LOLIPOP 09 ✔️

97 16 0
                                        

Pagi harinya, pukul setengah tujuh. Acha sudah memarkirkan mobilnya di depan rumah Sastria. Acha melihat Sastria dari dalam mobil sudah duduk manis di luar rumahnya sambil membaca komik. Acha yang merasa Sastria tidak menyadari kehadirannya, ia memencet klakson mobilnya. Acha melihat Sastria berjalan ke arahnya.

"Serius amat baca komiknya." Acha menjalankan mobilnya keluar lingkungan rumah Sastria.

"Nyetir aja, usah banyak bicara," ujar Sastria membalikan halaman berikutnya.

"Ck," decak Acha, "gue antukan lagi tu kepala baru tahu lo."

"Coba aja kalau berani, palingan gue cuekin lo lagi," ucap Sastria nggak mau kalah.

"Ih nyebelin lo." Acha menancapkan gas mobilnya dengan kuat, ia menyalip mobilnya dengan enteng sekali di jalanan. Sastria di sampingnya masih duduk dengan tenang tanpa panik sekalipun karena Acha yang membawa mobil ugal-ugalan.

***

Acha menelengkupkan kepalanya di atas meja, ia begitu bosan mendengar ocehan sang Guru di depan. Sudah suara pelan, dan tak henti-hentinya menerangkan materi yang sama sekali tidak ia pahami. Acha mengadu kesakitan di kepalanya, karena ia merasakan ada benda mengenai kepalanya. Acha melihat ke depan, Guru itu masih duduk dan menerangkan materi.

Acha melihat temannya satu per satu, ternyata pelakunya orang yang berada di sisi kanan Acha, dia seorang cowok. Acha masih belum tahu namanya siapa. Acha mengubah posisinya menghadap ke kanan, "Ada apa?" tanya Acha dengan suara pelan.

"Nanti ikut kami yuk," jawab cowok itu, menawarkan Acha untuk pergi bersama mereka pada saat jam istirahat.

"Kemana?" tanya Acha lagi. Ia tidak mau di ajak ke tempat yang mengerikan, karena ia juga harus berhati-hati dengan orang-orang di sini. Ia masih anak baru, tidak tahu mana yang baik dan mana yang buruk untuk di ajak berteman.

"Adalah, pasti nanti lo suka."

"Okedeh." Acha menyetujui tawaran cowok itu. semoga cowok itu baik kepadanya dan tidak membawanya ke tempat hal yang aneh-aneh.

"Sabila... Fahri..." Acha terkejut, ia melihat Guru itu sudah berdiri di kursinya.

"Kalau mau bicara, ke depan kalian berdua. Gantikan saya, sini buruan!" Acha melirik ke samping kanannya. Cowok yang berbicara dengannya tadi sama terkejutnya karena ketahuan mengobrol di dalam kelas.

"Oh itu bu, tadi Fahri minjam pulpen ke saya. Tapi saya bilang pulpen saya satu, jadi Fahri manggil temannya di depan, Bu. Tapi temannya nggak dengar," ujar Acha berbohong, agar ia tidak mendapatkan hukuman dari sang Guru.

Nggak apa deh bohong sekali-sekali, daripada malu nanti. Batin Acha.

Gila ni cewek pandai juga bohongnya, semoga tu Guru nggak curiga. Batin Fahri, ia masih melihat ke arah Acha.

"Benar itu, Fahri?" Fahri menganggukkan kepalanya.

"Ya sudah kalian berdua jangan mengobrol lagi, dengarkan saya menerangkan materi. Nanti pas ujian nggak dapat lagi kalian mengerjakannya." Dengan berat hati Acha mengubah posisinya menjadi tegap ke arah depan.

***

Seperti janji nya di kelas, Acha mengikuti cowok yang bernama Fahri itu ke area belakang sekolah dengan teman-temannya yang satu kelas juga dengan Acha. Di sana Acha masih bingung kenapa ke sini. Acha melihat dirinya lah sendiri cewek di sana, yang lainnya cowok.

"Pandai manjat nggak lo?" tanya Fahri kepada Acha. Acha terdiam, ia melihat tembok tinggi di depannya dengan mulut sedikit terbuka. Acha sebenarnya bisa-bisa saja manjat tembok itu, tetapi karena ia pakai rok, itu akan membuatnya kesusahan menginjak bebatuan lain nantinya.

"Gila lo, Ri, dia cewek. Lo lihat tu dia pakai rok, Bro. Manalah bisa," ucap Salah satu cowok di antara mereka.

"Yaudah. Jang, buka pintunya." Orang yang Fahri panggil dengan sebutan bujang itu, berjalan ke arah pintu yang sudah berkarat untuk di buka oleh nya. Tiga puluh detik menunggu pintu itu di buka oleh bujang yang sudah ahli membuka pintu andalan mereka untuk cabut.

Fahri mempersilahkan Acha untuk jalan duluan, Acha pun menyetujui nya. Sampai di luar, Acha menunggu yang lainnya keluar dari halaman sekolah.

"Yuk!" Fahri menarik tangan Acha untuk pergi ke sebuah warung yang ada di belakang sekolahan mereka.

Warung Bu Jami - namanya, warung yang sering di jadikan tempat anak-anak degil berkumpulan. Jika mereka bosan dengan pelajaran, mereka akan berlari ke sana. Dan tempat itu sampai sekarang belum di ketahui pihak sekolah, karena murid di SMA Dharma yang melihat mereka cabut, mereka tidak akan berani untuk melapor ke Guru. Salah satu alasanya adalah mereka takut berusaha dengan Fahri - si biang kerok kejahatan di SMA Dharma.

"Mau pesan apa, Cha?" tanya Fahri yang berdiri di depan Acha, untuk membantu Acha memesankan makanan di sana.

"Mi rebus aja." Fahri berjalan masuk ke dalam warung tersebut. Ia memesan makanan untuk Acha, dirinya, dan teman-temannya sekalian. Tanpa di tanya mau pesan apa ke teman-temannya akan pesan apa? Jawabannya tetap sama yaitu mi becek. Karena mi becek buatan Bu Jami yang paling the best di lidah mereka.

"Kalian sering ke sini?" tanya Acha memberanikan buka suara kepada mereka semua.

"Ya gitulah," jawab salah satu dari mereka.

Fahri datang dengan membawa pesanannya dan pesanan Acha. Pesanan untuk teman-temannya di bawa oleh Bu Jami dengan menggunakan nampan.

"Silakan makan," ucap Bu Jami mempersilakan mereka makan.

"Terimakasih, Bu Jami," ujar mereka dengan serentak, kecuali Acha. Bu Jami hanya tertawa kecil.

"Eh ada neng gelis, saha teh namanya?" tanya Bu Jami, menyadari ada anggota baru datang ke warungnya.

"Acha, Bu Jam," jawab Fahri menuangkan saus di mangko mi nya.

"Waduh cantik pisan, pasti Sara senang ini ada temannya di sini," ujar Bu Jami memuji Acha. Acha yang di puji itu hanya tersenyum ramah kepada Bu Jam. Ia bingung harus mengekpresikan seperti apa, karena ia masih baru di sana. Jika ia mengeluarkan sikap bar-barnya ia takut mereka akan memandang lain kepada Acha.

"Wih jelas dong. Kalau pilihan Fahri itu mah pasti tak akan salah, Bu Jam."

"Bisa ae kamu, Ri, Ri." Bu Jami memukul pelan bahu Fahri dan pergi dari sana. Acha tersenyum, ia merasa benar-bernar terhibur dengan candaan receh mereka-mereka. Sepertinya Acha akan nyaman berteman dengan mereka, dan berada di warung Bu Jami.

Acha yang lagi asyik menikmati mi rebus buatan Bu Jami yang tidak ada duanya itu, padahal itu hanyalah mi rebus yang sering di buat olehnya dan orang lain. Tapi entah mengapa rasanya berbeda sekali. Ini akan menjadi makanan favorit Acha yang ke tiga, dari lolipop dan es krim. Seorang cewek seperti nya dari siswi SMA Dharma juga, datang ke arah mereka dengan teriak-teriak nggak jelas di sebrang sana.

LOLIPOP [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang