Pagi di hari Jum'at. Rere saat ini tengah bercermin setelah acara mandi nya selesai. Hari ini, ia menggenakan seragam motif kotak-kotak. Tak lupa ia juga menyemprotkan hampir setengah botol parfum keseluruh tubuhnya.
Setelah semuanya selesai, Rere segera menggendong tas hologramnya itu dan berjalan menuju lantai bawah dimana semua orang sedang berkumpul untuk melakukan sarapan pagi.
Ketika sampai dibawah,Rere disambut dengan senyuman langka sang kakak, Revano dan tak lupa senyuman dari Gumilar dan Fenita.
"Pagi Re, mama buatin kamu nasi goreng mozarella kesukaan kamu," ucap Fenita sambil menyodorkan piring yang telah berisi nasi goreng mozarella.
"Makasih," jawab Rere singkat sambil mengambil piring tersebut.
Rere menghabiskan nasi goreng itu dalam waktu sekitar 10 menit. Setelah itu, ia bangkit dan mengambil tas hologramnya.
"Ma, Pa, Kak Vano. Rere pergi sekolah dulu. Selamat pagi."
Rere melangkahkan kakinya menuju garasi karena ia yang akan mengendarai mobil sendiri.
Tapi setelah ia berada di ambang pintu depan..
"Dar!"
Rere memegang dadanya karena kaget. Ia menoleh pada si pelaku. Ternyata ia adalah Asatya yang tengah menyandarkan punggungnya pada tembok dan menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Pak Asatya! Ngagetin aja! Ngapain ada disini?!" ucap Rere dengan nada kesal.
"Pagi, " jawab Asatya dengan nada dan wajah datar.
Kagak nyambung dah! Rutuk Rere dalam hati.
"Minggir! Saya mau ambil bumble-bee." ucap Rere sambil mendorong bahu Asatya yang tiba-tiba menghadang langkahnya.
"Saya yang antar!" tegasnya.
"Gak mau! Apa kata mereka kalo liat pak Asatya sama saya?!" jawab Rere.
"Saya yang antar!" tegasnya lagi. Namun kali ini, tangan kekarnya mencekal lengan Rere.
Pandangan Asatya mengedar, mulai dari atas hingga bawah tubuh Rere. Pandangannya berhenti kala ia melihat sepatu berwarna pink yang Rere kenakan, juga kaus kaki bermotif pelangi.
"Cepat ganti sepatu!"
"Gak mau!"
"Cepat ganti sepatu!"
"Gak mau!"
"Revinka Felixian!"
Bulu kuduk Rere meremang kala Asatya menyebutkan nama belakangnya yang ditambahkan nama belakang keluarga Asatya. Ia mau tak mau hanya mengangguk lalu dengan terburu-buru ia melangkahkan kaki nya menuju kamar untuk mengganti sepatunya.
Setelah selesai,ia kembali menuju pintu depan dimana Asatya masih setia berdiri sembari menyenderkan punggungnya di tembok sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Sudah?" tanya Asatya. Pandangannya ia arahkan pada sepatu guna men-chek.
"Lipstik hapus! Mascara juga!" sambungnya.
"Lah pak, kalau dihapus saya gimana? Masa mau polos-polos aja. Idihh bukan Rere banget," jawab Rere dengan mencebikkan bibirnya.
"Sudah peraturan sekolah. Kamu hanya boleh memakai bedak dan lipbalm," jawabnya membuat Rere kesal.
"Idih peraturan macam apa itu? Dulu waktu pak Bram boleh-boleh aja tuh pake mascara sama lipstik," cibir Rere.
"Turuti saja!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear Guru Killer
Roman pour AdolescentsApa jadinya kalau seorang Revinka Aditama yang dikenal memiliki sifat badung dan di cap sebagai badgirl dijodohkan dengan guru baru disekolahnya yang dikenal killer dan menyeramkan? _______________________ "Lo boleh jadi calon suami gue, tapi lo gak...
