part 30

79 3 0
                                    

Dikursi penonton juga sudah ramai ditempati oleh para supporter, bahkan diluar ring juga banyak yang sudah tidak sabar ingin menyaksikan pertarungan mereka.
“malam ini kita akan menampilkan petarung-petarung hebat, langsung saja kita panggil saja, FERO...” dengan penuh semangat wasit memanggil menggunakan pengeras suara. “dan penantangnya adalah JAROT...”
Tampak Fero dan Jarot sama-sama memasuki ring. Diluar gedung, rombongan Raga berbondong-bondong memasuki gedung. Tak henti-hentinya mereka menyerukan Raga. Jovan lalu mengantar Raga ke ruang ganti untuk berganti pakaian, sedangkan yang lain menempati kursi yang masih kosong diantara penonton, lalu Senja, Ica, dan Dinda duduk paling depan. Galang, Dion, dan Robby duduk dibelakang mereka bersama supporternya. Saat Jarot terkena pukulan keras dari Fero, Senja spontan menutup mata.
        Di kantor polisi, Akbar duduk dihadapan si pelaku yang sudah berhasil menipunya. Nama pelaku tersebut adalah Tommy.
“kamu pikir kamu bisa lari dari saya, iya, kemanapun kamu pergi saya tidak akan membiarkan kamu berkeliaran diluar sana, ngerti” bentak Akbar bangkit dari tempat duduk penuh dengan emosi.
Meskipun Akbar terkenal sosok yang kalem dan tidak pernah marah, tapi kali ini ia benar-benar mengeluarkan kemarahannya, ia sangat geram ketika melihat wajah Tommy seperti tidak berdosa. Tommy hanya menunduk tak mengeluarkan kata sedikitpun. Akbar mengeluarkan cek dari dompet dan mengisi nominal seharga mobil yang dijualnya kepada Tommy. Lalu ia duduk kembali sambil memberikan cek tersebut.
“tandatangani cek ini” perintahnya dengan nada sedikit rendah, tapi Tommy tetap bersikeras tidak mau menandatanganinya.
“TANDATANGANI...” Akbar membentaknya kembali.
“ada apa ini?” tanya polisi yang menghampiri mereka.
“ini pak, dia tidak mau menandatangani cek ini” jawab Akbar menahan emosi.
“apa anda mau dihukum selamanya di penjara?” tanya Polisi sedikit mengancam kepada Tommy.
Dengan berat hati, Tommy akhirnya menandatangani cek tersebut dan memberikannya kepada Akbar. Akbar lalu mengamati tandatangan itu dengan teliti, karena ia tidak mau tertipu lagi.
“awas kalau sampai kamu nipu saya lagi” ancam Akbar. “oia pak, makasih banyak ya sudah membantu saya” ucapnya sembari menyodorkan tangan untuk bersalaman.
“sama-sama pak” sahut polisi tersenyum sembari menyambut tangannya.
“kalau begitu saya permisi” Akbar berpamitan pergi.

Kita kembali lagi di pertarungan MMA. Fero dan Jarot saling memukul satu sama lain, namun akirnya Jarot terkapar tak berdaya akibat Fero menendang bagian perutnya.
“aduh kasian banget sih” ucap Senja ikut meringis karena terbawa suasana.
Diatas ring, wasit mengumumkan kalau pemenangnya adalah Fero dengan keras. Wasit mengangkat tinggi-tinggi tangan Fero dengan bersemangat, sementara Jarot dibawa oleh teamnya keluar dari ring.
“oke, untuk pertarungan yang selanjutnya, kita panggil saja dari club merah, Rico si macan kampus” seru wasit.
Sambil menyeringai sinis, Rico memasuki ring dengan bergaya melompat.
“kita juga akan menyambut kehadiran petarung hebat dari club biru, langsung saja kita panggil, Raga...”
Si wasit menjelaskan kepada mereka bahwa tidak boleh memukul bagian-bagian terlarang. Dengan membaca bismillah, Raga berjalan ingin memasuki ring.
“RAGAA...” panggil Senja sambil berdiri, ia memberikan gambar hati menggunakan kedua tangan sambil tersenyum manis.
Raga juga tersenyum menatapnya, sedangkan Jovan yang mengiringinya fokus melihat kearah depan. Diwaktu yang sama, teman-teman dan supporternya bersorak sorai menyemangati Raga. Senja mengepalkan kedua tangan dan mengangkatnya sebagai tanda agar Raga lebih semangat. Dengan santai Raga memasuki ring, namun sebelumnya Jovan membisikkan kalau Raga harus hati-hati, karena Rico pasti mengincar bagian lutut kaki dan tangan.
“iya” sahut Raga mengangguk.
Diatas ring, Raga dan Rico saling bertatapan. Didalam hati, Rico bertekad ingin menghabisinya didepan semua teman-temannya, ia juga tersenyum sinis menatap Raga.
“niat yang baik akan menghasilkan yang baik juga, tapi kalau niat kita buruk, maka kita juga akan menghasilkan hal yang buruk” batin Raga berkata.
“kita liat aja nanti siapa yang akan berhasil” sahut Rico didalam hati.
Mereka seolah-olah saling berbicara didalam hati.

Antara Senja dan RagaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang