Eksistensi Anggara sebagai Duta Sekolah SMA GARDA yang mampu mengalahkan famous-nya Ketua OSIS ternyata bisa menciptakan dua kubu yang saling bertolak belakang. Apalagi jika bukan Fans Garis Keras dan Haters yang Maha Benar.
Menjadi secret admirer A...
" Lo cewek yang cantik dan baik. Sikap lo berhasil buat gue penasaran. Gue juga suka dengan sikap lo yang berbeda dari cewek lainnya. Jadi...
Lo mau gak jadi temen gue? "
-Si duta sekolah
***
" Yakin lo mau bawa minuman ke dalam? "
Di sinilah Bani dan Hera berada. Di depan perpustakaan yang besarnya dua kali lipat dari ruang kelas. Jika bukan karena ada tugas mencari referensi membuat puisi oleh Pak Abu, mungkin Hera lebih memilih menghabiskan waktu istirahatnya di kantin.
" Yakinlah. Toh gue minumnya juga gak bakalan belepotan. Udah ah, masuk aja." Hera melangkah lebih dulu masuk ke dalam perpustakaan.
" Pagi menjelang siang, Kak! " Bani menyapa seorang wanita yang bertugas sebagai penjaga perpustakaan.
Liya, seperti itulah nama yang tertera di dada kiri seragamnya.
" Hai! Isi buku kunjungan dulu, ya! " Liya menyerahkan sebuah pulpen kepada Bani.
" Tolong tuliskan nama gue sekalian ya, Ban! "
" Huh, dasar! " cibir Bani yang tak didengar Hera.
Sengaja Hera tak menulis namanya sendiri. Sebab, bisa mati ketahuan ia jika membawa minuman ke dalam perpustakaan. Sembari menunggu Bani yang sedang menulis nama mereka di buku kunjungan, gadis itu mencari tempat duduk untuk mereka mengerjakan tugas nanti.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Langkah gontai membawanya ke meja yang berada di bagian paling pojok ruangan, lebih tepatnya tempat yang sulit di jangkau oleh penjaga perpustakaan. Sengaja Hera memilih meja itu agar ia bisa meminum teh botolnya dengan tenang.
Hera memutar tutup botol teh itu. Sedikit lagi bibir mungilnya menyentuh minuman itu namun sebuah suara bariton yang familiar menginterupsi kegiatannya.
" Apa peraturan dilarang minum di perpus masih berlaku? "
Bukan, itu bukan suara Bani.
Suara Bani tidak seberat itu.
Laki-laki itu mengambil tempat tepat di hadapan Hera dan langsung mengambil botol minuman yang ada di tangan gadis itu.
" Minum gue! "
Terlambat, botol itu sudah berpindah tangan.
" Ini perpus, bukan kantin," ucap laki-laki itu.
" Gue tau," jawab Hera ketus.
" Yang dibawa seharusnya buku, bukan minum ataupun makanan."
Hera memalingkan wajahnya. Menghindari tatapan tajam laki-laki yang masih setia menatapnya lekat.