NOTE : HANYA CHAPTER 1 DAN 2 MEMAKAI SUDUT PANDANG PERTAMA. SELEBIHNYA PAKAI SUDUT PANDANG KETIGA. SELAMAT MEMBACA. JANGAN LUPA TEKAN TOMBOL BINTANGNYA!
Acha keluar dari rumah Sastria dengan menghentakkan kaki yang begitu kuat, agar pemilik rumah itu peka terhadap situasi hati Acha, Acha kesel dengan sahabat kecilnya itu, tidak ada bosan nya menjail dirinya dan membuat dirinya kesel — Acha pun sama.
Acha masuk kedalam mobil nya yang terparkir rapi di halaman rumah Sastria. Sastria melihat mobil Acha yang melaju keluar dari perkarangan rumahnya.
"Palingan besok sudah mendingan tu," ucap Sastria sama sekali tidak merasa bersalah kepada Acha, Sastria melangkahkan kaki nya menuju ruang tamu untuk melanjuti nontonnya.
Acha menancap gas mobilnya dengan kelajuan 100km/jam, ia melampiaskan kekesalannya dengan ngebut di jalanan, itu sudah biasa bagi Acha. Pandangan Acha tetap fokus ke jalan raya. Saat di pembelokan tiba-tiba mata Acha buram, akibat air matanya yang sudah berkumpul ingin di jatuhkan. Acha tetap melajukan mobilnya dengan kecepatan yang sama, ia memejamkan matanya sebentar untuk menghilangkan keburaman di matanya, tanpa Acha sadari di depan nya terdapat seorang cowok mengendarai sepeda motor.
Acha membuka matanya, ia terkejut, sedikit lagi ia akan menabrak cowok di depannya itu. Acha segera menurunkan kecepatan mobilnya, tapi kendali di stir mobilnya tidak bisa ia kontrol. Acha menyenggol cowok bersepeda motor tersebut, Acha memberhentikan mobilnya dan melihat kebelakang tanpa niat turun dari mobil. Cowok itu terjatuh di rerumputan dan seperti nya tidak terluka parah, hanya saja cowok itu terbaring dengan sepeda motornya di atasnya dan beberapa makanan yang tumpah.
Acha melihat sekeliling, untung saja daerah sana sepi. Acha tidak berani menghampiri cowok tersebut, ia langsung menancapkan gasnya untuk kabur dari sana. Dengan muka pucat, hati was-was, pikiran entah kemana, kedua orang tua Acha yang duduk di ruang tamu melihat anak satunya itu masuk ke dalam rumah tanpa mengucapkan salam — tidak seperti biasa Acha begitu.
Acha pergi ke kamarnya, menaiki satu per satu anak tangga.
Ting...tong..,
Bel rumah Acha berbunyi. Acha langsung membalikan badannya, ia melihat sang Mama — Rachel, sudah berjalan ke arah pintu. Jantung Acha berdegup dengan kencang, ia sangat takut sekali jika cowok yang di jalan tadi menyusul dirinya.
Acha masih mematung di tangga, tatapannya tidak berahli dari Rachel yang dari pintu sampai ke arah tempat duduk pertamanya. Acha melihat Mamanya masih berdiri di samping sang Papa — Akbar, yang serius berkutat dengan laptop kerjaannya.
"Acha sini kamu!" panggil Rachel kepada Acha, Acha berjalan perlahan ke arah mereka berdua.
"Aa... ada apa, Ma?" tanya Acha takut-takut. Acha berdiri di belakang orang tuanya, ia tidak berani menampakkan wajahnya di depan orang tuanya.
"Besok kamu pindah sekolah, buat malu saja di sekolah lama kamu," ucap Rachel dengan nada marah, Acha melihat surat yang ada di tangan Rachel.
"Huft, ternyata surat pindah," gumam Acha lega, karena kenyataan yang ia dapatkan hanya surat pindahan bukan surah tuntutan.
"Ternyata, kamu bilang?" Rachel berdiri dengan tangan di pinggangnya, ia mendengar ucapan Acha tadi, "ini surat sudah berapa kali datang ke rumah, dan sudah berapa kali kamu pindah sekolah, Acha! Masuk kamu ke kamar sekarang, dan jangan keluar!" Bentak Rachel, Acha berbalik menuju ke kamarnya dengan enteng, tanpa ada rasa takut yang menyelimutinya, bentakan dan repetan itu sudah sering ia rasakan setiap tahunnya.
***
"Assalammualaikum, Abang pulang," ucap cowok jangkung yang masuk ke dalam rumah yang bernuasa putih itu.
"Yee, Bang Chiko sudah pulang, bawa apa Bang?" girang anak kecil cewek berumur 6 tahun kepada cowok tersebut.
"Nih Abang bawa nasi goreng, maaf lama ya." Chiko berjalan ke arah dapur dan adek ceweknya itu mengikuti dirinya dari belakang. Chiko menuangkan nasi goreng itu ke dalam piring dan memberikan piring tersebut kepada sang adek yang sudah terduduk di kursi meja makannya.
Chiko melihat adeknya makan sebentar, baru ia pergi meninggalkan adeknya di dapur sendirian, Chiko mengambil kontak P3K di laci samping televisi. Chiko perlahan mengoleskan pitadin yang sudah di tuangkan ke kapas itu ke tangannya yang terluka.
Sangat apes sekali dirinya hari ini, gegara mobil yang melaju dan menyenggol dirinya lalu lari dari tanggung jawab, ia terpaksa membeli lagi nasi goreng untuk sang adeknya yang sudah jatuh berserakan di rerumputan, dan untung saja dirinya mengingat plat mobil tersebut dan warna mobil itu agar dirinya bisa mudah memberi pelajaran kepada orang itu.
Achiko Pramesthu, cowok jangkung nan rapi. Ia merupakan cowok terkeren di sekolahnya, ia mempunyai adek kecil yang bernama Cia, orang yang sangat Chiko sayangin. Ia juga masih mempunyai kedua orang tua, tetapi kedua orang tuanya sangat sibuk keluar kota, dan terpaksa dirinya yang bertanggung jawab mengurus rumah dan juga Cia.
Chiko juga merupakan cowok yang bertanggung jawab dengan tugas yang di berikan kepadanya. Di sekolah ia menjabat sebagai ketua Osis, satu satunya siswa yang super sibuk dengan urusan sekolah. Jika ditanya wajahnya bagaimana? Buh jangan ditanya lagi, wajah tenangnya itu mampu membuat kaum hawa berterbangan, tapi dari wajah tenangnya itu terdapat satu misteri yang ia simpan rapat-rapat.
KAMU SEDANG MEMBACA
LOLIPOP [END]
Novela Juvenil'Dari keinginan, berubah menjadi keposesifan. Dari keinsengan, berubah menjadi kebiasaan.' Sabila Anastasya - Acha, cewek yang mempunyai senyum manis, semanis lolipop itu. Menjadi siswi baru yang begitu onar di SMA Dharma. Tidak ada kejadian yang ti...
![LOLIPOP [END]](https://img.wattpad.com/cover/198894406-64-k94009.jpg)