Eksistensi Anggara sebagai Duta Sekolah SMA GARDA yang mampu mengalahkan famous-nya Ketua OSIS ternyata bisa menciptakan dua kubu yang saling bertolak belakang. Apalagi jika bukan Fans Garis Keras dan Haters yang Maha Benar.
Menjadi secret admirer A...
" Mau tahu persamaan kamu sama pohon pisang apa?Iya, sama-sama punya jantung tapi gak punya hati."
-Si penguntit
***
Jari-jari Bani bergerak tak tenang di atas meja. Menatap jam dinding di depan kelas dengan gusar. Setiap perpindahan jarum jam dari detik ke detik berikutnya tatapan mata dibalik kacamatanya tak pernah beralih sedetik pun dari pintu kelas. Menanti kedatangan seseorang yang tak biasanya datang sebelum dirinya tiba di kelas seperti ini.
Lima menit lagi, bel masuk berbunyi. Tandanya, semakin besar peluang orang yang ia tunggu datang terlambat.
Tak sabaran, Bani memilih bangkit dari duduknya. Berjalan keluar kelas, menunggu gadis berhazel cokelat yang ia khawatirkan itu di depan pintu.
" Ya Tuhan, Hera! Lo berhasil buat gue cemas! " seru cemas Bani saat Hera tiba diikuti Huda yang berdiri di belakang Hera.
Hera memaksakan senyum di bibir pucatnya.
" Hai, Ban!" sapa Hera.
Bani mengarahkan punggung tangannya ke dahi gadis itu. Kening Bani mengernyit heran. Gadis di depannya ini tak sakit. Suhu badannya normal saja. Hanya saja keringat dingin yang ada menyertai wajah pucat pasinya.
" Lo kenapa? " tanya khawatir Bani.
Hera hanya menggeleng pelan. Tersenyum seolah mengatakan bahwa ia baik-baik saja dan melenggang masuk ke dalam kelas. Meninggalkan Bani di depan pintu yang masih diliputi rasa bingung.
" Ban, " panggil Huda.
Atensi Bani sepenuhnya langsung terfokus pada Huda.
" Bisa ikut gue sebentar? Ada hal penting yang mau gue bicarakan. Tentang Hera."
***
Semilir angin menerpa wajah kedua laki-laki yang sekarang tengah menatap ramainya kegiatan yang dilakukan orang-orang di bawah sana. Menatap dengan pikiran yang masing-masing berkelana entah kemana.
Di sinilah Bani dan Huda berada. Di rooftop SMA GARDA yang hanya segelintir orang yang mengetahuinya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Huda duduk di lantai dengan posisi tubuh yang mengurung kedua lututnya. Tatapan laki-laki itu menerawang langit. Tak peduli dengan rambutnya yang berantakan karena tiupan angin yang menyapa.
Bani sendiri masih bertahan dalam diam. Menunggu sang saudara kembar dari gadis yang ia sukai itu untuk mengeluarkan suara yang entah kapan. Raga laki-laki berkacamata itu memang di sini, tapi percayalah jika pikirannya sekarang sedang fokus pada satu nama yang beberapa menit lalu berhasil membuatnya cemas.
" Hera diteror, "
Deg
Dua kata yang dilontarkan Huda sebagai pembuka obrolan mereka berhasil membuat Bani membolakkan mata. Sulit bagi Bani untuk percaya. Bagaimana bisa gadis sebaik Hera mendapatkan teror?