DGK:10

45.3K 2.5K 20
                                        

Yang Rere lakukan saat ini adalah terduduk di balkon sambil terdiam dengan mata yang memandang kearah pemandangan di hadapannya.

Pemandangan ini asing bagi Rere. Sebab ini bukan rumahnya. Melainkan rumah orang tua Asatya yang berjarak beberapa kilometer dari rumahnya.

Sesekali Rere menghela nafasnya kasar. Sebab, tanpa ia ketahui orang tuanya pergi bersama dengan orang tua Asatya menuju resort yang mereka bangun sedari dulu di daerah Lombok.

Gumilar dan Fenita mau tidak mau menitipkan putri kesayangannya itu pada tunangannya, Asatya yang saat ini dia diminta untuk menjaga adiknya juga.

Rachel Felixian, nama adik dari Asatya. Gadis cantik dengan rambut panjang itu berusia 15 tahun. Dalam artian, umurnya hanya selisih 2 tahun dari umur Rere sekarang.

Rere tak tahu harus apa agar bisa mengusir rasa bosannya. Keluar rumah sekedar jalan-jalan ke komplek? Pasti ditolak. Mengajaknya keluar rumah? Pasti jawabannya big No. Sebab, Asatya khawatir dan mewanti-wanti nya agar tidak keluar rumah sebab kondisinya masih belum pulih.

Asatya berdalih jika ia mengkhawatirkannya sebab takut dimarahi sang Mama. Sebab, Rere kan calon menantu kesayangannya.

Sejak Asatya sering bermain dengan kakak Rere-Revano waktu kecil, Mama 'nya sudah menyukai Rere. Rere adalah gadis kecil lucu, dengan pipi chubby yang menggemaskan serta matanya yang berwarna cokelat menyala, membuatnya mendapatkan nilai plus dari keluarga Felixian terutama Mama 'nya.

Huh

Rere membuang nafasnya lagi-lagi dengan kasar. Ia sudah bosan dan tingkat kebosanannya itu sudah mencapai tingkat atas. Itu artinya, Rere harus segera melakukan sesuatu agar ia tidak bosan lagi.

Ia putuskan untuk bangkit dari kursi lalu melangkah menuju kamar Rachel yang berada di lantai ketiga.

Sebelum sampai di kamar Rachel yang letaknya di paling ujung, ia melewati sebuah ruangan yang pintunya sedikit terbuka. Namun di pintu itu terdapat stiker bertuliskan 'do not open'

Rere mengernyit kan halisnya. Disana tertulis tidak boleh dibuka tapi pintunya malah terbuka. Ah, Rere jadi penasaran. Ia putuskan untuk menunda acaranya mengunjungi kamar Rachel dan segera masuk untuk melihat ruangan itu.

Kleek

Pintu ia buka dengan hati-hati. Takutnya ada yang melihat, nantinya kan panjang urusannya. Ia masuk, dan menutup rapat pintu itu demi menghindari kecurigaan orang-orang.

Ketika ia benar-benae masuk, ia bisa melihat ruangan itu dengan jelas. Ruangan itu ternyata kotor, banyak debu dan banyak barang yang sudah usang.

Mungkin ini gudang

Pikir Rere di dalam hati. Sebab, di rumahnya pun terdapat ruangan khusus untuk menyimpan barang yang tidak terpakai persis seperti ini.

Tapi, ia masih penasaran kenapa ruangan biasa seperti ini harus dipasangkan stiker dengan tulisan tidak boleh dibuka. Pasti ruangan ini ada apa-apanya.

Akhirnya ia memutuskan untuk berjalan lebih kedalam. Dan hasilnya pun sama. Tidak ada barang yang aneh yang ada di sini.

Namun, ketika ia hendak berbalik, kaki nya tak sengaja menginjak sehelai kain berwarna hitam. Ia berjongkok untuk melihat dan mengamati ujung dari kain itu.

Ternyata, ujung kain hitam dengan panjang kira-kira satu meter itu berada di sebuah kardus dengan warna hitam yang aneh nya sangat bersih dan berbeda dari kardus-kardus lainnya.

Ia berjalan menuju kardus tersebut. Lalu mulai membukanya perlahan.

Isi nya hanyalah sebuah foto yang tersimpan rapi di dalam figura. Dalam foto itu, terdapat seorang lelaki dan gadis dengan memakai baju putih abu-abu yang penuh dengan coretan warna. Si lelaki tampak terlihat mesra dengan memeluk pinggang gadis itu. Dan si gadis hanya tersenyum kearah kamera. Background-nya cukup sederhana,yaitu sebuah motor dan hamparan bukit yang luas. Kemungkinan besar, lelaki itu mengajak pacarnya untuk merayakan kelulusan di sebuah bukit.

Dear Guru Killer Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang