama Islam. Patricia ingin menjadi wanita Solehah yang pantas bersandang dengan Ismail hingga maut memisahkan.

Patticia merasakan kehidupan baru dengan tenaga baru yang akan dia gunakan untuk memulai hidupnya dan menata kembali semua yang sudah dia hancurkan.



Tbc

MualafTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang