"A-ah pak, Rere gak mau pulang. Rere mau disini sama si kelek," racaunya sembari memeluk Alex dari samping.
Tangan Rere berulang kali Asatya jauhkan dari pinggang Alex namun sangat sulit bahkan tidak bisa di lepas.
Para the sengklek minum ketika bunda sudah tidur. Sandy yang membawa beberapa botol untuk mereka minum bersama-sama.
Walaupun ia baru meminum satu gelas, tapi efek yang timbulkan sangatlah kuat. Asatya pikir, efeknya akan biasa saja maka dari itu ia izin kan istrinya untuk meminum minuman dari Sandy.
"Tony, Ben, coba jauhkan tubuhnya dari tubuh Revinka. Saya yang akan melepaskan tangannya," perintahnya. Kedua bodyguard berbadan besar itu segera melaksanakannya.
Setelah terlepas, Asatya segera menggendong Rere dan pergi meninggalkan rumah Alex dan juga beberapa sahabatnya yang tengah terkapar lemas.
"Mark, kau yang melajukan mobil saya. Biar Dave yang melajukan mobil kalian," perintahnya lagi pada Mark, salah satu bodyguardnya yang berwajah tampan.
Asatya membaringkan tubuh sang istri di bangku belakang dengan paha yang dijadikan bantal untuknya.
Jika sedang sadar, bawel, cerewet, dan galak akan menjadi ciri khasnya. Tapi, jika sedang tertidur seperti ini, Rere malah memperlihatkan wajah damai dan kalemnya yang membuat pandangan Asatya tidak bisa berpaling sedetikpun darinya.
Bahkan, jemarinya ia biarkan begitu saja mengusap surai rambut Rere dan sesekali bibirnya itu ia tempelkan di pipi tirusnya.
"Mark, ke hotel Dream."
"Baik tuan," ucap Mark dengan anggukan.
Mengingat tubuh Rere yang mengeluarkan aroma minuman keras yang menyengat serta tubuhnya yang tak sadarkan diri membuat Asatya harus memilih hotel sebagai alternatif supaya tidak diketahui orang rumah terutama Daniar. Sebab, walaupun kini waktu menunjukan pukul tiga pagi, telinga dan indera penciumannya sangatlah jeli.
Ia takut, Daniar tahu dan nantinya akan menganggap dirinya suami yang tidak becus menjaga istrinya. Ia juga takut Daniar marah dan mendiamkannya seperti waktu ia membuat Rachel menangis karena terjatuh dulu.
Saat itu, dirinya dianggap tidak becus menjaga sang adik dan membuat Daniar marah serta mendiamkannya. Padahal, semua itu bukan sepenuhnya salahnya.
Dan kini, ia tidak mau kejadian dianggap 'tidak becus' terulang lagi.
Beberapa menit kemudian...
Tak terasa, mobil yang dikendarai oleh Mark sudah terparkir di bassement hotel Dream. Mark segera menyadarkan Asatya dari lamunannya, "tuan, kita sudah sampai. Dave, Tony, dan Ben sudah di belakang kita. H-m..apa tuan memerlukan bantuan?" tanyanya.
"Oh ya. Tolong booking tiga kamar. Satu untuk saya dan Revinka, yang lainnya untuk kau dan Tony, dan yang terakhir untuk Ben dan Dave. Pastikan kamar saya berada di tengah-tengah kalian. Mengerti?"
Mark mengangguk, "mengerti tuan."
"Baiklah. Kalau sudah, beritahu saya," Mark mengangguk lagi dan langsung melesat pergi.
Selagi menunggu Mark dan yang lainnya membooking kamar hotel, Asatya mengangkat tubuh kurus Rere untuk ia dekap. Bukannya ia mencari kesempatan dalam kesempitan, tetapi ia melihat bibir mungilnya bergetar menandakan bahwa dia sedang kedinginan sebab, baju yang digunakannya tidaklah tebal sehingga memungkinkan angin untuk masuk.
Tak lama, ponselnya bergetar. Tertera nama Dave disana.
Hallo tuan, kamarnya sudah kami booking. Tuan bisa kesini sekarang. Apa tuan memerlukan bantuan?
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear Guru Killer
Teen FictionApa jadinya kalau seorang Revinka Aditama yang dikenal memiliki sifat badung dan di cap sebagai badgirl dijodohkan dengan guru baru disekolahnya yang dikenal killer dan menyeramkan? _______________________ "Lo boleh jadi calon suami gue, tapi lo gak...
