DGK:40

31.8K 1.5K 6
                                        

Fyuh.

Rere lega sekali. Hari ini, setelah penantiannya selama dua bulan merupakan hari dimana ia dinyatakan lulus atau tidaknya dari pihak Saint International High School. Ada suatu kesalahan teknis yang menyebabkan acara ini terlambat satu bulan.

Pak Georgino Felixian selaku kepala sekolah sekaligus pemilik Saint International High School kini tengah berdiri dengan gagahnya di panggung megah nan mewah dan sedang membacakan sambutan kepada para tamu undangan terkhusus para siswa dan siswi.

Rere, dengan balutan kabaya modern berwarna pink dan polesan make-up minimalis membuatnya tampak cantik seperti di hari akad. Namun bedanya, dihari ini rambut panjangnya dibiarkan tergerai. Ia kini sedang duduk memperhatikan kepala sekolah sekaligus pamannya didampingi oleh sang suami yang nampak sangat tampan dengan balutan jas dan tuxedo dengan warna yang mendominasi.

Sedangkan di sebelah kanannya sudah berjajar para the sengklek yang tak kalah cantik dan tampan dari pasangan itu, bahkan Anton dan Andin terlihat sangatlah serasi.

Rere duduk dibarisan ketiga. Sedangkan dibarisan pertama ada Daniar, Kevin, Fenita, Gumilar, Divya, istri Georgino, Jonathan, Revano, Veronika dan beberapa guru sampai barisan kedua.

"Baiklah, mari kita umumkan nama-nama murid jenius. Peringkat ketiga diraih oleh... Rixi Ananta dari kelas XII-IPA-03. Untuk nak Rixi, dipersilakan menaiki panggung," ucap menggelegar dari Georgino membuat riuh tepuk tangan mulai terdengar.

"Peringkat kedua, diraih oleh... Alexander Junio dari kelas XII-IPS-05. Untuk nak Alex, dipersilakan menaiki panggung," pun dengannya yang disambut meriah oleh tepukan tangan.

Alex, dengan gaya coolnya mulai berjalan menuju panggung. Tak sedikit perempuan yang memujinya, bahkan ada yang menghentikannya di tengah perjalanan menuju panggung dan meminta foto kepadanya.

"Dan untuk selanjutnya, peringkat pertama. Siswi cantik, cerdas bahkan sangat jenius. Dari kelas sepuluh ia selalu menyabet piala olimpiade sains antar kota. Bahkan saya sampai salut kepadanya. Baiklah, mari kita sambut juara kita, kebanggaan kita... Revinka Aditama."

Tepuk tangan kali ini benar-benar sangat riuh. Bahkan Fenita yang mendengar pun sampai menitikan air mata bahagianya.

Asatya tersenyum pada sang istri. Di genggam lah tangannya dan ia bawa berjalan beriringan menuju panggung dengan gaya khas seorang pangeran.

Ah Rere jadi terharu. Mendengar riuh tepukan tangan untuknya, perlakuan hangat dan romantis sang suami. Uh, rasanya ia ingin menangis dan memeluk sang suami saat ini juga.

Asatya mengantar sang istri hanya sampai tangga panggung lalu ia kembali ke tempat semulanya.

"Ada yang mau kalian sampaikan? Dari nak Rixi? nak Alex atau nak Revinka?"

Rixi dan Alex menggeleng. Namun Rere memilih maju kearah microfon.

"Rere hanya mau bilang terimakasih ke orang-orang yang udah baik banget ke Rere. Terkhusus buat Mama, Papa, Mama Daniar, Papa Kevin, Om Gino,Kak Vano, Kak Vero, para the sengklek dan tentu aja... pak Asatya yang udah ikhlas rubah sikap Rere, yang udah sabar ajarin Rere pelajaran sejarah. Intinya Rere pengen berterimakasih. Rere sayang kalian."

Pidatonya itu berbuah riuhan tepuk tangan semua orang yang melihat.

Fenita dan Gumilar tak henti-hentinya mengeluarkan air mata bahagianya sehingga Daniar dan Kevin berusaha menenangkannya.

"Gak nyangka banget Kev, Rere itu anaknya badung, liar dan nakall nya minta ampun. Udah beberapa mobil nyemplung atau nabrak karena balapan liar. Setiap hari bolos dan main ke club sama sahabatnya, bahkan yang paling buruk adalah memukul teman laki-lakinya hingga pingsan. Itu alasanku menjodohkannya dengan nak Asatya dengan niat buat ubah sifatnya. Gak disangka ternyata Rere anak yang jenius. Aku memanglah orang tua yang terlalu sibuk dengan pekerjaan sehingga kabar mengenai putriku sendiri yang mendapat juara lomba sains saja tidak tau. Kev, aku gagal jadi orang tua."

"Gak Gum,  kamu gak gagal. Justru kamu berhasil mendorong Revinka menjadi anak yang jenius, walaupun caramu sangatlah salah," Kevin menepuk-nepuk bahunya pelan.

"Andai kita selalu ada dan liat perkembangan putri kita Pa. Pasti Rere gak bakal nakal. Mama jadi tau penyebab kenapa Rere nakal sekarang. Mama nyesel banget Pa."

Rere turun. Orang pertama yang ia temui adalah sang Mama, Fenita. Rere berlari setelah turun dari panggung dan segera memeluk erat tubuh sang Mama sembari membawa piala besar, medali serta sertifikat.

"Rere berhasil Ma!" ucapnya.

Gumilar ikut serta masuk dalam pelukan mereka. Pun dengan Asatya yang ternyata sudah ada di dekatnya.

Setelah melepaskan pelukannya, Asatya mengangkat tubuh kurus Rere dan memutar-mutarkannya ke udara

"Saya bangga padamu," teriaknya.

"Turunin Rere pak, a-akh"

Asatya tersadar dan segera menurunkan kembali tubuhnya.

"Ah maaf saya lupa kamu sedang tidak enak badan. Pasti pusing? Aduh maaf sekali," ucapnya menyesal.

"Gapapa kok, selain itu Rere malu diliatin orang banyak."

"Kamu mau apa? Biar saya belikan. Saya sangatlah bahagia."

"Gak mau apa-apa. Rere pengen abis ini kita langsung pulang karena besok bakalan jadi hari yang paling melelahkan."

"Baiklah, sekarang saja bagaimana?" Rere mengangguk setuju.

"Lex, Ton, Din, Sya, San, Yon, gue sama bapak pulang duluan ya, tenang aja, udah di bolehin kok sama om Gino. Oh ya, jangan lupa ntar sore lo pada harus udah ada di rumah gue, kalo gak gue gak bakalan ngasih tumpangan gratis!" Rere terkikik diakhir kalimatnya.

"Selamat ya Re. Gue sebagai sahabat lo dari orok ikut bahagia atas pencapaian luar biasa lo. Sumpah." ucap Risya.

"Iya Re, gue juga. Walaupun gue baru kenal lo pas smp. Selamat ya Re!"

"Selamat! Iya iya my princess, babang tampan ini bakalan datang kok, jangan khawatir," Alex tersenyum. Ucapannya itu berbuah senggolan oleh Leon.

"Liat noh lakinya, sinis gitu natap lo!" bisiknya namun dengan suara yang masih bisa di dengar oleh mereka.

"Hahaha anjir! Lo jangan ada niatan jadi pebinor alias perebut bini orang deh Lek. Ntar lo mau di--" Sandy menggantung ucapannya dengan menunjukan kepalan tangannya.

"Gak akan. Seorang Alex gak pernah kalah, apalagi soal kayak gitu. Tenang aja, kita liat seberapa jago gue sama dia," bisiknya tepat di telinga Sandy.

Sandy menautkan halisnya tanda tak paham dengan apa yang dibisikkan Alex. Alex memang begitu, meracau tidak jelas. Walaupun sering, tetap saja mereka masih merasa aneh dan bertanya-tanya.

"Apaan sih lek? Gajelas banget!"

"Ah enggak, gue lagi niruin salah satu dialog film action."

"Yaudah semua, gue pamit dulu. Love you!"

"Love you too my princess."

"Udah deh lek, berhenti ngarepin Rere jadi cewek lo. Mau sampai kapanpun lo kagak bisa rebut Rere dari pak Asatya. Apalagi pak Asatya itu super duper posessive. Nyewa bodyguard aja sampe empat saking sayangnya. Jadi gue rasa harapan lo 0.0001% deh lek."

"Masih ada angkanya kan? Jadi, gue masih ada harapan buat jadi milik dia."

"Seterah!"

Dear Guru Killer Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang