D U A P U L U H S E M B I L A N

425 35 0
                                        

Terkadang, semesta memang suka bercanda.

***

Huda menatap Hera yang berdiri tak jauh darinya. Ia dapat melihat dengan jelas jika tubuh adiknya itu sempat menegang saat Anggara meminta izin untuk berbicara dengannya. Selama beberapa detik baik Anggara maupun Huda sama-sama menunggu reaksi gadis itu. Namun tidak ada yang berubah. Gadis pemilik hazel cokelat itu tetap berdiri di dekat pintu dengan posisi tubuh membelakangi mereka, menoleh pun tidak.

" Gak bi- "

" Mau ngomong apa? " potong Hera membuat perkataan Huda yang belum tamat itu menguap begitu saja.

Huda menaikan sebelah alisnya, menukik. Menatap kembarannya dengan pandangan yang tak bisa diartikan.

" Lo yakin? " tanyanya yang dijawab anggukan ragu-ragu oleh Hera.

" Ya," ucapnya seiring dengan langkah kaki menjauhi daun pintu yang nyaris terbuka.

Huda menghela napas. Kali ini ia mengalihkan tatapannya. Berganti menjadi menatap Anggara yang tersenyum simpul.

" Jaga kata-kata lo. Jangan sampai bahas masalah teror," bisik Huda di telinga Anggara sebelum melangkah masuk ke dalam rumah meninggalkan mereka.

" Kalau gitu, gue masuk dulu." Huda masuk ke dalam rumah.

Saat ia melewati Hera, tangan kanannya ia sempatkan untuk mengacak gemas anak rambut gadis itu yang tak lagi rapi. Pintu rumah Huda tutup. Kini tinggal Anggara dan Hera yang berdiri kikuk di teras rumah.

" Jadi? " Anggara mengusap tengkuknya.

" Kita bicara, tapi gak disini," ujar Anggara.

" Maksudnya? " tanya Hera tak paham.

Tampaknya Hera telah salah mengambil keputusan untuk mengikuti kemauan Anggara yang ingin berbicara dengannya. Cukup dengan berdiri di dekat laki-laki itu saja sudah berhasil membuat penyakit jantungnya kembali kambuh. Berdebar, berdetak lebih cepat rasanya. Hatinya juga menghangat saat Anggara menyunggingkan senyum simpul kikuk padanya. Tak hanya sampai di situ, kontak fisik yang sang duta sekolah berikan secara tiba-tiba membuat pipinya memanas merah tomat.

Anggara menarik lembut pergelangan tangan Hera. Membawa gadis itu beranjak dari tempat mereka berdiri.

" Ikut gue! "

***

Semilir angin malam yang menerpa menghasilkan suara ranting yang bergesekan. Beberapa dedaunan kering beterbangan terbawa angin malam yang semakin berhembus kencang. Sinar rembulan tak cukup untuk menyinari gelapnya malam yang sebentar lagi akan basah karena rintik yang turun.

Laki-laki jangkung pemilik lesung di kedua pipinya itu menanggalkan jaketnya. Jaket itu ia gunakan untuk merengkuh bahu yang sedang kedinginan akibat angin malam.

" Jangan dilepas," ucap Anggara saat Hera memberikan respon yang ingin menolak.

Alhasil, Hera tak cukup mampu untuk menentang. Bibirnya terkatup rapat. Bukan tubuhnya saja yang menjadi hangat akibat jaket milik Anggara yang tersampir di bahunya, melainkan hatinya pun turut menghangat akibat perlakuan manis sang duta sekolah yang sekaligus merangkap sebagai objek teropong lima puluh meternya itu.

Keduanya melangkah pelan menyusuri taman komplek yang sunyi. Melawan angin malam yang semakin berhembus kencang meninggalkan jejak rasa dingin menusuk kulit. Belum ada yang memulai pembicaraan. Baik Anggara maupun Hera keduanya sama-sama sibuk menyelami pikiran masing-masing.

" Apa kabar, Ra? "

" Eh, baik," jawab Hera kikuk.

Anggara tersenyum simpul, " Baguslah."

Stalker Fifty Meter [Sudah Terbit]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang