Rere berjalan gontai sembari menyeret tas punggungnya di lantai. Ia kelelahan akibat kejadian hukuman yang tak lazim tadi. Tiga jam ia menghabiskan waktu mengepel lapangan sekolah yang luas ditemani Sandy.
Tak hanya cape, Rere pun juga malu karena seluruh murid Saint Teresa melihat aksi nya dan tak sedikit yang menertawakannya. Sungguh, kondisinya kali ini sangat menyedihkan.
Bagaimana tidak? Selama tiga jam ia berjongkok di lapangan sambil mengepel tiada henti seperti orang gila. Apalagi tingkah nakal para siswa yang menjahilinya dengan menyenggol pot sehingga tanah hitam berserakan di lapangan. Benar-benar sangat mengesalkan!
"Tingkah nakal apalagi yang kamu perbuat disekolah hah?!" suara itu milik Gumilar. Rere terkejut, ia hanya bisa mendengkus kesal sembari menundukan kepalanya.
"Jawab papa, Revinka!!" suaranya meninggi. Membuat hati Rere tersentak. Namun, lagi-lagi Rere hanya bisa diam sembari menahan air mata yang hendak keluar.
"Revinka Aditama! Jawab atau papa bakal buang mobil kamu itu ke jurang?!" ancam Gumilar membuat Rere tidak bisa berdiam lagi. Emosi nya tersulut jika menyangkut hal yang ia sayangi.
"Rere gak sengaja pukul Vinn," ucapnya dengan pelan.
"Ma, anak kita ini benar-benar bengal. Jika saja waktu itu Mama gak larang papa buat masukin Rere ke pesantren mungkin sifatnya gak kayak gini," ucap Gumilar.
"Maafin Mama pa," Fenita menundukan kepalanya.
"Anak kita udah buat anak orang lain pingsan Ma,"
"Anak kita yang ini perempuan. Wajar jika Revano yang melakukan itu, tapi tidak dengan Rere," sambungnya.
"Papa kayaknya harus buat keputusan dan menyetujui permintaan Alkavino," ucapnya lalu melenggang pergi meninggalkan Fenita dan Rere.
Rere gadis yang kuat. Tapi sekuat-kuatnya ia, pastilah tidak sanggup melihat orangtuanya yang sedang menangis karena tingkah nakalnya.
"Ma, Rere minta maaf. Rere bakal nurutin apa yang mama mau asalkan maafin Rere," ucap Rere sambil bersimpuh di kaki Fenita.
Fenita mengangkat bahu Rere. Mensejajarkan tubuhnya dan mengusap pelan rambutnya.
"Mama gak marah kok sama Rere. Mama cuma sedikit kecewa aja. Tapi itu hanya sedikiit sekali, mana mungkin Mama marah sama putri bungsu kesayangan Mama," ujar Fenita sambil memeluknya.
"Rere gak maksud buat nyakitin Vinn. Rere punya alasan buat pukul dia. Gak mungkin kan Rere tiba-tiba aja pukul dia? Rere kan masih sehat ma," ujar Rere sembari memeluk Fenita.
"Mama ngerti. Sekarang kamu mandi, dan bersiap-siap. Mama mau ajak kamu ke Mall buat belanja kebutuhan. Plus, Veronika mau datang kesini," ucap Fenita membuat mata Rere seketika berbinar.
Veronika, adalah tunangan Revano. Selain cantik, Veronika juga memiliki hati yang baik dan tutur kata yang lembut membuat Rere menyukai sifat calon kakak iparnya itu. Apalagi, Rere selama ini tidak mempunyai teman curhat di rumah. Kalau sama Revano mah auto dikacangin. Kalau sama Fenita, malu apalagi sama Gumilar.
"Yaudah, Rere mandi dulu. Tungguin yaa!" Rere melesat bak petir menyambar menuju kamarnya untuk mandi dan bersiap-siap.
_______________
Rere dan Fenita saat ini berada di supermarket di salah satu pusat kota. Rere membawa troli belanjaan yang kosong sedangkan Fenita menenteng tas branded nya menyusuri supermarket.
Pertama, mereka berjalan menuju rak mie instan yang terjejer rapi dan lengkap. Rere mengambil 20 bungkus mie instan berbeda variant rasa dan memasukanya ke troli. Kemudian, Fenita memasukkan tiga bungkus minyak goreng dengan ukuran 2 liter. Kebutuhan ini untuk satu bulan jadi maklumlah jumlahnya yang banyak, apalagi Rere yang sangat menggemari mie instan. Mie instan sebanyak itu mah cuma habis kurang dari dua minggu.
"Re, tolong cariin bahan buat bikin kue ya. Mama mau ke rak kosmetik sekalian testimoni tentang produk mama, ya!" ucap Fenita sembari menyodorkan selembaran kertas bertuliskan daftar bahan kue. Ia pun melenggang pergi.
Rere hanya mendengus. Yang pertama kali ia cari adalah telur. Setelah menemukan tempat penyimpanan telur, Rere memasukkan 1 box telur ke troli. Selanjutnya tepung, ia juga memasukkan 2 KG tepung ke troli. Berlanjut ke rak susu. Ia memilih susu cair low fat dengan kemasan 1 liter kedalam troli. Namun, sebelum memasukkannya lengannya dicekal oleh seseorang.
"Ini susu saya," ucap pria itu. Rere menoleh. Dan betapa terkejutnya ia melihat sosok lelaki itu.
"Pak Asa?" Rere mengucek-ngucek matanya.
"Ini milik saya," ulangnya.
Namun bukannya menjawab Rere malah terbahak.
"Anjir, ternyata laki-laki kayak bapak belanja juga. Pasti bapak disuruh istri ya hayohh ngaku hahaha." Rere tak hentinya tertawa sembari memegang perutnya.
"Kembalikan!" ucapnya.
"Oh tidak bisa. Ini susu Rere yang ambil, berarti ini punya Rere. Bapak seenaknya bilang kalau ini punya bapak!" Rere mendecih sembari memutar bola matanya. Ia memasukkan susu itu kedalam trolinya.
"Ini punya saya!"
"Ihh bapak ngeselin, ini susu saya!" teriaknya. Membuat orang-orang disekitar memandangnya. Mungkin dia salah ucap jadi orang-orang melihatnya seperti itu.
"Tolong, jangan berbuat keributan disini pak, bu," ucap karyawati supermarket dengan senyuman yang ia arahkan pada pak Asatya.
"Gue masih muda dibilang ibu lagi," ucap Rere tak terima.
"Oh ya pak Rere ingetin ini susu low fat punya Rere. Rere yang masukin ini duluan ke troli. Dan Rere juga disuruh mama buat beli ini susu karena mama takut gemuk udah ah pokoknya susu ini PUNYA RERE!" Rere menekankan kata 'punya rere' dan melenggang pergi.
Namun, lengannya di cekal oleh tangan besar milik Asatya. Otomatis Rere menghentikan langkahnya.
"E-a-aduh mohon maaf atas kelalaian kami. Produk susu low fat ini sebenarnya masih banyak di gudang tapi karyawan saya tidak cekatan menyimpan produk ini ke rak. Sekali lagi saya minta maaf atas nama supermarket ini," ucap pria berjas sambil menyodorkan produk susu ke tangan Asatya
"Lepasin tangan gue!" ucapnya kasar sembari menepis tangan Asatya yang berada di lengannya.
Rere melangkahkan kaki nya dengan mendorong troli menuju Fenita di tempat kosmetik. Ia kembali kesal karena pak Asatya. Guru baru yang berbuat seenaknya padanya.
"Loh Re, udah belanja nya?" tanya Fenita ketika melihat sang putri yang menghampirinya dengan wajah kesal.
"Rere mau ditemenin mama. Rere sempet kesasar karena udah lama gak kesini jadi Rere lupa. Mama tau sendiri daya ingat Rere yang minim," alibi Rere membuat Fenita mengangguk mengerti.
"Yaudah jeng, saya pergi dulu temenin putri saya," pamit Fenita pada salah satu pelanggan brand make-up nya.
_______________
"Kak Vero!!" pekik Rere sembari berlari dan memeluk Veronika.
"Eh Rere," Veronika membalas pelukannya.
Rere mengadahkan padangannya melihat Veronika, "Rere rindu kakak ih. Kakaknya sibuk terus jadi Rere sendiri"
"Maafin. Kakak juga dimarahin kakak kamu gara-gara pemotretan di Hawaii beberapa minggu kebelakang," Veronika terkekeh sembari melirik Revano yang tengah asyik mengetikan jari nya di keyboard laptop.
"Yasudah Rere, ikut mama kedapur yuk! Kita buat kue," ajak Fenita.
"Vero ikut dong Ma," ucap Veronika
"Loh kamu mau waktu berduaannya terganggu oleh kita?" goda Fenita disertai kekehan kecil.
"Ih mama, Vero udah puas kok berduaan sama anak mama yang lagi sibuk itu," sindir Veronika lalu mulai berjalan menuju dapur bersamaan dengan Rere dan Fenita.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear Guru Killer
Teen FictionApa jadinya kalau seorang Revinka Aditama yang dikenal memiliki sifat badung dan di cap sebagai badgirl dijodohkan dengan guru baru disekolahnya yang dikenal killer dan menyeramkan? _______________________ "Lo boleh jadi calon suami gue, tapi lo gak...
