Sagi masih ingat jelas bagaimana kejadian itu berlangsung, malam dimana Sagi gagal menjaga Rain sebagai sahabatnya—sedangkan Rain rela berkorban karena Sagi.
Sore itu yang dilakukan Sagi hanya duduk melamun di lapangan futsal dengan napas yang masih tersenggal-senggal sehabis babak permainan pertama. Sagi membuka ponselnya sambil meneguk air mineral, kemudian hanya mendengkus seperti meremehkan chat yang baru saja ia baca.
"Kenapa lo?" tanya Rain yang kemudian menghampiri, habis bermain futsal juga. "Muka lo nyebelin banget, setan."
"Emang gini muka gue."
"Eh, kenapa sih?"
Sagi melemparkan ponselnya ke pangkuan Rain. "Gue balapan sama Axel minggu lalu. Tapi Axel sama geng-nya terima kalau gue menang. Kata mereka sih, kemenangan gue karena emang gue udah hapal jalur sama medan jalannya."
"So?" Rain menaikkan sebelah alisnya, lalu setelah selesai membaca chat dari Axel, ia kemudian ikut mendengkus meremehkan. "Ahh, I see. Dia ngajak balapan ulang di tempat lain, gila ni bocah ada-ada aja."
"Ladenin nggak nih?" pancing Sagi dengan tawa jahil. "Kalau gue menang, lumayan dapet koleksi motor baru punya si Axel."
"Gi," Emerald kemudian menghampiri setelah keluar dari lapangan futsal juga. "Mau apa lo?"
"Axel, ngajak balapan lagi malem ini."
"Gausahlah," jawab Emerald. Lalu menatap kedua sahabatnya yang sejenak saling pandang. "Lo berdua kan di tentang banget sama bokap lo pada, biar nggak balapan liar lagi."
"Halah, gampang masalah itu." Sagi mengibaskan tangannya.
Rain tersenyum miring. "Gas aja, Gi. Lo harus buktiin balapan kemaren itu bukan kebetulan, emang dianya aja yang cupu."
"Rain, lo serius?" tanya Emerald memastikan, pasalnya, ayah Rain juga berpesan pada Emerald agar menjaga Rain, mengawasi Rain agar tidak ikut bersama geng motor mereka dan ikut balapan liar lagi.
"Lah, kan gue nonton doang, Rald." Jawab Rain, lalu mengacak rambut Sagi. "Kan yang balapan dia."
"Argh," Sagi protes karena kepalanya ditarik ke kanan dan kiri oleh Rain. "Lo berdua harus dateng pokoknya." Ucap Sagi sambil mengusap-usap kepalanya yang habis dijambak Rain pada akhirnya.
"Nggak janji." Jawab Emerald, ia memang sudah berjanji juga pada orangtuanya agar berhenti terlibat balap motor liar, setelah terjadi berita pembunuhan di geng motor beberapa hari yang lalu.
"Janji gue." Rain menyengir sembari menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf v. "Tapi gue cabut dulu sekarang."
"Lah, kemana, jir?" tanya Emerald.
"Biasa, jemput adek gue." Rain melangkah mundur perlahan sembari tertawa kecil, kemudian melambaikan tangannya dan pamit pada teman-temannya.
***
Pada malam itu Rain datang ke tempat balapan yang sudah mereka janjikan. Dan jalanan yang sudah dipersiapkan untuk balapan itu hanya ramai dipenuhi oleh anak-anak dari geng Axel.
"Mana temen lo?" tanya Axel begitu menghampiri Rain yang merokok diatas motor.
"Sabar lah." Jawab Rain santai.
"Udah lewat sejam."
"Ya sabar." Rain benar-benar malas menanggapi. Apalagi kalau ia sampai salah bicara, bisa habis dia oleh anak-anak dari geng Axel.
Hingga kemudian deru motor sport Sagi terdengar, semakin mendekat. Tapi bukanlah Sagi yang melajukan motor itu, melainkan Emerald, sedang Sagi di belakangnya. Lalu turun dari motor dan Rain mengernyit ketika melihat pergelangan tangan kanan Sagi diperban.
KAMU SEDANG MEMBACA
Wanderloved
Novela Juvenilwanderloved (n) person still confused about the feelings and still likes adventure about love. Wanita pasti terkenal dengan sikap jaim dan sungkan mengungkapkan perasaannya pada seseorang yang dia suka. Namun hal itu tak berlaku pada Surinala. Seja...
