" Titip dulu ya, 'kan cuma teman. Kalo minta lebih dari teman baru gue yang ngasih secara langsung."
-Si duta sekolah
***
" Terima gue jadi temen lo."
" Ha? "
" Iya, terima gue jadi temen lo."
" Bukannya sudah berteman? "
" Teman dekat. Seperti gue dan Huda. Seperti tetangga pada umumnya."
" Gue sulit beradaptasi dengan orang lain. "
" Gak masalah, gue bisa bantu lo. "
Anggara menyerahkan sebatang cokelat kepada Hera.
" Terima cokelat ini. Anggap aja sebagai awal pertemanan kita."
Setelahnya Anggara langsung berdiri. Tersenyum manis, senyum yang biasanya hanya ia perlihatkan kepada Anggia. Senyum yang tak semua orang bisa melihatnya.
" Gue balik. "
Hera menghela napas. Kejadian di perpustakaan siang tadi sangat mengganggu pikirannya yang sedang berusaha fokus pada Pak Galih yang tengah menjelaskan materi di depan sana. Beberapa kali Bani menyenggolnya agar ia sadar jika sekali saja Pak Galih melihatnya tak fokus maka siap-siap saja ia turun ke dalam kolam lele yang baunya luar biasa itu.
" Di dalam tumbuhan, glukosa dapat ditemukan pada daging buah, kelopak bunga, pucuk daun, tunas, akar, kulit buah, dan batang. Paham? "
" Ada yang ingin ditanyakan? "
Sebuah tangan terangkat di udara.Hera memutar bola matanya jengah saat tahu siapa pelakunya.
" Ya, Bani? "
" Apakah fruktosa bisa ditemukan pada tumbuhan juga, Pak? "
" Ya jelas bisalah! Fruktosa itu kan rasa asam yang terdapat pada buah. Ya kali buah bukan termasuk tumbuhan, " jawab Hera yang justru menarik senyum di bibir Pak Galih.
" Nah itu sudah dijawab oleh Hera. Bagaimana Bani? "
" Paham, Pak! "
Merasa penjelasannya sudah cukup dipahami, Pak Galih menyuruh mereka untuk membuka buku paket biologi halaman tujuh belas. Mengerjakan beberapa soal pilihan ganda dan essay untuk mengisi waktu setengah jam mereka sebelum bel pulang berdentang.
" Kerjakan, Ra. Cokelat mulu yang diliatin, " cibir Bani yang tak dipedulikan Hera.
" Daripada ngeliatin muka lo, bukannya goodmood eh malah badmood, " balas Hera.
" Banyak makan gula, Ra. Omongan lo pedes banget."
Hera menaruh cokelatnya di atas meja. Membuka buku tulisnya dan mulai mengerjakan soal yang ada di buku paketnya.
Be friend.
" Pelajaran biologi, Ra. Bukan Bahasa Inggris, " sindir Bani saat matanya tak sengaja melihat sebuah jawaban essay yang bertuliskan be friend di buku tulis gadis itu.
Hera menepuk dahinya. Sebegitu tidak fokusnya kah ia sampai tulisan yang ada di cokelat Anggara kemarin juga ia tulis di lembar jawabannya?
Benar-benar memalukan!
" Typo, Ban." kilah Hera seraya menghapus tulisan itu.
Bani berdecih.
" Typo- nya sampai beda bahasa gitu ya, Ra? "
***
Bel pulangan berdentang. Surganya anak sekolah yang dinanti-nanti akhirnya tiba juga.
Setelah guru mengucapkan salam penutup sebagai tanda mengakhiri pelajaran, Huda bersama teman-teman sekelasnya beranjak dari tempat duduk mereka masing-masing. Mengambil langkah, menyerbu pintu yang lebarnya tak seberapa itu.
" Yang piket bertahan woi! " seru Huda yang langsung mendapat desah kecewa dari mereka yang merasa piket di hari itu.
" Angga piket! "
Merasa terpanggil, sang empunya nama mengumpat di dalam hati.
" Oke fine! " Anggara kembali masuk ke dalam kelas. Tentunya hal itu berhasil membuat Huda tersenyum puas.
" Good boy! "
Ah, gagal sudah Anggara pulang cepat hari ini. Padahal ia ingin segera melesatkan motornya ke tempat Anggia. Berbagi cerita tentang hari ini yang telah membuat mood-nya meningkat.
Iya, meningkat. Apa lagi penyebabnya jika bukan adanya kotak bekal biru dan bertemunya ia dengan Hera di perpustakaan. Tapi, dari dua itu option kedua adalah hal yang paling membuat harinya berbeda.
Sepertinya ia harus mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Huda. Jika saja lelaki itu tidak memintanya untuk mengembalikan sebuah ensiklopedia di perputakaan, mungkin hari ini ia tidak akan bertemu bahkan berbicara dengan Hera.
" Thank's gan, " ucap Anggara kepada Huda setelah menyelesaikan kegiatan piketnya.
Kedua sohib itu berjalan santai keluar dari kelas.
" Untuk apa? " bingung Huda.
Anggara tersenyum lalu menggeleng.
" Bukan apa-apa."
" Heih, dasar! " kesal Huda yang justru ditanggapi kekehan oleh Anggara.
Mereka berjalan hingga berhenti tepat di dekat tangga. Tepatnya perbatasan antara jurusan IPA dan IPS kelas dua belas. Di sana sudah ada Hera dan Bani yang seperti biasa menunggu kedatangan Huda.
Kedatangan Huda bersama Anggara berhasil membuat gadis berhazel cokelat itu berdebar. Mata hitam pekat laki-laki berlesung pipi itu begitu teduh sehingga membuat Hera harus mati-matian menahan diri agar tidak semakin jatuh ke dalam pesona seorang Anggara. Alhasil, yang dilakukan gadis itu saat ini adalah memalingkan wajahnya yang merona, memilih menatap lapangan basket di bawah sana.
" Oh iya, Da." Anggara merogoh sesuatu di dalam tasnya.
Sebatang cokelat ia berikan kepada Huda.
" Gue titip, ya. Tolong kasih ke kembaran lo. Kasih tau dia, selama dia belum nerima gue jadi teman dekatnya, gue akan selalu ngasih dia coklat sampai dia bilang Yes, I will be your friend, " ucap Anggara yang berhasil membuat Huda dan Bani mengernyitkan kening tak paham.
Untuk apa Anggara menitipkan cokelat pada Huda sedangkan Hera sendiri tepat ada di depannya?
" Kenapa gak langsung dikasih ke Hera? " tanya Bani.
Lagi, Anggara tersenyum.
" 'Kan cuma teman. Kalo minta lebih dari teman baru gue yang ngasih secara langsung. "
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Stalker Fifty Meter [Sudah Terbit]
Teen FictionEksistensi Anggara sebagai Duta Sekolah SMA GARDA yang mampu mengalahkan famous-nya Ketua OSIS ternyata bisa menciptakan dua kubu yang saling bertolak belakang. Apalagi jika bukan Fans Garis Keras dan Haters yang Maha Benar. Menjadi secret admirer A...
![Stalker Fifty Meter [Sudah Terbit]](https://img.wattpad.com/cover/200393181-64-k991978.jpg)