38. Tujuh Tahun

4K 385 62
                                        

Percakapan beberapa tahun yang lalu itu entah kenapa langsung terlintas di pikiran Sagi ketika ia kembali menginjakkan kakinya di Indonesia.

"Sagi kapan pulang?"

"Nanti kalau... ada alasan gue buat pulang."

Contohnya percakapan itu, dan kemudian ditambah dengan pertanyaan Suri, "emang kita bakal ketemu lagi?"

Sagi langsung mendesah pelan dan memejamkan matanya, seraya menyandarkan kepalanya pada sandaran jog mobil yang baru saja menjemputnya di Bandara.

Setelah tujuh tahun meninggalkan Indonesia dan tidak pernah pulang sama sekali, akhirnya Sagi pulang. Seperti katanya tujuh tahun yang lalu pada Suri, Sagi benar-benar pulang jika ia memiliki suatu alasan.

Alasan Sagi pulang adalah karena Ghania. Adik sepupunya sekaligus adik kandung Rayan itu selalu membombardirnya dengan telepon berkali-kali. Ghania benar-benar meminta Sagi untuk pulang dan menghadiri pernikahannya.

Sagi kemudian membuka mata, melihat deretan gedung-gedung tinggi kota Jakarta, kemudian tertawa kecil. Tujuh tahun ia pergi dan tentunya banyak hal-hal yang menjadi lucu karena tidak terduga. Ghania yang paling tidak banyak ulah diantara ia dan Rayan, bahkan kini bisa lebih dulu menikah. Bahkan juga melangkahi Rayan.

Dan Sagi? Entahlah, ia hanya memikirkan bagaimana mengontrol perasaannya ini agar tidak lagi menebak-nebak. Banyak hal yang terjadi, yang dilalui, tanpa ia tahu bagaimana akhirnya.

***

Hari sudah berangsur menjadi malam, acara pernikahan Ghania kini memasuki acara santai. Dimana Ghania dan Reno—suaminya, saling membacakan surat untuk satu sama lain. Dan para tamu duduk di meja bundar yang telah disediakan.

Kedua ujung bibir Suri tertarik membentuk sebuah senyuman. Tentu saja, senyuman bahagia karena ia melihat Ghania yang akhirnya menikah dengan pujaan hatinya. Suri kini berada satu meja dengan Sore dan juga Gilang tentu saja.

Dan seorang bocah lelaki berumur dua tahun yang tertidur pangkuannya, padahal suasana masih ramai.

"Ezra Pelor banget sih kalau sama Suri. Nempel molor." Ucap Sore sambil mengelus pipi gembul Ezra.

Suri tertawa kecil dan mengangguk. "Kaya Gilang 'kan? Pelor."

Gilang hanya menarik bibirnya membentuk segaris lurus. "Ya gimana lagi, namanya juga anak gue. Ya mirip bapaknya, lah."

Mereka bertiga sontak tertawa kecil. Namun selagi Suri tertawa, tatapannya tak sengaja berserobot dengan pemilik mata tajam yang pernah ia kagumi.

Asagiri Soedirja. Setelah tujuh tahun lamanya, Suri bertemu lagi dengan Sagi. Wajah lelaki itu makin tampan dan dewasa. Rambutnya yang dulu sedikit panjang kini terpangkas dengan rapi. Singkatnya, penampilan Sagi benar-benar rapi dan formal pada hari ini.

Sepanjang hari Suri memang bertemu Sagi dari awal prosesi pernikahan. Namun mereka berdua belum sempat bertegur sapa. Suri sibuk karena menjadi bridesmaid Ghania bersama Sore, sibuk juga dengan Ezra yang tidak mau jauh-jauh dari Suri maupun Gilang pada hari ini.

Lagipula, Sagi juga terlihat tidak memperhatikan Suri. Sagi benar-benar disambut oleh banyak keluarga Soedirja. Karena ini adalah kedatangan pertamanya ke Indonesia setelah tujuh tahun tidak pernah pulang.

Suri kemudian melepaskan tatapan matanya dari Sagi. Ia memeluk Ezra lebih erat sembari mengelus lengannya dengan perlahan. Suri rasanya membutuhkan seseorang untuk dipeluk, untuk menghantarkan rasa sesak yang entah kenapa masih ada.

Tapi rasanya Suri ingin lebih lama menatap Sagi. Sampai akhirnya Suri mengabaikan ego. Ia mendongakkan kepalanya, mencari dimana Sagi berada, tapi ia tak lagi menemukannya. Seperti biasa, Suri kembali merasa kecewa.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Feb 03, 2020 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

WanderlovedTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang