Seharian kemarin Suri tidak berniat untuk mengangkat telepon dari Sagi sama sekali. Sagi jelas tahu bahwa Suri mengabaikan panggilannya setelah apa yang terjadi malam itu.
Sagi sendiri merasa cukup tahu diri untuk tidak terus menghampiri Suri dan merusuhi gadis itu. Bagaimanapun Suri sangat marah, Sagi benar-benar mengecewakannya dan Sagi merasa, menghampiri Suri malah akan membuat gadis itu semakin muak dengan dirinya. Maka dari itu Sagi sedikit memberi waktu, memberi Suri waktu untuk sendiri agar sedikit tenang.
Tapi hari berikutnya, mengetahui Suri tidak masuk sekolah hari ini, Sagi yang malah tidak tenang. Begitu jam istirahat tiba, dia langsung melangkah cepat ke kelas Suri. Begitu Sagi melangkah melewati toilet wanita, langkahnya terhenti ketika merasa ada yang memanggil namanya.
"Gi!" Naila keluar dari toilet, langsung menghampiri Sagi. "Mau kemana?"
"Hm?" Sagi bergumam pelan. Setelah kemarin seusai makan di restoran korea bersama Naila, Sagi langsung buru-buru memulangkan Naila dan menghampiri Suri ke rumah. "Gue... ada urusan."
"Makan bareng yuk di kantin." Naila sudah maju selangkah hendak mengamit lengan Sagi, tapi dengan refleks Sagi menahan bahunya.
"Sori, Na. Gue buru-buru." Sagi mengabaikan ekspresi sedih Naila setelahnya. Dia menaiki tangga, menuju kelas Suri yang ramai di jam istirahat ini.
Kelasnya tertutup rapat, dari depan kelas persis terdengar lagu Korea dengan dentuman yang cukup keras. Mengabaikan sopan-santun yang ia punya, Sagi langsung membuka pintu kelasnya dan mengernyit begitu speaker diatas kelas mengeluarkan lirik-lirik lagu Korea yang begitu keras.
"Eh, Sagi." Elang yang sedang duduk diatas meja sambil mengobrol dengan temannya langsung menghampiri Sagi.
Sontak juga seluruh kelas diam-diam menamati Sagi yang jarang sekali menghampiri kelasnya. Beberapa gadis di kelas sibuk langsung berkaca atau menyisir rambut, lalu bersikap kalem.
"Suri mana?"
"Hah?" Elang tidak dengar, suara musik di kelasnya terlalu kelas.
"Suri masuk nggak hari ini?"
"Apa? Apa? Anjir, nggak denger gue."
Brak! Satu kelas langsung tersentak begitu Sagi memukul papan tulis dengan keras. "Bisa dimatiin dulu nggak musiknya?!"
Salah satu gadis dengan kuncir kuda dan berkacamata langsung berlari kedepan kelas, mencabut ponselnya yang terhubung dengan speaker dan mematikan speaker itu.
Sagi menghela napas kesal. "Suri mana?"
"Oooh, dia nggak masuk." Elang baru mendengarnya dengan jelas.
"Kenapa nggak masuk."
"Tauk." Elang mengedikkan bahunya dengan santai. Lalu menoleh ke teman-teman di belakangnya. "Suri kenapa nggak masuk?"
"Mana gue tahu." Beberapa acuh menjawab sambil bermain ponsel.
"Nggak ada kabar kayaknya."
"Mau masuk kek, mau enggak kek, nggak ada bedanya."
"Bodoamat."
"Kelas ini bisa di nobatkan jadi kelas terbangsat nggak sih?" Sagi tertawa mengejek, seisi kelas langsung terdiam. "Suri temen kalian loh. Gimanapun dia adalah bagian dari kelas ini. Tapi dia selalu sendiri dan kalian datang cuma pas butuhnya doang. Bangsat namanya."
"Gi, sabar." Elang takut jika Sagi tiba-tiba mengamuk, dia memegang bahu Sagi tapi Sagi langsung menepisnya.
Sagi menatap tajam seisi kelas. "Bener-bener nggak ada kabar apapun dari Suri? dan nggak ada yang niat untuk nanyain keadaannya?!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Wanderloved
Teen Fictionwanderloved (n) person still confused about the feelings and still likes adventure about love. Wanita pasti terkenal dengan sikap jaim dan sungkan mengungkapkan perasaannya pada seseorang yang dia suka. Namun hal itu tak berlaku pada Surinala. Seja...
