L I M A B E L A S

453 39 0
                                        

" Suka sama temanmu, boleh? "

-Si penguntit

***

Waktu seakan berhenti berputar. Meski ada suara detak jam yang memecah keheningan, namun tetap saja tak ada perubahan yang terjadi di setiap perpindahan detik demi detiknya. Entah siapa yang mengunci dan dikunci, yang pastinya dua mata berbeda warna itu saling menatap dalam.

Kontak mata itu putus ketika salah satunya memutus sepihak. Tepatnya hazel cokelat yang menatap kaku mengalihkan pandangannya pada langit-langit ruangan yang entah kapan lebih terlihat menarik dan menenangkan daripada objek yang ada di depan mata. Tenang sesat namun tidak dengan jantung yang bertalu lebih cepat dari yang tercepat.

Hera menyembunyikan kotak bekal biru di belakang tubuhnya. Sayang, Anggara telah tahu apa yang disembunyikan gadis itu. Dengan langkah perlahan laki-laki itu berjalan mendekat diikuti mata hitam teduhnya yang masih menatap lurus gadis itu.

Aroma mint menyeruak masuk ke dalam indra penciuman Hera. Sekuat mungkin gadis bergigi gingsul itu menahan diri untuk tidak kembali menjatuhkan tatapannya pada laki-laki jangkung yang sekarang telah berdiri kurang dari satu meter di hadapannya. Aroma mint yang berasal dari tubuh jangkung Anggara bagaikan candu. Membuat siapapun betah untuk terus menerima baunya yang begitu nyaman untuk dihirup.

Kali ini gadis itu menahan napas. Hazel cokelatnya bahkan terpejam ketika dada bidang yang berbalut seragam nyaris membentur dahinya. Namun belum sempat hal itu terjadi, Anggara kembali memundurkan tubuhnya ketika telah mendapatkan sesuatu yang tersembunyi dibalik tubuh gadis yang hanya memiliki tinggi setinggi dadanya itu.

" Berharap gue cium? "

Seketika hazel coklat itu membolak. Siapa yang berharap dicium dan mencium heh?

Anggara tersenyum geli melihat ekspresi Hera yang tak terdifinisikan. Sekilas dapat ia lihat jika pipi tirus gadis itu memerah.

Eh, kenapa jadi memperhatikan wajah Hera?

Sudah cukup.

Dengan melihat ekspresi gadis itu saja sudah berhasil membuat Anggara nyaris melupakan barang yang ada di tangannya.

Menetralkan ekspresinya, Anggara berdeham. Sama seperti yang Anggara lakukan Hera pun menetralkan ekspresinya menjadi sedatar mungkin. Berusaha bersikap masa bodoh dengan apa yang baru saja terjadi. Ya, meski rasanya cukup sulit untuk meredam detak jantungnya yang masih berdisko ria.

" Jadi lo, cewek yang dimaksud Pak Otoh? "

" Maksudnya? " tanya Hera tak cukup paham.

" Lo yang ngasih sarapan gratis untuk Pak Otoh sama petugas kebersihan sekolah ini, " jawab Anggara.

" Jangan asal tebak! " elak Hera.

" Gue liat dengan mata kepala gue sendiri lo ngasih makanan ke Pak Otoh sama petugas kebersihan sekolah yang lain tadi, "

" Lo ngikutin gue? "

" Kebetulan gue datang pagi hari ini, " jawab santai Anggara yang entah mengapa justru terdengar menyebalkan di telinga Hera.

Hera memutar bola matanya jengah. Namun sepersekian detik berikutnya hazel cokelatnya membolak saat sadar jika kotak bekal birunya sudah berpindah tangan di Anggara.

Seketika Hera panik. Ralat, lebih tepatnya gadis itu merasa tak tenang. Takut jika Anggara akan mengetahui misi rahasianya yang satu itu.

Cukup rahasinya yang tadi diketahui Anggara. Tapi untuk kotak bekal biru itu, Hera belum siap jika harus terbongkar sekarang.

" Balikin bekal gue! "

Anggara mengangkat tangannya, membuat Hera harus melompat untuk mendapatkan kotak bekal birunya.

Anggara tak mempedulikan seruan Hera yang terus meminta kotak bekalnya kembali. Manik hitamnya kini lebih menatap fokus kotak bekal biru itu. Kotak bekal yang tak asing, kotak bekal yang nyaris sama seperti yang sering ada di laci mejanya.

" Yakin ini bekal lo? "

" Balikin punya gue! "

Sejenak ia menatap Hera, sepersekian detik berikutnya laki-laki itu keluar dari kelas itu. Berjalan cepat menuju kelasnya.

" Eh, mau kemana? " panik Hera ketika melihat Anggara pergi begitu saja.

Jujur, Hera benar-benar panik sekarang. Rasa panik dan takut membawanya melangkah mengikuti Anggara yang melangkah panjang menuju kelas XII IPS 1. Ia tahu apa yang ada dipikiran laki-laki itu. Sudah pasti sang duta sekolah akan mengecek kotak bekal biru yang ada di laci mejanya. Nyatanya, kotak bekal biru itu sekarang sudah ada di tangan yang punya meja.

" Angga? Tumben udah datang lo, " ucap Huda ketika Anggara tiba.

Anggara tak menanggapi sapaan Huda. Laki-laki itu fokus pada tujuannya. Yakni mengecek kotak bekal biru yang selalu ada di laci mejanya.

Huda menatap bingung ketika ada Hera yang juga ikut masuk ke dalam kelasnya. Gadis itu terlihat panik. Dari sorot matanya, ia dapat melihat jika hazel cokelat itu seolah berkata tolong gue!

Huda semakin paham ketika ekor mata Hera melirik kotak bekal biru yang sekarang tengah ada di tangan Anggara.

Di sisi lain Anggara tengah menundukkan kepalanya, mencari kotak bekal biru yang sekarang tak ia temukan di dalam laci mejanya.

" Nyari apa? " tanya Huda.

" Kotak bekal biru yang ada di laci meja gue. Lo liat? " tanya balik Anggara membuat dua kembar itu menelan salivanya susah payah.

" Enggak ada, " jawab Huda yang justru membuat Anggara tersenyum.

Anggara menatap Hera dalam. Tangannya mengangkat kotak bekal biru.

" Oke, berarti feeling gue bener. Kotak bekal biru punya lo adalah kotak bekal biru yang ada di laci meja gue, " simpul Anggara membuat degup jantung Hera semakin bertalu.

" Dan lo, adalah orang yang gue cari! "

***

Stalker Fifty Meter [Sudah Terbit]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang