Could i love you anymore?
"Bu, hape saya gimana?" Sagi terus berjalan dibelakang bu Fensiska—guru matematika itu tapi juga tetap melangkah ke ruang guru, seolah mengabaikan Sagi yang mengikuti langkahnya di belakang. "Bu Fensis..."
Bu Fensiska melangkah masuk ke ruang guru, Sagi mengikuti. Dan beberapa guru lain di ruangan itu hanya melirik Sagi, atau berdecak malas.
Bahkan ada yang langsung berucap, "buat ulah apa lagi Asagiri?" dengan suara meledek yang melengking.
Tapi Sagi tetap acuh, dia akhirnya berdiri di samping meja bu Fensiska. Guru matematika itu sudah duduk, hanya santai sambil mengeluarkan kotak bekalnya.
"Bu,"
Bu Fensiska mendongak, sok menatap tak mau tahu. "Apalagi?"
"Hape saya?"
"Nggak, nggak. Saya sita. Kamu ini udah kelas dua belas, fokus ujian! Bukannya malah nonton video girlband korea itu, apa namanya lah itu."
"Blackpink, bu."
"Nah, itu!"
Sagi menelan salivanya, sambil menggaruk kepala yang tak gatal. Dia bingung harus menjawab apa. Dua jam pelajaran matematika wajib ditambah satu jam matematika peminatan membuat Sagi mual, mau muntah. Eneg.
Akhirnya Omar meminta Sagi untuk streaming mv terbaru dari Blackpink. Lumayan kan, lihat yang seger-seger untuk mensegarkan otak. Tapi sial baginya karena terlalu seru menundukkan kepala berjamaah bersama Omar dan Raden yang begonya sampai ikut-ikutan bersenandung—walaupun pelan, tapi mengundang perhatian bu Fensiska hingga menghampiri tempat duduk Sagi dan mengambil ponselnya saat itu juga.
"Tapi itu penting bu hapenya."
"Penting buat nonton Blackpink."
"Itu salah satunya."
"Sagi!" Bu Fensiska melotot.
Sagi hanya menyengir. "Kan salah satunya, bu. Banyak lah pentingnya."
Bu Fensiska berdecak malas. "Capek saya meladeni kamu, cepet lulus gitu lho, Gi."
"Siap, bu." Sagi menegakkan tubuhnya. Dia sudah merasa bujuk rayu karena memasang sikap batu ini akan berhasil juga.
Bu Fensiska mengeluarkan kertas soal tryout matematika tahun lalu, kemudian menyerahkannya ke Sagi. Dan Sagi sudah merasa hawa-hawa buruk saat ini. "Kerjakan sekarang. Sepuluh soal acak yang nomornya saya lingkari itu, di beri penjelasan rumusnya. Kalau benar lima, saya kembalikan hape kamu sepulang sekolah."
"Haduh, bu." Sagi rasanya ingin pingsan sekarang. "Saya beli hape aja nggak pakai susah kok, bu. Ambil hape dari bu Fensis malah sesusah ini."
"Jadi gimana, mau di kembaliin atau enggak?"
Sagi menatap bu Fensiska sejenak, dia akhirnya hanya menghela napas dan menganggukkan kepalanya. Lalu menyalimi tangan bu Fensiska karena ingin pamit.
"Pulang sekolah di kumpulkan lagi ke saya, Sagi!" Teriak bu Fensiska mengingatkan, tak perduli bahwa itu di ruang guru. Membuat Sagi makin malu saja.
Tapi apalagi yang bisa Sagi lakukan hari ini selain menikmati kesialan ini. Seluruh anak kelasnya sedang berada di ruang musik, tentu saja untuk pelajaran musik. Sedangkan Sagi memilih untuk masuk telat saja nanti karena alasan ada keperluan dengan bu Fensiska. Pasti guru musiknya yang santai itu akan paham.
Jadi sekarang Sagi memasuki bilik kantin Mas Jay, duduk di salah satu bangku panjang dengan wajah masam. "Mas, es melon satu, dong."
"Nggak menerima utang tapi, yak!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Wanderloved
Fiksi Remajawanderloved (n) person still confused about the feelings and still likes adventure about love. Wanita pasti terkenal dengan sikap jaim dan sungkan mengungkapkan perasaannya pada seseorang yang dia suka. Namun hal itu tak berlaku pada Surinala. Seja...
