Tiga hari sudah berlalu. Para senior Saint International bisa bernafas dengan lega. Pasalnya, try out sudah berakhir. Dan mungkin, yang mereka lakukan saat ini adalah rebahan di ranjang sama seperti Rere?
Ya. Gadis pemalas itu rupanya hanya memanfaatkan waktu liburannya untuk bermanjaan dengan bantal, guling, selimut dan kasur tentunya dan juga membuang waktunya itu dengan meng-scroll beranda sosial media.
Dasar tidak ada kerjaan!
Kalau Asatya tahu dan melihat, ia tentu saja akan memarahinya, menjewer telinganya, atau mungkin menyuruhnya mencuci sederetan mobil mewah milik Asatya?
Eits tunggu dulu. Saat ini, Asatya tengah berada di sekolah. Karena ia di tunjuk untuk menjadi panitia, ya mau tidak mau ia harus mengerjakan beberapa tugas tambahan. Seperti, mengawas ketika berlangsungnya try out, men-chek kehadiran siswa dan siswi, atau mendata nilai try out. Jadi, untuk beberapa jam kemudian Rere terbebas dengan segala yang berhubungan dengan Asatya.
Tapi, kerugian bila Asatya tidak ada di dekat Rere hanya satu. Yaitu tidak ada martabak telur. Soalnya, Asatya hanya memberinya uang sejumlah dua puluh ribu hari ini untuk seharian. Mana cukup untuk membeli martabak telur spesial yang harganya lebih mahal dari uang yang diberikan Asatya.
Asatya memanglah licik. Tiga kata itu selalu Rere ucapkan ketika ia sangat kesal dengannya. Bayangkan saja, uang mingguan yang selalu Gumilar transfer harus ditahan olehnya. Alasannya hanya satu. Ia tidak mau Rere boros.
Tidak terasa Rere sudah menghabiskan waktu selama dua jam hanya untuk bulak-balik sosial media. Dari facebook ke Whatsaap, dari whatsapp ke instagram, dari instagram ke facebook begitu seterusnya.
Rere sebenarnya jarang sekali membuka sosial media, apalagi update status. Namun, karena hari ini sangatlah gabut jadinya mau tidak mau pilihannya jatuh pada sosial media.
Hufhh
Rere membuang nafasnya kasar. Ia bangkit dan menegangkan otot-ototnya. Sesekali ia menguap namun ia tak mau melanjutkan tidurnya. Ia memilih untuk membereskan selimut yang menggulung dan kasur yang sangat berantakan. Lalu kemudian mandi.
Setelah semuanya selesai dan rapi, Rere turun ke bawah untuk menuntaskan rasa lapar yang melanda. Semoga saja di dapur ada mie instan, jadi ia tidak perlu repot-repot memasak.
Omong-omong dapur, Rere jadi teringat dengan Alex tempo hari. Banyak pertanyaan yang hinggap di benaknya. Bagaimana kabarnya? ada dimana ia sekarang? apa yang terjadi dengannya waktu itu? Sebab, selama Rere melaksanakan try out, Alex tidak ada.
Semua sudah Rere lakukan. Dimulai dari menelponnya setiap detik, mengunjungi rumahnya sepulang sekolah. Namun, hasilnya nihil. Alex tidak mengangkat telponnya, dan bunda selalu berkata bahwa Alex mungkin belum pulang dari sekolah. Dan bunda juga selalu mengingatkan Rere agar selalu berpikir positif.
Setibanya di dapur, buru-buru Rere membuka kulkas. Namun tidak ada satupun mie yang tersisa di kulkas. Rere lagi-lagi harus membuang nafas kasar.
Satu-satu nya pilihan adalah membeli mie di mini market. Ia merogoh saku celananya. Uang dua puluh ribu itu ia amati dengan seksama. Dalam hati ia bertanya, apakah dengan uang segitu akan cukup untuk membeli keperluannya yang banyak? Bahkan, setiap ia berbelanja cemilan saja pasti nominalnya lebih dari seratus ribu.
Setelah berpikir cukup keras dan lama, Rere putuskan untuk membeli mie instan di mini market. Soal nominal harga, Rere bertekad untuk menghemat dan membelanjakan yang paling ia butuhkan.
"Let's go Rere!"
Rere menyemangati dirinya sendiri. Asatya memanglah kejam. Menitipkan uang segitu dengan kulkas yang nyaris kosong. Awas saja, setelah pulang nanti Rere akan balas dendam!
Ia memantapkan langkahnya menuju mini market yang jaraknya lumayan jauh dari rumah Asatya.
Ceklek
Wait...
Rere membungkukkan badannya dan mengambil kotak dengan pita berwarna pink yang tersimpan tepat di depan pintu. Rere menengok kanan kiri, namun tidak ada siapapun.
Karena rasa penasarannya sudah berada di ujung, Rere putuskan untuk membuka kotak tersebut. Dan ternyata, di dalamnya terdapat sebuah amplop berwarna hitam.
Rere membuka amplop tersebut dengan perlahan dan mulai membaca secarik kertas yang berada di dalamnya.
Jauhin Asatya!
V
Rere tertawa renyah.
"Violetta, Violetta. Gak bosen-bosennya ganggu hidup gue. Lo juga kayaknya kagak kapok kena DO lagi. Ck ck ck, dasar ratu drama kebanyakan micin. Kemarin fitnah gue, lah sekarang mau ancurin hubungan gue" ucap Rere sembari mengepalkan lalu membuang secarik kertas itu.
Setelah itu, Rere mulai melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda menuju mini market. Ia menyelipkan earphone berwarna putih di telinganya. Mulutnya kini komat-kamit menyanyikan lagu.
Tapi, ketika di tengah perjalanan, sebuah mobil mewah berwarna putih berhenti tepat di depannya. Rere mengernyitkan halisnya bingung. Lalu tak lama, si pemilik mobil keluar dengan memakai setelan formalnya.
"Loh, bapak?"
Asatya langsung memeluk Rere dengan sangat erat sehingga Rere dibuat sangat bingung olehnya.
Durasi pelukan mereka berlangsung singkat. Asatya melepaskan pelukannya lalu beralih menuju tubuh Rere. Dilihat dan diputarnya tubuh Rere dengan ekspresi yang sangat cemas.
"Apa ada yang terluka? Atau ada seseorang yang tidak dikenal di rumah? Ayo katakan," desak Asatya.
"Apasih pak. Gajelas banget. Orang Rere baik-baik aja. Udah deh Rere mau ke mini market, laper banget soalnya," ucap Rere acuh.
"No. Kita pulang sekarang. Kau tidak boleh keluar rumah tanpa saya. Ayo, segera naik. Berbahaya terlalu lama di luar," ucap Asatya. Rere hanya bisa mengikutinya dengan terpaksa.
Sesampainya di rumah.
"Halo, Dave cepat kemari dan bawa semua anak buah mu sekarang juga," Rere lagi-lagi bingung.
Asatya terlihat sangat panik. Buktinya saja ketika ia memasuki rumah, lengan Rere diseret dengan cekalan yang kuat secara tergesa-gesa.
Asatya aneh. Batin Rere ketika tak sengaja mendengar percakapannya dengan seseorang di telepon.
"Pak, Rere lapar. Belum makan dari tadi. Rere pengen mie instan tapi di kulkas udah abis. Rere boleh ke mini market ya, sebentaaaar aja," bujuk Rere pada Asatya.
"No. Kau tetap berada di rumah dan pesan lewat ojek online. Pokoknya kau tidak boleh keluar rumah tanpa saya, mengerti Revinka?"
"Tapi bapak kasih tau dulu ada apa. Rere gak mau kalo sampe nanti malam gak bisa tidur gegara ini."
"Nanti juga kau tau sendiri. Yang terpenting sekarang kau tetap berada di rumah. Saya sudah menghubungi Dave, bodyguard yang akan menjaga kamu," ucapannya membuat Rere tertawa dengan kencang.
"Bodyguard? Buat apa? Rere ini bukan selebriti ataupun model kayak kak Veronika. Buang-buang uang aja. Udah gak usah, Rere gak mau pake bodyguard-bodyguard segala," tolak Rere mentah-mentah.
Asatya berjalan memghampirinya. Kedua tangannya ia letakkan di pipi Rere. Dengan tatapan tajam nan serius, Asatya berkata "saya tidak mau kehilangan kamu. Jadi tolong, biarkan saya melindungi kamu dengan cara ini."
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear Guru Killer
Teen FictionApa jadinya kalau seorang Revinka Aditama yang dikenal memiliki sifat badung dan di cap sebagai badgirl dijodohkan dengan guru baru disekolahnya yang dikenal killer dan menyeramkan? _______________________ "Lo boleh jadi calon suami gue, tapi lo gak...
